JAKARTA, MITRANUSANTARA.ID – Yayasan Jalan Tengah Indonesia (YASJATI) menegaskan komitmennya untuk memperluas kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dan dunia industri sebagai bagian dari upaya memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari langkah YASJATI dalam memperkuat sinergi antara organisasi masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah guna mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia serta pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Dewan Pembina YASJATI, Sumaryono, dalam rangkaian kegiatan pelantikan pengurus dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah mitra strategis, termasuk perguruan tinggi dan perusahaan yang bergerak di bidang penyaluran tenaga kerja.
Menurutnya, kerja sama yang dibangun tidak boleh berhenti pada penandatanganan dokumen semata, melainkan harus diwujudkan dalam program-program konkret yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Kami berharap MoU ini tidak hanya menjadi sekadar naskah atau dokumen administratif. Yang terpenting adalah bagaimana kerja sama ini dapat diwujudkan dalam berbagai kegiatan nyata yang memberikan manfaat lebih luas,” ujar Sumaryono di Auditorium Universitas Trilogi, Jakarta. (4/6/2026).
Ia menjelaskan, salah satu fokus kerja sama yang tengah dikembangkan adalah penyaluran tenaga kerja melalui kemitraan dengan dunia industri. Program tersebut diharapkan dapat membuka peluang kerja bagi para lulusan perguruan tinggi, baik dari kampus mitra maupun dari berbagai daerah di Indonesia.
Selain membuka akses lapangan pekerjaan, YASJATI juga mendorong pengembangan pendidikan lanjutan bagi masyarakat dan para pekerja yang ingin meningkatkan kompetensi melalui sistem pembelajaran jarak jauh.
“Dari hasil diskusi dengan berbagai pihak, termasuk perusahaan mitra, kami melihat ada peluang untuk memfasilitasi pendidikan lanjutan bagi mereka yang terkendala waktu dan jarak. Ini menjadi salah satu agenda yang akan kami rumuskan bersama ke depan,” katanya.
Melalui jaringan pengurus daerah yang terus diperluas, YASJATI juga berencana membangun komunikasi dengan pemerintah daerah untuk membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi aparatur maupun masyarakat yang ingin melanjutkan studi.
Dalam kesempatan tersebut, YASJATI kembali menegaskan prinsip organisasinya sebagai lembaga yang mengedepankan tindakan nyata dibanding sekadar retorika.
“Kami memiliki keyakinan bahwa orang-orang yang berhimpun di YASJATI mungkin tidak banyak berbicara, tetapi berusaha memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara. Bagi kami, berbuat baik dan memberikan manfaat jauh lebih berarti daripada sekadar kata-kata,” tegasnya.
YASJATI juga menyatakan dukungannya terhadap berbagai program pemerintah sebagai bentuk tanggung jawab moral organisasi dalam membantu menyukseskan agenda pembangunan nasional.
Menurutnya, tantangan bangsa saat ini membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dengan mengedepankan semangat nasionalisme dan patriotisme.
“Kita semua memiliki tanggung jawab moral sebagai warga negara. Jika belum mampu memberikan kontribusi yang besar, setidaknya jangan menjadi bagian yang menambah persoalan bangsa,” ujarnya.
Kepada kalangan mahasiswa, ia berpesan agar kebebasan berekspresi di era demokrasi dimanfaatkan secara bijak untuk menghasilkan gagasan dan tindakan yang konstruktif.
“Mahasiswa adalah calon intelektual bangsa. Karena itu, moralitas dan integritas harus menjadi pegangan. Tidak ada gunanya menjadi orang cerdas jika justru menjadi pembuat masalah. Mari manfaatkan ruang demokrasi ini untuk melahirkan solusi terbaik bagi bangsa dan negara,” pungkasnya.
Laporan: Novrizal R Topa


