KENDARI, MITRANUSANTARA.ID – Pemerintah Kota Kendari terus mempercepat penanganan banjir melalui pembangunan infrastruktur pengendali air di sejumlah titik rawan. Selain pembangunan talud, pemerintah juga mulai menyiapkan pembangunan kolam detensi sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko genangan di kawasan permukiman.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kendari, Muhammad Jayadi, mengatakan penanganan banjir menjadi salah satu prioritas Pemerintah Kota Kendari di bawah kepemimpinan Wali Kota Siska Karina Imran. Karena itu, setiap hasil evaluasi lapangan langsung ditindaklanjuti melalui langkah teknis yang dapat segera dilaksanakan.
“Penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara parsial. Kami melakukan evaluasi menyeluruh terhadap titik-titik yang selama ini menjadi langganan banjir, kemudian menentukan langkah prioritas yang dapat segera dikerjakan. Pembangunan talud menjadi penanganan awal, sementara solusi jangka panjang juga sedang kami siapkan melalui pembangunan kolam detensi,” ujar Jayadi.
Menurutnya, arahan Wali Kota Kendari menjadi dasar bagi jajaran teknis untuk mempercepat pekerjaan pada lokasi-lokasi yang memiliki tingkat kerawanan tinggi agar dampaknya dapat segera dirasakan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kota Kendari, Rina Sake, menjelaskan pembangunan talud yang saat ini berlangsung merupakan tindak lanjut dari hasil evaluasi pascabanjir yang dilakukan langsung oleh Wali Kota bersama jajaran teknis.
Dari hasil peninjauan lapangan, salah satu penyebab utama banjir adalah belum adanya talud pada beberapa badan sungai sehingga aliran air tidak terkendali ketika curah hujan tinggi.
“Setelah banjir kemarin, Ibu Wali Kota turun langsung ke lapangan. Dari hasil evaluasi terlihat beberapa sungai belum memiliki talud sehingga ketika debit air meningkat, aliran tidak terkontrol dan akhirnya meluap ke permukiman warga. Karena itu pembangunan talud menjadi salah satu penanganan yang diprioritaskan,” kata Rina.
Ia menjelaskan pekerjaan melalui program swakelola difokuskan pada titik-titik yang memiliki tingkat urgensi tinggi, khususnya di Jalan Durian dan kawasan Tunggala Dalam, Kecamatan Wua-Wua.
Saat ini progres pembangunan talud di kedua lokasi tersebut telah mencapai sekitar 80 persen. Bahkan setelah dilakukan monitoring dan evaluasi bersama Wali Kota, pemerintah memutuskan menambah panjang talud di salah satu titik karena dinilai masih membutuhkan perlindungan tambahan.
“Secara umum pekerjaan yang pertama sudah hampir selesai, tinggal tahap plesteran. Namun setelah evaluasi di lapangan, terdapat satu titik lagi yang menjadi perhatian Ibu Wali Kota sehingga diputuskan dilakukan penambahan panjang talud,” ujarnya.
Meski demikian, Rina menegaskan pembangunan talud belum cukup untuk mengatasi banjir secara menyeluruh. Berdasarkan kajian teknis, Kota Kendari membutuhkan kolam detensi untuk mengendalikan limpasan air sebelum masuk ke sungai induk.
Ia menjelaskan sistem sungai di kawasan Tunggala dan Jalan Durian memiliki beberapa anak sungai yang bertemu di Kali Bonggoeya. Saat hujan deras, seluruh aliran datang bersamaan sehingga kapasitas sungai tidak mampu menampung debit air dan menyebabkan luapan.
“Kalau dianalogikan seperti lalu lintas, semua kendaraan masuk ke satu persimpangan tanpa lampu pengatur. Akibatnya pasti terjadi penumpukan. Kondisi itulah yang terjadi pada aliran sungai kita saat hujan lebat,” jelasnya.
Karena keterbatasan ruang untuk memperlebar sungai di kawasan perkotaan, pembangunan kolam detensi dinilai menjadi solusi paling realistis. Kolam tersebut akan menampung sementara limpasan air hujan, kemudian mengalirkannya secara bertahap ke sungai utama sehingga beban aliran dapat dikurangi.
Rina mengungkapkan satu lokasi yang diproyeksikan menjadi kolam detensi berada di Jalan Durian. Lahan yang dibutuhkan telah tersedia dan saat ini memasuki proses administrasi.
Selain dua lokasi yang telah ditinjau, Dinas PUPR juga mengidentifikasi sekitar delapan hingga sembilan titik rawan banjir lainnya yang akan ditangani secara bertahap sesuai tingkat urgensi.
Pemerintah Kota Kendari berharap kombinasi pembangunan talud, normalisasi saluran, dan pembangunan kolam detensi dapat menjadi solusi yang lebih efektif dalam mengurangi risiko banjir sekaligus meningkatkan keselamatan dan kenyamanan masyarakat.
Penulis: Sumarlin



