DEPOK, MITRANUSANTARA.ID – Persoalan kesejahteraan, keselamatan kerja, perlindungan tenaga kerja hingga daya saing global menjadi perhatian dalam Dialog Interaktif bertajuk “Membangun Masa Depan Pekerja dan Pelaut Perikanan Indonesia” yang digelar Kesatuan Pekerja dan Pelaut Perikanan Indonesia (KP3I), bersama Korps alumni AUP-STP Korda Depok, Selasa (25/8/2026).
Dialog yang terselenggara secara Daring dan Luring ini, berlangsung di Sekretariat korps Alumni AUP-STP Korda Depok, Jalan Margonda Raya Nomor 535, Pondok Cina, Depok, Jawa Barat, tersebut mempertemukan unsur pekerja, pelaut, nelayan, akademisi, organisasi dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap masa depan sektor kelautan dan perikanan.
Ketua Korps alumni AUP-STP Korda Depok, Zabidi, S.ST.Pi yang bertindak sebagai keynote speaker, dalam sambutannya menegaskan bahwa meskipun Depok bukan wilayah pesisir, kota tersebut tetap memiliki keterkaitan dengan persoalan maritim Indonesia.
Menurut Zabidi, Depok dapat menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan, termasuk suara pekerja dan pelaut dari daerah dengan para pemikir, akademisi, aktivis serta pemangku kebijakan yang berada di sekitar pusat pemerintahan.
“Depok mungkin dikenal sebagai kota pendidikan dan penyangga ibu kota. Jauh dari pantai. Tapi izinkan saya mengatakan: Depok bukanlah lautan, tetapi denyut nadi maritim Indonesia berdetak juga di sini,” kata Zabidi dalam sambutannya.
Ia mengatakan, posisi Korda Depok tidak semata-mata menjadi tuan rumah kegiatan seremonial. Lebih dari itu, pihaknya ingin mengambil peran sebagai penghubung antara persoalan yang dihadapi pekerja di lapangan dengan ruang kebijakan.
“Sebagai tuan rumah, saya tidak hanya berbangga, tetapi juga merasa terpanggil. Saya tidak hanya menjadi pembawa acara seremonial, tetapi menjadi jembatan antara suara kalian di atas kapal dengan meja-meja kebijakan di Jakarta,” ujarnya.
Zabidi menggambarkan dialog tersebut sebagai “rapat keluarga besar maritim”, karena persoalan yang dibicarakan menyentuh kehidupan banyak keluarga yang menggantungkan penghidupan pada laut dan sektor perikanan.
Ia menyoroti persoalan kesejahteraan pekerja, hasil tangkapan nelayan yang tidak selalu mencukupi hingga kekhawatiran keluarga terhadap anggota keluarga yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK), khususnya mereka yang bekerja di luar negeri.
“Di sinilah, di ruang ini, kita buka semua itu dengan jujur dan tanpa tabu,” tegasnya.
Menurut Zabidi, forum dialog harus memberikan ruang yang luas bagi peserta untuk menyampaikan kritik, saran maupun persoalan yang selama ini dihadapi.
Sebagai Ketua Korda Depok, ia juga menyatakan keterbukaan untuk menerima berbagai masukan dari para pekerja, pelaut, nelayan maupun pihak lain yang terlibat dalam sektor kelautan dan perikanan.
Tiga Komitmen Korda Depok
Dalam sambutannya, Zabidi menyampaikan setidaknya tiga hal yang menjadi penekanan Korda Depok dalam pelaksanaan dialog tersebut.
Pertama, Korda Depok tidak ingin berhenti pada kegiatan diskusi. Ia menyatakan bahwa berbagai masukan yang muncul dalam forum akan difasilitasi menjadi dokumen rekomendasi untuk disampaikan kepada lembaga dan kementerian terkait.
“Kami di Depok tidak hanya mendengar, kami bergerak. Kami akan fasilitasi semua masukan hari ini menjadi dokumen rekomendasi yang akan kami kirimkan ke DPR, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Ketenagakerjaan,” katanya.
Kedua, Korda Depok berkomitmen menciptakan ruang dialog yang aman dan terbuka. Menurut Zabidi, tidak boleh ada pertanyaan maupun suara pekerja yang sengaja dikesampingkan dalam pembahasan mengenai masa depan mereka.
“Tidak ada pertanyaan yang dilarang. Tidak ada suara yang dipinggirkan. Karena kami ingin solusi lahir dari kerendahan hati, bukan dari kekuasaan,” ujarnya.
Ketiga, ia mengajak peserta tidak berhenti pada forum dialog, tetapi membawa hasil pembahasan ke lingkungan masing-masing, baik serikat pekerja, koperasi maupun komunitas kapal.
Menurutnya, perubahan dalam skala nasional dapat dimulai dari konsolidasi kecil yang dilakukan secara konsisten.
Perlindungan ABK Jadi Perhatian
Salah satu bagian paling kuat dalam sambutan Zabidi adalah sorotannya terhadap perlindungan pekerja yang bekerja sebagai ABK, termasuk mereka yang merantau ke luar negeri.
Ia menceritakan pengalaman ketika seorang pelaut asal Sulawesi pernah menyampaikan kekhawatirannya mengenai keselamatan dan keberadaan dirinya ketika bekerja di laut.
“Pak, saya takut mati di laut karena tak ada yang ingat nama saya,” kata Zabidi mengutip pernyataan pelaut tersebut.
Bagi Zabidi, pengalaman tersebut menggambarkan bahwa persoalan pekerja laut tidak hanya berkaitan dengan upah dan pekerjaan, tetapi juga menyangkut jaminan keselamatan, perlindungan hukum, pengakuan serta kepastian masa depan.
“Nama kalian akan diingat. Perjuangan kalian akan dicatat. Dan masa depan kalian akan kita perjuangkan bersama—bukan hari ini saja, tapi seterusnya,” tegasnya.
Delapan Isu Strategis
Sejalan hak tersebut, Ketua Korda Depok, juga mengangkat sejumlah isu strategis yang berkaitan langsung dengan masa depan pekerja dan pelaut perikanan Indonesia.
Isu pertama adalah kesejahteraan pelaut dan pekerja perikanan. Kedua, perlindungan dan keselamatan kerja. Ketiga, peningkatan profesionalisme dan sertifikasi.
Selanjutnya, forum membahas transformasi digital dan teknologi maritim, regenerasi pelaut dan pekerja perikanan, peningkatan daya saing di tingkat global, keberlanjutan sumber daya kelautan dan perikanan, serta penguatan posisi pelaut dan pekerja perikanan sebagai pilar ekonomi biru.
Zabidi pun mengajak seluruh peserta menjadikan forum tersebut sebagai awal dari gerakan bersama.
“Mari kita buktikan bahwa dari ruang dialog yang sederhana ini, bisa lahir kebijakan yang mengubah nasib jutaan pekerja laut Indonesia,” katanya.
Ia menutup sambutannya dengan ajakan kepada seluruh peserta untuk menyampaikan persoalan secara terbuka dan menjadikan dialog sebagai ruang bersama untuk membangun masa depan pekerja dan pelaut perikanan Indonesia.
“Silakan bicara, silakan debat, silakan bermimpi ulang—karena di sini, di rumah ini, semua suara adalah raja,” pungkasnya.
Sementara itu, KP3I yang menghadirkan Sekjennya, M.Husni, APi., ATT III, dalam pengantar dialog menegaskan pentingnya pembahasan tersebut dilakukan secara bersama-sama.
“Yang pertama adalah masalah kesejahteraan pelaut dan pekerja perikanan. Yang kedua perlindungan dan keselamatan kerja,” ujarnya.
Pembahasan kemudian diarahkan pada profesionalisme dan sertifikasi, transformasi digital dan teknologi maritim, hingga pentingnya menyiapkan generasi baru pekerja dan pelaut yang memiliki daya saing global.
Sementara itu, ketua KP3I, Moh. Sumardi, S.Pi.,M.T menyampaikan bahwa persoalan regenerasi menjadi penting karena industri kelautan dan perikanan terus mengalami perubahan.
“Tenaga kerja masa depan dituntut tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memahami teknologi serta memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan,” ujarnya.
Sumardi juga menempatkan keberlanjutan sumber daya kelautan dan perikanan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masa depan pekerja.
“Bagi pekerja dan pelaut yang menggantungkan kehidupan pada laut, keberlanjutan sumber daya merupakan persoalan ekonomi sekaligus persoalan kehidupan,” imbuhnya.
Karena itu, pembangunan sektor kelautan dan perikanan perlu berjalan bersama dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, perlindungan pekerja dan pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.
“Dalam kerangka ekonomi biru, pelaut dan pekerja perikanan dipandang memiliki posisi strategis karena menjadi bagian langsung dari aktivitas ekonomi kelautan,” tutup Sumardi.
Dengan berbagai persoalan yang dibahas, forum tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan diskusi.
Komitmen Korda Depok untuk menyusun masukan menjadi dokumen rekomendasi menjadi salah satu poin penting yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Jika proses tersebut berjalan sesuai komitmen yang disampaikan, hasil dialog dapat menjadi bahan bagi pemangku kepentingan untuk melihat secara lebih dekat berbagai persoalan yang dihadapi pelaut, nelayan dan pekerja perikanan.



