Penulis : Redaksi

RAHA, MITRANUSANTARA.ID – Laut yang membentang dari Baubau menuju Jakarta menjadi saksi perjalanan seorang anak dari pelosok Kabupaten Muna yang sedang mengejar mimpinya.

Namanya Ahmad Akbar, siswa kelas IX SMP Nauval Aqila asal Desa Lakarinta, Kecamatan Lohia, itu kini berada di atas Kapal Pelni Ngapulu bersama Kontingen Kwarcab Gerakan Pramuka Muna menuju Jambore Nasional (Jamnas) XII Tahun 2026 di Buperta Cibubur, Jakarta.

Bagi Ahmad, perjalanan tersebut bukan sekadar keberangkatan menuju sebuah kegiatan nasional. Ini adalah perjalanan untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa keadaan keluarga tidak harus menentukan sejauh mana seseorang boleh bermimpi.

Ahmad merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Sejak duduk di sekolah dasar, ia telah terbiasa dengan kehidupan sederhana. Sang ayah telah lama meninggalkan keluarga sehingga ibunya menjadi tumpuan utama dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Sang ibu bekerja sebagai pengrajin tenun. Dari tangan ibunya itulah kebutuhan keluarga berusaha dipenuhi.

Ahmad pun tidak tinggal diam. Di sela-sela sekolah, ia ikut membantu membuat sarung tenun. Ia juga pernah menjajakan dagangan sebagai pedagang asongan di kawasan wisata Pantai Meleura.

Kehidupan tersebut membuat Ahmad tumbuh sebagai anak yang terbiasa berjuang sejak usia dini. Namun, pengalaman hidup itu juga sempat membuatnya merasa berbeda.

Saat menjalani Training Center bersama calon peserta Jamnas lainnya, Ahmad lebih banyak diam. Ia kerap menyendiri ketika teman-temannya bercanda dan bercengkerama. Ada rasa minder yang sulit ia sembunyikan.

Baca Juga  140 ASN Eselon III Dilantik, Bupati Muna Tekankan Tanggung Jawab dan Profesionalisme

Bahkan, beberapa kali Ahmad menahan air mata seorang diri karena memikirkan kondisi keluarganya. Di tengah kondisi itu, lingkungan Pramuka justru menjadi tempat Ahmad menemukan kembali kepercayaan dirinya.

Teman-temannya di Regu Scorpio tidak membiarkannya larut dalam kesendirian. Para Pembina Pendamping juga terus memberikan perhatian dan motivasi.

Perlahan, Ahmad mulai berani bergaul. Ia menemukan bahwa di dalam Pramuka, latar belakang keluarga bukanlah ukuran untuk menentukan siapa yang lebih pantas berdiri di depan.

Semua mengenakan seragam yang sama. Semua memiliki kesempatan yang sama.Dan semua memiliki hak untuk bermimpi. Perubahan itu semakin terlihat ketika perjalanan menuju Jakarta dimulai.

Dari atas kapal, Ahmad mulai berinteraksi dengan teman-temannya. Ia tidak lagi banyak menyendiri. Senyum dan canda mulai menghiasi hari-harinya selama pelayaran. Namun, ada satu hal yang masih terus berada dalam pikirannya: sang ibu di rumah.

Perjalanan menuju Jamnas menjadi pengalaman pertama Ahmad tinggal jauh dari ibunya. Terlebih, kakaknya juga sedang menjalani karantina sebagai anggota Paskibraka Kabupaten Muna.

Kondisi tersebut membuat Ahmad sempat menangis karena membayangkan ibunya harus sendirian di rumah.

“Ini baru pertama kali saya tinggal jauh dari Mama. Kemarin sempat saya menangis karena pikir Mama sendirian di rumah, Kakak juga lagi karantina Paskibraka. Bapa sudah lama tinggalkan kita. Makanya saya sedih Mama tinggal sendiri. Tapi sekarang saya sudah tidak menangis lagi, saya harus kuat,” tuturnya.

Baca Juga  Pemkot Kendari Batasi Jalur dan Jam Operasional Hauling Ore Nikel, Dishub Siap Tindak Pelanggaran

Di balik kalimat sederhana itu, tersimpan tekad seorang anak untuk belajar menjadi lebih dewasa. Ia tahu dirinya sedang membawa kebanggaan keluarga.

Bahkan, tahun 2026 menjadi tahun istimewa bagi keluarga Ahmad. Dua bersaudara berhasil mendapatkan kesempatan membanggakan. Ahmad menuju Jamnas XII, sementara kakaknya lolos menjadi anggota Paskibraka Kabupaten Muna.

“Ada sedihnya, ada senangnya. Sedihnya karena terus saya pikir Mamaku, tapi bahagianya bisa dapat banyak teman,” ujar Ahmad.

Ahmad merupakan bagian dari besar Kwarcab Muna yang berjumlah 86 orang. Kontingen tersebut bertolak menggunakan kapal Pelni pada 7 Agustus 2026, sehari setelah dilepas secara resmi oleh Bupati Muna sekaligus Ketua Mabicab Gerakan Pramuka Muna, H. Bachrun.

Rombongan terdiri atas 64 Pramuka Penggalang putra dan putri, delapan Pembina Pendamping, dua Pimpinan Kontingen putra dan putri, 11 pengurus Kwarcab, serta satu dokter kontingen.

Kontingen Muna menjadi salah satu kontingen dengan jumlah peserta terbesar dari Sulawesi Tenggara. Di antara puluhan peserta itu, Ahmad membawa cerita yang berbeda.

Ia berangkat bukan dengan kemewahan, melainkan dengan doa ibunya dan pengalaman hidup yang telah mengajarinya tentang arti kerja keras.

Baca Juga  Gerakan Muna Makan Jagung Dinilai Berpotensi Jadi Percontohan Pengembangan Pangan Lokal

Sekretaris Kwarcab Muna, Anuardin, yang memimpin rombongan, mengatakan Jamnas merupakan pesta lima tahunan yang menjadi ruang bagi seluruh Pramuka Penggalang untuk berkembang.

“Jamnas merupakan pesta lima tahunan bagi Pramuka Penggalang se-Indonesia. Siapa pun adik-adik Penggalang di Kabupaten Muna memiliki hak yang sama untuk berada di sini, meski kuotanya terbatas,” ujar Anuardin.

Menurutnya, Ahmad merupakan salah satu contoh bahwa Gerakan Pramuka dapat menjadi ruang untuk membangun keberanian dan kepercayaan diri anak-anak.

“Ahmad Akbar adalah bukti nyata bahwa garis kemiskinan tidak pernah bisa membatasi garis cita-cita. Dari seorang anak pengrajin tenun dan pedagang asongan di Meleura, ia kini berdiri tegak membawa nama harum Kabupaten Muna di kancah nasional yakni Jambore Nasional,” katanya.

Kini kapal terus bergerak menuju Jakarta. Semakin jauh dari kampung halaman, semakin dekat pula Ahmad dengan panggung yang selama ini mungkin hanya ia bayangkan.

Dari seorang anak yang pernah merasa minder karena keterbatasan ekonomi, Ahmad kini berdiri bersama puluhan anggota Pramuka lainnya membawa nama Kabupaten Muna.

Perjalanan itu sekaligus menjadi pesan bahwa kemiskinan mungkin membatasi keadaan, tetapi tidak seharusnya membatasi keberanian seorang anak untuk bermimpi.

Repo : Baharuddin

Visited 98 times, 98 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow