Penulis : Redaksi

JAKARTA, MITRANUSANTARA.ID – Kabar duka datang dari keluarga besar masyarakat Muna, Sulawesi Tenggara. Politikus senior Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Habil Marati dikabarkan meninggal dunia pada Minggu (27/9/2026).

Kepergian Habil menutup perjalanan panjang seorang putra Muna, Sulawesi Tenggara, yang pernah melewati banyak ruang kehidupan: dari masa sulit sebagai mahasiswa, dunia usaha, politik parlemen, hingga sepak bola nasional.

Namanya pernah berada di pusat perhatian ketika menjadi anggota DPR RI. Ia dikenal sebagai politikus yang berani mengambil sikap berbeda dengan garis partai, bahkan pernah berhadapan dengan pimpinan fraksinya sendiri.

Namun jauh sebelum berbagai kontroversi mengiringi namanya, Habil adalah seorang anak muda dari Muna yang merantau dan menjalani kehidupan dengan penuh perjuangan.

Dalam sebuah wawancara yang dimuat Rakyat Merdeka pada 2 Mei 2001, Habil menceritakan masa-masa sulitnya ketika menempuh pendidikan di Yogyakarta. Ia mengaku pernah mengamen di Malioboro, menjadi kuli panggul di Stasiun Jatinegara, hingga bekerja sebagai pencuci piring di restoran ayam goreng Suharti. 

Jangan dikira Habil sejak kecil hidup enak. “Apa yang saya peroleh sekarang hasil jerih payah dan kerja keras saya,” akunya. Habil cerita sedikit. Dia pernah jalan kaki dari Jatinegara ke jalan Thamrin cuma untuk mendaftar kerja. Itupun ditolak. Tidak ada lowongan.

Itu belum apa-apa. Suami dari seorang istri ini pernah juga ngamen di jalan Malioboro Yogyakarta. Hijrah ke Jakarta, bukannya hidup enak. Habil jadi tukang cuci piring di restaurant ayam goreng Suharti. Lalu, jadi buruh stasion kereta Jatinegara.

Kisah itu menjadi salah satu potongan penting perjalanan hidup Habil. Dari kehidupan yang serba terbatas, ia kemudian masuk ke dunia politik dan usaha hingga akhirnya menjadi salah satu figur yang dikenal di lingkungan PPP.

Namun cerita tentang kehidupan Habil di Yogyakarta memberikan gambaran mengenai fase awal kehidupannya sebelum masuk lebih jauh ke politik.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Habil kemudian meniti karier profesional. Ia pernah bekerja pada perusahaan hak pengusahaan hutan (HPH) di Kalimantan. Dari dunia kerja tersebut, ia kemudian mengembangkan minatnya pada industri dan bisnis kimia.

Dalam sebuah wawancara, Habil menceritakan pengalamannya mempelajari teknologi reaktor kimia di sejumlah negara, termasuk Jerman, Austria, Houston dan Atlanta di Amerika Serikat.

Pengalaman itu kemudian menjadi modal bagi perjalanan bisnisnya. Ia terlibat dalam sejumlah perusahaan dan memiliki pabrik di Indramayu melalui PT Batavindo Krida Nusa. Namanya juga pernah dikaitkan dengan sejumlah perusahaan lain yang bergerak di sektor industri.

Dunia usaha kemudian menjadi salah satu bagian penting dari kehidupan Habil. Di tengah aktivitas bisnisnya, ia masuk semakin dalam ke dunia politik.

Politisi yang Tidak Selalu Sejalan dengan Partai

Karier politik Habil berkembang di lingkungan PPP Sumatera Utara. Namanya kemudian masuk ke parlemen dan panggung politik nasional.

Di DPR, Habil dikenal sebagai anggota yang tidak selalu mengikuti arus mayoritas fraksinya. Sikap semacam itu beberapa kali membuatnya berhadapan dengan elite partai.

Pada 2000, ketika DPR tengah menangani persoalan Buloggate dan Bruneigate, Habil menjadi anggota panitia khusus yang dipimpin politikus PPP Bachtiar Chamsyah. Namun sikap dan pandangannya kerap berbeda dengan garis fraksi.

Pada 30 Oktober 2000, Fraksi PPP menarik Habil dari Pansus. Belakangan, PPP juga menjatuhkan sanksi kepadanya. Ketika itu bahkan sempat muncul kabar bahwa Habil akan ditarik atau di-recall dari DPR.

Baca Juga  Kendari Raih Penghargaan Kota Sehat Kategori Wiwerda

Perseteruan tersebut belum selesai ketika politik nasional memasuki salah satu fase paling panas pada era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Namanya kembali menjadi sorotan pada rapat paripurna DPR 30 April 2001, ketika parlemen membahas dan melakukan voting mengenai Memorandum II untuk Presiden Gus Dur.

Rapat tersebut akhirnya menghasilkan dukungan mayoritas terhadap Memorandum II. Dari 457 anggota DPR yang hadir, 363 menyatakan setuju, 52 menolak dan 42 abstain.

Tetapi di tengah voting itulah muncul sebuah adegan yang kemudian menjadi salah satu cerita paling terkenal tentang Habil Marati.

“Habil, Habil, Habil”

Sehari setelah rapat tersebut, Rakyat Merdeka menemui Habil di sebuah hotel di Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

Saat itu hujan turun deras.

Habil terlihat mondar-mandir di lobby hotel. Ia mengenakan jas dan celana hitam. Dua orang pengawalnya berdiri tidak jauh darinya.

Ketika wartawan Rakyat Merdeka datang, Habil berdiri dan menghampiri. Ia menjabat tangan, kemudian mengajak wartawan itu ke sebuah kafe kecil di sisi lain lobby.

Di sanalah ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dalam rapat paripurna sehari sebelumnya.

Dalam rapat yang membahas Memorandum II untuk Gus Dur, Habil menjadi salah satu anggota DPR yang paling menarik perhatian.

Ketika tiba giliran Fraksi Persatuan Pembangunan menentukan sikap, pimpinan sidang meminta anggota yang setuju agar berdiri.

Anggota FPP berdiri.

Habil tetap duduk.

Sikap itu langsung memancing reaksi ruang sidang.

Sebagian anggota DPR bertepuk tangan. Sebagian lainnya mencela. Ada pula yang tertawa. Pimpinan sidang kemudian bertanya, “Mana Habil?”

Nama Habil pun menggema di ruang Nusantara V.

“Habil, Habil, Habil, Habil.”

Beberapa saat kemudian, Habil berdiri.

Ia akhirnya menyatakan setuju terhadap pemberian Memorandum II kepada Gus Dur.

Perubahan sikap yang berlangsung hanya dalam hitungan detik itu kembali memancing reaksi anggota DPR.

“Habil, Habil, Habil, Habil.”

Nama itu kembali menggema.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi gambaran yang kuat mengenai karakter politik Habil: kontroversial, spontan dan tidak selalu mudah ditebak.

Namun kepada Rakyat Merdeka, Habil memberikan penjelasan bahwa perubahan sikap tersebut bukan karena ia tiba-tiba berubah pandangan terhadap substansi persoalan.

Sejak awal, ia mengaku tidak setuju dengan rekomendasi Panitia Khusus Buloggate dan Bruneigate yang diketuai rekannya di PPP, Bachtiar Chamsyah.

Menurut Habil, terdapat lompatan politik yang tidak dapat ia terima ketika rekomendasi pansus kemudian dijadikan dasar untuk mengeluarkan Memorandum II.

“Bagaimana mungkin rekomendasi Pansus BB yang cuma seperti itu, dijadikan alasan mengeluarkan memorandum,” demikian inti keberatan Habil dalam wawancara tersebut.

Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di meja bundar di hadapannya. Semangatnya terlihat ketika menjelaskan alasan di balik sikapnya.

Lalu muncul pertanyaan: mengapa pada akhirnya ia berdiri dan ikut menyetujui Memorandum II?

Jawaban Habil berkaitan dengan percakapannya dengan Gus Dur.

Tiga hari sebelum rapat pleno, Habil mengaku berdiskusi dengan Gus Dur.

Ia bahkan bercerita pernah berlari pagi bersama Gus Dur di Istana.

Dalam kesempatan tersebut, Habil menanyakan pandangan Gus Dur mengenai Memorandum II.

Apakah memorandum itu akan membahayakan kedudukan Presiden?

Apakah proses tersebut akan memunculkan fitnah?

Menurut cerita Habil, Gus Dur tidak menunjukkan kekhawatiran berlebihan.

Gus Dur, menurut Habil, mengatakan bahwa sepanjang proses tersebut merupakan bagian dari mekanisme politik, ia akan menerimanya. Gus Dur hanya meminta agar DPR tidak mengambil alih kewenangan MPR dalam menilai kinerja kabinet.

Baca Juga  Pemkot Kendari Pulangkan 11 Anjal Punk, Gandeng Baznas Dorong Penanganan Sosial Berkelanjutan

Cerita itu terhenti sejenak.

Seorang pelayan datang membawa dua gelas jus melon. Di masing-masing gelas terdapat buah cherry merah.

Habil memainkan sedotan dengan tangan kanannya. Tetapi ia belum meminumnya.

Kemudian ia melanjutkan cerita.

Saat duduk di ruang sidang dan tiba waktunya menentukan sikap, ia mengingat kembali percakapannya dengan Gus Dur.

Jika Gus Dur sendiri menerima Memorandum II sebagai bagian dari proses politik, Habil merasa tidak perlu menghabiskan energi untuk mempertentangkan prosesnya.

Ia tetap tidak setuju dengan substansinya.

Tetapi ia memilih menerima proses politik tersebut.

Peristiwa itu memperlihatkan sisi lain Habil Marati. Di satu sisi ia dikenal sebagai politisi yang berani berseberangan dengan partai. Di sisi lain, ia juga mengaku mempunyai hubungan komunikasi langsung dengan tokoh-tokoh politik di tingkat nasional.

Tak lama setelah percakapan itu, ponsel Nokia yang sejak tadi berada di atas meja berbunyi.

Habil menerima telepon.

Dengan tangan kirinya ia menutup sebagian bagian belakang telepon agar suara percakapannya terdengar lebih jelas.

“Siapa yang bilang saya mundur? Bagus, bagus. Nggak bakalan,” demikian potongan percakapan yang kemudian dicatat Rakyat Merdeka.

Ia kemudian berbicara tentang posisi Gus Dur dan perkembangan politik yang sedang berlangsung.

Percakapan telepon itu menjadi penutup sebuah sore yang memperlihatkan Habil sebagai salah satu aktor politik yang berada di tengah pusaran konflik antara parlemen dan Presiden.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan sanksi dari PPP, Habil kala itu justru menunjukkan keyakinan bahwa partainya akan menghargai perbedaan pendapat.

“PPP adalah partai yang menghargai nilai-nilai demokrasi,” kata Habil sebagaimana dicatat dalam laporan tersebut.

Bagi Habil, perbedaan pendapat tidak semestinya menjadi alasan untuk menghilangkan ruang demokrasi di dalam partai.

Dari Senayan ke Dunia Sepak Bola

Perjalanan Habil tidak berhenti di parlemen.

Di luar politik, ia juga aktif dalam dunia olahraga, terutama sepak bola.

Habil pernah menjadi manajer Tim Nasional Indonesia. Namanya juga pernah muncul dalam bursa pencalonan Ketua Umum PSSI.

Pada Desember 2012, Habil diberhentikan dari posisi manajer Timnas Indonesia oleh PSSI.

Namun hubungan Habil dengan sepak bola tidak berakhir di sana.

Dua bulan kemudian, pada Februari 2013, ia mengambil alih mayoritas saham Persibo Bojonegoro dengan nilai transaksi yang diberitakan sekitar Rp10 miliar.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa dunia sepak bola bagi Habil bukan sekadar ruang politik olahraga, tetapi juga bagian dari aktivitas bisnis yang ingin ia kembangkan.

Kembali Menjadi Sorotan

Setelah aktivitas politik dan sepak bolanya mulai meredup dari pemberitaan nasional, nama Habil kembali muncul ke permukaan pada 2019.

Namanya terseret dalam perkara yang berkaitan dengan dugaan pendanaan pengadaan senjata dalam rencana pembunuhan sejumlah tokoh nasional. Polisi menetapkannya sebagai tersangka dan perkara tersebut kemudian berlanjut ke proses hukum.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu bab paling kontroversial dalam perjalanan hidupnya.

Namun membaca Habil hanya melalui perkara tersebut tentu tidak menggambarkan seluruh perjalanan hidupnya.

Jauh sebelumnya, ia telah melewati berbagai fase: seorang perantau dari Muna, mahasiswa yang mengaku pernah mengamen di Malioboro, pekerja dengan pengalaman di berbagai bidang, pengusaha, anggota parlemen, elite PPP, tokoh sepak bola dan kemudian kembali menjadi figur yang berada dalam pusaran perkara hukum.

Perjalanan politiknya juga memperlihatkan bagaimana politik Indonesia pada masa awal reformasi bekerja dengan segala dinamika, negosiasi dan perbedaan sikap di antara elite partai.

Baca Juga  Tren Positif: Peningkatan Investasi IKM di Sulawesi Tenggara Tahun ke Tahun

Pada 2001, misalnya, Habil berada di tengah konflik politik yang akhirnya berujung pada pemberhentian Gus Dur sebagai Presiden beberapa bulan kemudian. Rapat 30 April 2001 yang menjadi panggung kontroversi Habil itu merupakan salah satu tahapan penting menuju Sidang Istimewa MPR pada Juli 2001.

Putra Muna yang Meniti Jalan Panjang

Habil Marati lahir di Raha, Muna, Sulawesi Tenggara, pada 7 Desember 1962 berdasarkan riwayat yang digunakan dalam sejumlah sumber.

Ia membawa nama daerah asalnya ketika memasuki panggung politik nasional.

Kariernya justru berkembang di luar Sulawesi Tenggara. Lingkungan PPP Sumatera Utara menjadi salah satu tempat penting dalam perjalanan politiknya sebelum kemudian masuk ke parlemen nasional.

Ia akhirnya menjadi anggota DPR RI dan berada di lingkaran elite PPP.

Pada Pemilu 2019, Habil kembali mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Tenggara, tetapi tidak berhasil memperoleh kursi.

Jejaknya di politik tidak hanya tentang kemenangan.

Ada konflik, perbedaan pendapat, sanksi partai, perubahan sikap, hubungan dengan tokoh nasional dan berbagai pilihan politik yang membuat namanya terus menjadi perhatian.

Justru di situlah perjalanan Habil menjadi menarik untuk dicatat.

Ia bukan politikus yang selalu berada dalam garis lurus.

Ia beberapa kali mengambil jalan berbeda.

Dan jalan berbeda itulah yang membuat namanya tetap tercatat dalam sejumlah episode penting perjalanan politik Indonesia.

Kini perjalanan itu telah berakhir.

Habil Marati pergi meninggalkan keluarga, sahabat, kolega politik, dunia usaha dan orang-orang yang pernah mengenalnya dalam berbagai fase kehidupannya.

Dari Raha dan Muna, ia merantau. Dari Yogyakarta, ia membawa cerita tentang perjuangan hidup. Dari dunia usaha, ia membangun jaringan. Dari PPP, ia masuk ke panggung politik nasional. Dari Senayan, ia ikut menyaksikan sekaligus menjadi bagian dari pergulatan politik era reformasi.

Dan dari sepak bola, ia meninggalkan jejak lain di luar parlemen.

Bagi sebagian orang, Habil mungkin dikenang karena keberaniannya berbeda pendapat. Bagi yang lain, karena kiprahnya di dunia usaha atau sepak bola. Ada pula yang mengenangnya melalui berbagai kontroversi yang pernah mengiringi perjalanan hidupnya.

Tetapi bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya, ia tentu bukan sekadar nama yang pernah muncul dalam pemberitaan.

Ia adalah seorang ayah, sahabat, kolega dan bagian dari perjalanan hidup banyak orang.

Hujan yang mengiringi pertemuan Habil dengan Rakyat Merdeka pada 2001 mungkin hanyalah detail kecil dalam sebuah laporan jurnalistik.

Namun cerita itu kini menjadi semacam potongan arsip tentang seorang Habil Marati: duduk di sebuah kafe kecil, dua pengawal berdiri di luar, segelas jus melon di atas meja, ponsel Nokia di samping tangannya, sementara di luar hujan belum juga reda.

Di dalam ruangan itu, seorang politisi muda menjelaskan mengapa dalam hitungan detik ia mengubah posisi di tengah salah satu pertarungan politik paling penting pada awal era reformasi.

Lebih dari dua dekade kemudian, cerita itu menjadi bagian dari catatan perjalanan seorang putra Muna yang hidupnya pernah bersinggungan dengan politik, bisnis, olahraga dan berbagai peristiwa besar negeri ini.

Selamat jalan, Habil Marati.

Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.

Laporan: Redaksi

Visited 27 times, 19 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow