KENDARI, MITRANUSANTARA.ID– Semangat gotong royong kembali digerakkan di Kota Kendari. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara bersama Kejaksaan Tinggi Sultra, Tunas Muda Adhyaksa, BAZNAS dan Real Estate Indonesia (REI) menjalankan Program Gotong Royong Bedah Rumah bagi warga yang membutuhkan di Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Rabu (30/9/2026).
Program tersebut tidak hanya menyasar perbaikan tempat tinggal, tetapi dirancang sebagai bentuk kolaborasi lintas lembaga untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam kegiatan itu juga dilakukan penyerahan 150 paket sembako kepada masyarakat.
Gubernur Sultra Andi Sumangerukka mengatakan, program bedah rumah merupakan contoh nyata bahwa berbagai pihak dapat menggabungkan sumber daya untuk membantu masyarakat.
Ia menyebut gagasan awal program tersebut datang dari Kepala Kejaksaan Tinggi Sultra Sugeng Rianta dalam rangkaian kegiatan HUT Adhyaksa. Menurutnya, selain kegiatan seremonial, diperlukan kegiatan sosial yang manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat.
“Beliau menyampaikan usulan, bagaimana kalau kita melakukan kegiatan gotong royong pembangunan bedah rumah,” kata gubernur.
Menurutnya, pemerintah daerah sebenarnya telah memiliki program bedah rumah, demikian pula pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman. Namun, selama ini berbagai program tersebut masih berjalan secara parsial.
Gubernur menilai kolaborasi dapat membuat bantuan lebih terarah sekaligus memperbesar manfaat bagi penerima.
“Dengan adanya gotong royong seperti ini, maka kita memulai kesejahteraan masyarakat itu dari rumah,” ujarnya.
Ia menegaskan, gotong royong merupakan bagian dari kekuatan sosial masyarakat yang perlu kembali dihidupkan. Menurutnya, masih banyak masyarakat maupun pelaku usaha yang memiliki keinginan membantu, tetapi membutuhkan ruang dan wadah untuk berkontribusi.
Dalam kegiatan tersebut, gubernur bahkan secara pribadi menyatakan menambah bantuan sebesar Rp250 juta. Ajakan itu kemudian mendapat respons dari sejumlah pihak yang hadir. Donasi yang terkumpul secara spontan disebut mencapai sekitar Rp450 juta dalam waktu singkat.
“Ini bukan untuk siapa-siapa, ini untuk menyejahterakan masyarakat. Jadi apa yang tadi disampaikan bahwa rumahnya nanti akan jadi, insyaallah. Saya akan cek ini nanti, rumahnya harus jadi,” tegasnya.
Kajati Sultra Sugeng Rianta mengatakan Program Gotong Royong Bedah Rumah diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan.
Ia menjelaskan, pelaksanaan program melibatkan BAZNAS, REI dan Tunas Muda Adhyaksa. Program tersebut juga mendapat dukungan dari sejumlah perusahaan melalui kontribusi sosial dan CSR.
“Program Gotong Royong Bedah Rumah sejatinya adalah program kita bersama. Ini tidak akan berjalan dengan baik kalau tidak mendapatkan dukungan yang maksimal dan rasa memiliki dari kita semua,” kata Sugeng.
Sugeng berharap pola kolaborasi tersebut dapat berkembang menjadi gerakan yang lebih luas, bahkan menjadi cikal bakal program nasional. Ia mengaitkannya dengan program pemerintah pusat untuk pembangunan tiga juta rumah.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga sosial dan masyarakat dapat memperkuat program perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Salah satu penerima manfaat, Abdul Rahman, warga penyandang disabilitas, menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diterimanya. Ia berharap pembangunan rumahnya dapat dilanjutkan hingga benar-benar selesai karena keterbatasan kondisi ekonomi membuatnya kesulitan membiayai pembangunan secara mandiri.
“Saya sudah terima. Tapi untuk kelanjutannya, saya mohon kiranya supaya dibantu sepenuhnya sampai selesai rumah ini,” ujarnya.
Abdul Rahman juga berharap dukungan dapat diberikan untuk keberlangsungan hidupnya setelah pembangunan rumah selesai.
Program Gotong Royong Bedah Rumah tersebut menjadi contoh kolaborasi lintas sektor dalam membantu masyarakat. Pemerintah dan para pihak yang terlibat berharap gerakan serupa dapat terus diperluas sehingga semakin banyak rumah tidak layak huni dapat diperbaiki dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Penulis: Sumarlin





