JAKARTA, MITRANUSANTARA.ID – Kearifan lokal masyarakat Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, kembali mendapat panggung di tingkat nasional. Tradisi Tunuha yang hidup dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Liangkobori kini diabadikan dalam buku Retrospektif Kota Kreatif: Menghimpun yang Terserak, sebuah karya kolaboratif yang diterbitkan oleh Indonesia Creative Cities Network (ICCN) dan ditulis oleh 50 penulis dari berbagai daerah di Indonesia.
Salah satu tulisan dalam buku tersebut berjudul “Simfoni Gotong Royong dan Rasa Syukur Terbungkus dalam Tunuha” yang ditulis oleh Novrizal R. Topa, penulis asal Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Melalui tulisannya, Novrizal mengajak pembaca untuk menyelami makna filosofis Tunuha yang tidak hanya dipandang sebagai kuliner tradisional, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan, rasa syukur, dan identitas budaya masyarakat Muna.
Bagi masyarakat Muna, Tunuha merupakan warisan budaya yang lahir dari hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Tradisi ini dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan menjadi momentum bagi seluruh masyarakat untuk berkumpul dalam semangat gotong royong.
Seluruh elemen masyarakat terlibat dalam setiap tahapan pelaksanaannya. Kaum laki-laki menyiapkan lubang pembakaran dan batu panas, para perempuan mengolah bahan makanan yang akan dimasak, sementara anak-anak turut membantu sembari belajar memahami nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur.
Proses memasak Tunuha pun menyimpan keunikan tersendiri. Masyarakat memanfaatkan bambu, daun pisang, batu panas, dan tanah sebagai media memasak tradisional yang ramah lingkungan. Teknik memasak yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi bukti bahwa masyarakat Muna telah memiliki pengetahuan lokal yang kaya dalam mengelola sumber daya alam secara bijaksana.
Namun, Tunuha sesungguhnya tidak berhenti pada proses memasak. Di sela menunggu makanan matang, masyarakat berkumpul dalam suasana penuh keakraban melalui tradisi Modero. Mereka bernyanyi, berbalas pantun, bercengkerama, serta mempererat tali persaudaraan yang menjadi fondasi kehidupan sosial masyarakat Muna.
Tradisi ini menjadi ruang pendidikan budaya yang hidup. Generasi muda tidak hanya diajarkan cara memasak makanan tradisional, tetapi juga diperkenalkan pada nilai gotong royong, penghormatan terhadap alam, dan pentingnya menjaga persatuan di tengah kehidupan bermasyarakat.
Masuknya Tunuha dalam buku Retrospektif Kota Kreatif menjadi pengakuan bahwa budaya lokal memiliki posisi strategis dalam pembangunan ekonomi kreatif Indonesia. Buku yang diterbitkan ICCN tersebut menghimpun berbagai praktik baik dan perjalanan kota maupun kabupaten kreatif di Indonesia dalam membangun ekosistem yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan.
Ketua Umum ICCN, TB. Fiki C. Satari, dalam kata pengantarnya menyampaikan bahwa ekonomi kreatif Indonesia tumbuh melalui semangat kolektif dan kolaborasi lintas daerah. Hingga tahun 2024, ICCN telah menjangkau lebih dari 200 kota dan kabupaten kreatif di Indonesia yang terus berkontribusi dalam penguatan sektor ekonomi kreatif nasional.
Kehadiran tulisan tentang Tunuha dalam buku tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Kabupaten Muna. Di tengah modernisasi yang semakin masif, tradisi Tunuha membuktikan bahwa budaya lokal memiliki nilai yang tidak lekang oleh waktu dan mampu menjadi inspirasi bagi pembangunan daerah berbasis kearifan lokal.
Penulis sekaligus Direktur Utama Sultra Agency Barakati, Novrizal R. Topa, menegaskan bahwa kekayaan budaya yang dimiliki daerah sesungguhnya merupakan modal terbesar yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Kearifan budaya adalah kekayaan kita yang sesungguhnya. Ia bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi merupakan identitas, pengetahuan, dan nilai-nilai kehidupan yang menjadi fondasi peradaban kita. Ketika budaya kita rawat, sesungguhnya kita sedang merawat jati diri bangsa,” ujar Novrizal R. Topa, Kamis (16/7/2026)
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui dokumentasi atau seremoni semata, tetapi juga melalui upaya memperkenalkan dan mengintegrasikan nilai-nilai budaya dalam kehidupan masyarakat modern.
“Tunuha mengajarkan kita bahwa keberlimpahan harus dirayakan dengan rasa syukur dan kebersamaan. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa manusia tidak hidup sendiri, tetapi tumbuh bersama masyarakat dan alam yang harus dihormati,” tambahnya.
Melalui tulisan “Simfoni Gotong Royong dan Rasa Syukur Terbungkus dalam Tunuha”, Novrizal berharap masyarakat Indonesia semakin mengenal kekayaan budaya Muna dan menjadikannya sebagai inspirasi dalam membangun kehidupan yang lebih harmonis, inklusif, dan berkelanjutan.
“Sebab, di balik setiap bambu yang dibakar dan setiap hidangan yang disantap bersama dalam tradisi Tunuha, tersimpan pesan sederhana namun mendalam,bahwa rasa syukur akan selalu menemukan maknanya ketika dibagikan dalam kebersamaan,” tutup Novrizal, yang juga merupakan anggota PWI Sulawesi Tenggara.
Laporan: Awaluddin. La Eta



