Oleh: Dr Muhamad Ariston, S.St.Pi, M.Si
(Angkatan 34 Alumni STP tahun 2002)
JAKARTA – Perjalanan sebuah institusi pendidikan tidak hanya diukur dari usia dan pergantian nama. Ia dibangun oleh semangat pengabdian, tradisi akademik, serta ikatan silaturahmi yang terjaga lintas generasi. Begitu pula dengan perjalanan panjang Akademi Usaha Perikanan (AUP) yang telah mengabdikan dirinya selama lebih dari enam dekade dalam mencetak sumber daya manusia unggul di sektor kelautan dan perikanan Indonesia.
Sejarah mencatat, Akademi Usaha Perikanan (AUP) didirikan pada 7 September 1962. Kehadirannya menjadi tonggak penting dalam pembangunan pendidikan vokasi kelautan dan perikanan di Indonesia. Sejak awal, AUP dirancang untuk mencetak tenaga profesional yang mampu menjawab kebutuhan pembangunan sektor perikanan nasional.
Dalam perjalanannya, AUP tidak hanya menjadi sebuah kampus, tetapi juga rumah bagi ribuan alumni yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Mereka mengabdikan diri sebagai birokrat, akademisi, pelaku usaha, peneliti, hingga pemimpin di berbagai sektor strategis kelautan dan perikanan.
Transformasi kelembagaan pertama terjadi pada 6 Mei 1983, ketika AUP berubah menjadi Pendidikan dan Latihan Ahli Usaha Perikanan (Diklat AUP). Pada fase inilah Angkatan XXII tercatat sebagai angkatan terakhir yang menempuh pendidikan pada era Akademi Usaha Perikanan sebelum memasuki babak baru sebagai Diklat AUP.
Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 6 Maret 1993, institusi ini kembali mengalami peningkatan status menjadi Sekolah Tinggi Perikanan (STP). Perubahan tersebut menjadi momentum penting dalam penguatan pendidikan tinggi vokasi di bidang kelautan dan perikanan.
Nama Sekolah Tinggi Perikanan kemudian begitu melekat di hati para alumninya. STP dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi kedinasan yang memiliki disiplin pendidikan tinggi, kultur kepemimpinan yang kuat, serta melahirkan banyak insan perikanan yang berkiprah di tingkat nasional maupun internasional.
Seiring perkembangan zaman dan tuntutan industri maritim global, transformasi kelembagaan kembali dilakukan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 45 Tahun 2019, Sekolah Tinggi Perikanan resmi bertransformasi menjadi Politeknik Ahli Usaha Perikanan (Poltek AUP) pada tahun 2020.
Pergantian nomenklatur tersebut bukan sekadar perubahan administratif. Poltek AUP hadir dengan paradigma pendidikan vokasi yang lebih adaptif, berbasis kompetensi, teknologi, dan kebutuhan industri kelautan serta perikanan modern. Transformasi ini juga menjadi bagian dari implementasi kebijakan ekonomi biru yang terus dikembangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Namun, perjalanan panjang AUP ternyata belum berhenti. Kementerian Kelautan dan Perikanan tengah menyiapkan transformasi yang lebih besar dan strategis, yakni pembentukan Ocean Institute of Indonesia (OII).
Ocean Institute of Indonesia merupakan hasil transformasi dan peleburan 11 satuan pendidikan tinggi milik Kementerian Kelautan dan Perikanan menjadi satu institusi pendidikan tinggi vokasi maritim yang terintegrasi. Penetapan tersebut telah disahkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 50 Tahun 2026.
Dalam desain besarnya, kampus utama Ocean Institute of Indonesia akan berpusat di Kampus Politeknik Ahli Usaha Perikanan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kehadiran OII diharapkan mampu melahirkan standar mutu pendidikan maritim Indonesia yang bertaraf internasional.
Berbeda dengan pendekatan pendidikan sebelumnya yang lebih berorientasi kewilayahan, Ocean Institute of Indonesia akan mengembangkan kepakaran berbasis ekonomi biru (blue economy). Dengan demikian, pengembangan keilmuan, riset, inovasi, dan kompetensi lulusannya akan difokuskan pada berbagai sektor strategis kemaritiman Indonesia, mulai dari perikanan tangkap, akuakultur, teknologi kelautan, konservasi laut, pengelolaan pesisir, hingga industri maritim masa depan.
Transformasi ini menjadi jawaban atas kebutuhan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang membutuhkan institusi pendidikan maritim berkelas global. Ocean Institute of Indonesia diproyeksikan tidak hanya menjadi pusat pendidikan vokasi, tetapi juga pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi kelautan Indonesia.
Meski nama dan bentuk kelembagaannya terus berkembang mengikuti tantangan zaman, terdapat satu hal yang tidak pernah berubah, yakni nilai silaturahmi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dari AUP, Diklat AUP, STP, hingga Poltek AUP, terdapat benang merah yang mengikat seluruh alumninya: semangat pengabdian bagi bangsa melalui sektor kelautan dan perikanan.
Karena itu, transformasi menuju Ocean Institute of Indonesia bukanlah tentang meninggalkan sejarah, melainkan merawat dan melanjutkannya. Jejak yang telah ditorehkan oleh para pendahulu menjadi fondasi penting bagi generasi berikutnya untuk melangkah lebih jauh.
Menata jejak berarti menghormati sejarah. Mengawal silaturahmi berarti menjaga warisan nilai yang telah dibangun selama lebih dari enam puluh tahun. Sebab pada akhirnya, sebuah institusi besar tidak hanya dibangun oleh gedung dan regulasi, tetapi oleh orang-orang yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan pengabdian.
Dari Akademi Usaha Perikanan yang lahir pada 1962, bertransformasi menjadi Diklat AUP, kemudian Sekolah Tinggi Perikanan, Politeknik Ahli Usaha Perikanan, hingga kini bersiap menjadi Ocean Institute of Indonesia, satu hal yang tetap sama: dedikasi untuk melahirkan insan maritim Indonesia yang unggul dan berdaya saing global.
Perubahan nama hanyalah penanda zaman. Sementara nilai, sejarah, dan silaturahmi adalah warisan yang akan terus hidup, mengarungi samudra masa depan Indonesia.



