KOLAKA, MITRANUSANTARA.ID – Salmi tidak menyangka sawah akan memanggilnya kembali dan kali ini dengan cara yang berbeda dari masa kecilnya.
Perempuan paruh baya itu pertama kali menyentuh lumpur sawah di era 1990-an, masa ketika pertanian masih menjadi tulang punggung kehidupan keluarganya di Kolaka. Tapi waktu bergerak, pekerjaan lain datang sebagai pendamping desa, dan sawah ditinggalkan. Tiga puluh dua tahun berlalu sebelum sebuah undangan sosialisasi pada September 2022 mengubah arahnya.
Sosialisasi itu digelar PT Vale Indonesia. Di sana, Salmi mendengar lagi tentang pertanian organik, sesuatu yang pernah sekilas ia pelajari dari seorang dosen Universitas Halu Oleo tentang sayuran organik yang lebih sehat. Pengalamannya bermitra dengan Balai POM soal keamanan pangan dalam budidaya, pengolahan, dan penyimpanan ikut menyalakan rasa ingin tahu yang sudah lama tersimpan.
Ia memilih bergabung. Keputusan itu, tiga tahun kemudian, mengubah bukan hanya cara ia bertani, tetapi cara ia memandang tanah, tubuh, dan hidupnya sendiri.
Bukan Sekadar Pelatihan “Ini Sains”
Salmi bergabung dengan Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) PT Vale di Kabupaten Kolaka, yang kini berjalan di empat desa binaan: Desa Puubunga, Desa Puuroda, dan Desa Puulemo di Kecamatan Baula, serta Desa Lemedai di Kecamatan Tanggetada.
Sejak 2022, ia sudah tiga kali memanen padi dari lahan seluas 37 are. Sekali panen menghasilkan sekitar 1,1 ton gabah. Pernah gagal panen di awal. Tapi ia bertahan dan apa yang membuatnya bertahan bukan sekadar hasil panen. Yang ia temukan jauh lebih dari itu.
“Ilmu yang kami dapatkan bukan sekadar materi seperti pelatihan-pelatihan yang sudah sering kami ikuti. Ini lebih seperti sains,” katanya, Senin (29/6/2026). “Kami belajar ekologi tanah, jenis hewan apa saja yang dapat mengurai tanah dan itu kami lakukan dengan praktik langsung. Kami melihat perkembangan tumbuh tanaman. Bahkan mempelajari apakah anakan padi keluar siang hari atau malam hari.”
Pengetahuan tentang herbal pun ikut memperluas cara pandangnya. “Untuk herbal, baik tanaman yang dibudidayakan maupun rumput-rumput liar, kami mempelajari kandungan apa yang terdapat di dalamnya. Dan sebagian sudah kami konsumsi sendiri. Manfaatnya banyak, tidak bisa terhitung.”
Pupuk kini tidak lagi ia beli. Bahan-bahannya tersedia di sekitar. Sekam padi, sisa tanaman, material organik yang dulu dianggap limbah.
“Bertani dengan padi organik lebih murah karena bahan pendukung seperti pupuk sudah tersedia di sekitar,” ungkapnya, “hanya saja membutuhkan ekstra tenaga untuk mengumpulkannya.”
Beras Rp 24.000 yang Selalu Kehabisan
Hasil panen Salmi dijual dengan harga Rp 24.000 per kilogram, hampir dua kali lipat harga beras konvensional di pasaran. Di tingkat nasional, beras organik memang dipatok jauh lebih tinggi, bisa mencapai Rp 25.000 hingga Rp 40.000 per kilogram, sementara beras biasa berkisar Rp 12.000 hingga Rp 15.000. Salmi berada tepat di kisaran kompetitif pasar, bukan di bawahnya.
Sayuran organik dari lahannya juga sudah rutin terjual untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi yang paling membuatnya gelisah bukan soal harga, melainkan stok yang tak pernah cukup.
“Masih banyak warga yang mau tapi stok habis,” ujarnya.
Permintaan terus datang, produksi belum bisa mengimbangi. Karena itu ia kini mengupayakan pengembangan produksi pupuk organik secara lebih serius, karena pupuk buatannya pun sudah mulai diminati warga lain yang ingin bertani organik.
Salmi sedang menunggu. Saluran irigasi di lahannya tengah diperbaiki, dan musim tanam berikutnya diperkirakan baru dimulai Juli atau Agustus. Tapi ia sudah tahu persis apa yang akan ia lakukan begitu air mengalir kembali.
Panen yang Paling Berharga
Di antara semua yang ia peroleh yakni, ilmu, penghasilan, jaringan sesama petani, ada satu hal yang tidak ia duga datang dari sepetak sawah organik.
Salmi mengidap gangguan jantung dan infeksi saluran kemih. Kondisi itu sudah lama ia tanggung. Tapi sejak ia mulai mengonsumsi herbal, beras, dan sayuran dari lahannya sendiri, ia merasakan perubahan yang ia sebut sebagai “kesyukuran.”
“Saya sudah rasakan dan buktikan sendiri dengan mengonsumsi makanan organik seperti beras dan sayur organik sangat membantu proses penyembuhan penyakit yang saya alami,” katanya.
Bagi Salmi, program ini bukan tentang subsidi atau bantuan. Ia menyebutnya dengan kalimat yang sederhana tapi tepat: PT Vale memberikan pancing, bukan ikan. “Sehingga kami bisa mandiri,” katanya.
Ketika Tentara Belajar Bertani
Salmi bukan satu-satunya yang menemukan sesuatu yang tak terduga di program ini. Sebanyak 30 prajurit Batalyon Infanteri 869 Taawu, Selasa (14/7/2026) mengikuti pelatihan PSRLB yang sama di Kolaka. Lima hari intensif dan sebagian besar dari mereka memulai tanpa latar belakang pertanian sama sekali.
Konsultan pertanian organik dari Aliksa Organik SRI Consultant, Koko Komamin, menjelaskan bahwa pelatihan diawali dengan mengubah cara pandang peserta terhadap praktik pertanian modern yang selama ini bergantung pada pupuk kimia dan pestisida sintetis.
“Kami mencoba membongkar kebekuan pikiran para prajurit agar beralih ke konsep ekologi tanah. Mereka diajak memahami secara mendalam sifat fisik, biologi, dan kimia tanah. Dengan mengoptimalkan bahan organik di dalam tanah, nutrisi tanaman sebenarnya sudah tersedia secara mandiri,” ujar Koko.
Senior Coordinator External Relations PT Vale IGP Pomalaa, Charles Cristian, menggambarkan kolaborasi ini sebagai langkah yang melampaui batas tugas biasa.
“Jika selama ini urusan utama mereka identik dengan persenjataan, melalui pelatihan PSRLB ini kita bersama-sama mengalihkan energi untuk memperkuat ketahanan pangan dan kedaulatan pangan bangsa,” katanya.
Bekal yang diperoleh para prajurit tidak hanya untuk diterapkan di lingkungan kesatuan, tetapi juga menjadi modal ketika mereka bertugas di wilayah lain di Indonesia.
Generasi yang Ditanam Lebih Awal
Di Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka, berdiri Nursery Tanggetada, pusat persemaian yang dikelola PT Vale sebagai bagian dari program rehabilitasi lingkungan di kawasan IGP Pomalaa.
Pada 30 Juni 2026, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, puluhan siswa SMA Negeri 1 Pomalaa mengunjungi fasilitas ini. Mereka menyaksikan seluruh proses pembibitan tanaman, dari persemaian awal, teknik stek, pemindahan bibit ke polybag, hingga tanaman yang siap ditanam kembali di kawasan rehabilitasi. Di akhir kunjungan, mereka ikut menanam pohon sendiri.
Ketua OSIS SMA Negeri 1 Pomalaa, Davi Qhirand Best Ferdi, menyimpan kesan yang melampaui pelajaran kelas.
“Harapan kami ke depan, PT Vale terus memberikan dampak terbaik dan konsisten menghidupkan kembali hutan-hutan Indonesia yang mulai terbuka melalui penanaman bibit baru. Bagaimanapun, Indonesia adalah bagian penting dari paru-paru dunia,” katanya.
Senior Permit & Compliances Analyst PT Vale, Emyliana Manurun, menegaskan bahwa Nursery Tanggetada adalah bukti bahwa pertambangan tidak harus identik dengan kerusakan.
“Kami ingin mengedukasi generasi muda bahwa perusahaan tambang memiliki komitmen kuat dalam menjaga kelestarian alam melalui praktik green mining. Pertambangan tidak selalu merusak, kami aktif memelihara lingkungan lewat pembibitan berkapasitas besar ini,” ujarnya.
Nilai Tambah yang Tidak Tercetak di Laporan Keuangan
Di sisi lain Kolaka, mesin-mesin besar sedang bekerja tanpa henti. PT Vale sedang membangun Indonesia Growth Project Pomalaa, proyek senilai sekitar US$ 4,5 miliar yang akan mengolah bijih nikel menjadi material bernilai tinggi untuk rantai pasok baterai kendaraan listrik global. Konstruksinya sudah melampaui 65 persen, dan penjualan perdana bijih nikel dari kawasan ini telah terjadi pada Februari 2026.
Manager External Relations IGP Pomalaa, Hasmir, menegaskan bahwa komitmen ramah lingkungan bukan hanya berlaku di area tambang.
“PT Vale ingin memberikan edukasi publik bahwa hilirisasi nikel di blok Pomalaa dilakukan dengan standar operasional yang bertanggung jawab, memastikan industri tetap berjalan beriringan dengan kelestarian alam sejak fase konstruksi hingga operasional nanti,” katanya.
Nilai tambah dari hilirisasi memang bisa dihitung dalam ton Mixed Hydroxide Precipitate dan miliar dolar investasi. Tapi ada nilai tambah lain yang tidak muncul di laporan keuangan mana pun, ketika seorang ibu dua anak di Kolaka bisa makan dari lahannya sendiri dan merasakan tubuhnya berangsur pulih. Ketika 30 prajurit TNI pulang membawa ilmu ekologi tanah. Ketika pelajar SMA yang tadinya hanya tahu pertambangan dari berita, pulang membawa bibit pohon di tangannya.
Itulah sebabnya Salmi memilih kalimat yang ia pilih untuk menggambarkan semua ini.
PT Vale memberikan pancing, bukan ikan. Sehingga mereka bisa mandiri.
Penulis: Sumarlin



