Penulis : Redaksi

Oleh: Novrizal R Topa

(Purna Anggota Dewan Kerja Cabang Pramuka Muna)

Dari Jambore Nasional Pertama hingga Jamnas XII 2026

JAKARTA, MITRANUSANTARA.ID – Ada tempat yang mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang, tetapi menyimpan jejak panjang perjalanan bangsa. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta dan kawasan penyangganya, kawasan Cibubur berdiri sebagai salah satu ruang yang telah mempertemukan anak-anak Indonesia selama lebih dari setengah abad.

Tempat itu adalah Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Pramuka Cibubur.

Di hamparan kawasan inilah ribuan, bahkan puluhan ribu anak muda dari berbagai penjuru Nusantara pernah mendirikan tenda, mengibarkan bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, mengikuti permainan, belajar keterampilan, berdiskusi, berkompetisi, dan yang paling penting: belajar hidup bersama.

Hari-hari ini, sejarah itu kembali berulang.

Jambore Nasional XII Gerakan Pramuka Tahun 2026 berlangsung di Buperta Cibubur pada 13–20 Agustus 2026. Ribuan Pramuka Penggalang dari berbagai daerah kembali berkumpul di tempat yang sejak puluhan tahun lalu telah menjadi salah satu panggung penting pendidikan karakter bangsa.

Namun, Jamnas XII bukan sekadar agenda kepramukaan.

Ia adalah pengingat bahwa ada nilai-nilai kebangsaan yang hanya benar-benar dapat dipahami ketika seseorang mengalaminya secara langsung.

Dari Situbaru, Sebuah Tradisi Dimulai

Kisah besar itu bermula pada 16 April 1973.

Saat itu, Jambore Nasional pertama Gerakan Pramuka diselenggarakan di kawasan Situbaru, Cibubur. Sekitar 12.000 Pramuka Penggalang dari berbagai wilayah Indonesia hadir.

Tidak berhenti di situ.

Jambore tersebut juga mempertemukan peserta dan perwakilan dari sejumlah negara lain, antara lain Australia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Filipina dan Pakistan.

Cibubur pun perlahan menemukan identitasnya.

Bukan sekadar bumi perkemahan.

Ia menjadi ruang perjumpaan.

Ruang di mana anak-anak Indonesia yang sebelumnya mungkin tidak pernah saling mengenal dapat duduk dalam satu lingkaran, tidur di bawah langit yang sama, makan bersama, bekerja sama dan saling mengenal.

Baca Juga  Ilusi Politik di Balik Polemik Ketua DPRD Sultra

Di sinilah sesungguhnya makna Indonesia dipraktikkan dalam bentuk yang paling sederhana.

Bukan melalui pidato panjang.

Tetapi melalui kebersamaan.

Lebih dari Setengah Abad Menjadi Saksi

Setelah Jambore Nasional pertama, Cibubur terus menjadi bagian penting dari sejarah Gerakan Pramuka.

Berbagai Jambore Nasional digelar di kawasan ini. Bahkan pada Jambore Nasional III tahun 1981, Cibubur dipercaya menjadi lokasi penyelenggaraan bersamaan dengan Jambore Asia-Pacific ke-6.

Jambore Nasional IV berlangsung pada 1986.

Jambore Nasional V pada 1991.

Jambore Nasional VI pada 1996.

Setelah jeda panjang, tradisi itu kembali melalui Jambore Nasional XI pada 2022.

Dan kini, pada Agustus 2026, Cibubur kembali dipenuhi tenda, seragam Pramuka, bendera daerah, aktivitas kepemudaan dan wajah-wajah baru generasi Indonesia melalui Jamnas XII.

Jika tenda-tenda itu dapat berbicara, mungkin akan ada jutaan cerita yang bisa dituturkan.

Tentang persahabatan.

Tentang keberanian.

Tentang kegagalan dan kemenangan.

Tentang anak dari pelosok yang untuk pertama kalinya bertemu dengan anak dari kota besar.

Tentang perbedaan yang justru menjadi alasan untuk saling mengenal.

Indonesia dalam Satu Bumi Perkemahan

Ada sesuatu yang khas dari Jambore Nasional.

Seorang anak dari Papua dapat berada dalam satu kelompok kegiatan dengan anak dari Jawa.

Anak dari Sulawesi dapat bersahabat dengan anak dari Sumatera.

Anak dari Kalimantan dapat bertukar cerita dengan anak dari Nusa Tenggara.

Mereka mungkin memiliki bahasa daerah yang berbeda.

Tradisi yang berbeda.

Makanan yang berbeda.

Cara berbicara yang berbeda.

Tetapi ketika bendera Merah Putih dikibarkan, mereka berdiri di tempat yang sama.

Ketika Indonesia Raya dinyanyikan, suara mereka menyatu.

Inilah salah satu kekuatan terbesar pendidikan kepramukaan.

Persatuan tidak hanya diajarkan. Persatuan dialami.

Dan Cibubur telah menjadi salah satu tempat di mana pengalaman itu diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca Juga  Menata Jejak AUP/STP Ketika Bertransformasi Menjadi OII Untuk Masa Depan Perikanan dan Kelautan Indonesia

Dari Tenda, Mereka Belajar Kehidupan

Jambore pada hakikatnya bukan sekadar kegiatan mendirikan tenda.

Di sana anak-anak belajar mengatur diri.

Belajar disiplin.

Belajar bertanggung jawab.

Belajar bekerja dalam kelompok.

Belajar mengambil keputusan.

Belajar menghargai perbedaan.

Belajar memimpin sekaligus belajar dipimpin.

Mereka juga belajar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan.

Tenda dapat basah ketika hujan.

Makanan tidak selalu sesuai selera.

Teman satu regu bisa berbeda pendapat.

Kegiatan bisa melelahkan.

Tetapi semua itu justru menjadi bagian dari proses pendidikan.

Sebab karakter tidak lahir dari kenyamanan semata.

Karakter tumbuh ketika seseorang belajar menghadapi keadaan, menyelesaikan masalah dan tetap mampu bekerja bersama orang lain.

Cibubur dan Masa Depan Generasi Indonesia

Karena itu, memandang Buperta Cibubur hanya sebagai lokasi perkemahan rasanya terlalu sederhana.

Kawasan ini memiliki nilai sejarah, sosial dan pendidikan yang jauh lebih besar.

Selama lebih dari lima dekade, Cibubur telah menjadi semacam laboratorium kebangsaan.

Di sini generasi muda belajar bahwa Indonesia bukan hanya nama sebuah negara yang tercetak di buku pelajaran.

Indonesia adalah manusia.

Indonesia adalah perbedaan.

Indonesia adalah kerja sama.

Indonesia adalah kemampuan untuk hidup bersama.

Dan semua itu dimulai dari hal-hal kecil, tentang berbagi ruang, berbagi tugas, saling membantu dan menghormati teman yang berbeda latar belakang.

Jamnas XII dan Pesan untuk Indonesia

Ketika Jamnas XII berlangsung pada Agustus 2026, ada pesan yang sesungguhnya jauh lebih besar daripada kemeriahan sebuah perkemahan.

Indonesia sedang memasuki fase penting dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.

Generasi yang hari ini berdiri di lapangan Buperta adalah generasi yang kelak akan menjadi pemimpin, profesional, pengusaha, ilmuwan, prajurit, birokrat, pekerja kreatif, guru dan penggerak masyarakat.

Baca Juga  Viral Gangguan KRL Cikarang Line, Ini Sejarah Panjang Stasiun Jatinegara yang Jadi Simpul Transportasi Jakarta

Mereka bukan sekadar peserta Jambore.

Mereka adalah calon pemegang estafet bangsa.

Karena itu, investasi terbesar dari sebuah Jambore bukanlah jumlah tenda yang berdiri.

Bukan pula banyaknya kegiatan yang berhasil diselenggarakan.

Investasi terbesar itu adalah nilai yang dibawa pulang oleh setiap peserta.

Jika seorang anak pulang dari Cibubur dengan rasa percaya diri yang lebih besar, kemampuan bekerja sama yang lebih baik, kecintaan kepada Indonesia yang lebih kuat dan keberanian untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, maka Jambore telah mencapai tujuan yang sesungguhnya.

Cibubur, Sebuah Warisan yang Harus Dijaga

Setengah abad lebih bukan waktu yang singkat.

Generasi telah berganti.

Teknologi berubah.

Cara anak muda berkomunikasi berubah.

Tantangan bangsa juga berubah.

Tetapi kebutuhan manusia untuk memiliki karakter, persahabatan dan rasa kebangsaan tidak pernah berubah.

Karena itu, Buperta Cibubur seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tanah tempat tenda didirikan.

Ia adalah ruang sejarah.

Ia adalah ruang pendidikan.

Ia adalah ruang persaudaraan.

Dan pada saat yang sama, ia adalah ruang untuk menanam masa depan.

Dari Situbaru pada 1973 hingga Jamnas XII pada 2026, Cibubur telah menyaksikan begitu banyak generasi datang dan pergi.

Sebagian mungkin lupa nama regunya.

Sebagian mungkin lupa nomor kemahnya.

Sebagian mungkin bahkan telah lupa siapa saja teman yang dulu tidur di tenda sebelah.

Tetapi ada satu hal yang kemungkinan besar tetap tinggal:

“kenangan bahwa pada suatu masa dalam hidupnya, ia pernah berdiri bersama ribuan anak Indonesia lainnya, di bawah Merah Putih, dalam satu bumi perkemahan”

Dan mungkin, itulah makna terdalam dari Jambore Nasional.

Membangun Indonesia tidak selalu dimulai dari gedung-gedung megah.

Kadang-kadang, ia dimulai dari sebuah tenda sederhana.

Di Cibubur.

Visited 1 times, 6 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow