Penulis : Redaksi

RAHA, MITRANUSANTARA.ID – Festival Liangkobori IV resmi dibuka oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, di kawasan situs prasejarah Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sabtu (11/7/2026).

Pembukaan festival tahun ini menjadi tonggak penting bagi pelestarian warisan budaya di Bumi Sowite setelah pemerintah memastikan Gua Metanduno segera ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional.

Kunjungan Menteri Kebudayaan turut didampingi sejumlah pejabat pemerintah pusat, di antaranya dua direktur jenderal Kementerian Kebudayaan, Wakil Menteri Dalam Negeri III, Dirjen Pemerintahan Desa Kemendagri, Deputi Infrastruktur Pariwisata, Deputi Event Kementerian Pariwisata, Gubernur Sulawesi Tenggara, serta perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Sebelum membuka festival, rombongan meninjau langsung Gua Metanduno yang dikenal menyimpan lukisan telapak tangan manusia purba berusia sekitar 67.800 tahun. Situs tersebut menjadi salah satu temuan arkeologi penting yang memperkuat posisi Kabupaten Muna sebagai kawasan prasejarah bernilai tinggi.

Dalam sambutannya, Fadli Zon mengungkapkan bahwa proses penetapan Gua Metanduno sebagai Cagar Budaya Nasional telah selesai dan hanya tinggal menunggu pengumuman resmi dari pemerintah.

Baca Juga  140 ASN Eselon III Dilantik, Bupati Muna Tekankan Tanggung Jawab dan Profesionalisme

“Sudah selesai disidangkan. InsyaAllah bulan Agustus kita umumkan sebagai situs cagar budaya nasional,” ujar Fadli Zon.

Menurutnya, penetapan tersebut akan menjadi awal pengembangan kawasan prasejarah Liangkobori secara lebih terarah. Kementerian Kebudayaan berkomitmen menghadirkan berbagai fasilitas pendukung, seperti papan informasi dan museum mini untuk mendukung edukasi serta meningkatkan pengalaman wisata.

Pemerintah juga mulai mempersiapkan langkah agar Gua Metanduno dapat diusulkan sebagai Warisan Dunia UNESCO. Upaya tersebut dinilai sejalan dengan nilai sejarah dan arkeologi yang dimiliki kawasan Liangkobori yang selama ini menarik perhatian para peneliti dari berbagai negara.

Fadli Zon mengaku, terkesan setelah menyaksikan langsung lukisan-lukisan prasejarah di Gua Metanduno dan Gua Liangkobori. Menurutnya, gambar telapak tangan, perahu, hewan, hingga adegan berburu masih menyimpan banyak informasi yang perlu terus diteliti. Ia mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian situs agar tidak mengalami kerusakan akibat aktivitas pengunjung.

“Situs sejarah ini harus dijaga dan dirawat. Jangan biarkan dirusak oleh pengunjung. Apa yang ada di Liangkobori merupakan kekayaan budaya yang dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat,” tegasnya.

Baca Juga  Forum Jurnalis Sultra Tolak Revisi UU Penyiaran: Ancaman terhadap Kebebasan Pers

Selain mendukung pelestarian situs, Kementerian Kebudayaan juga menyatakan siap memperkuat penyelenggaraan Festival Liangkobori agar berkembang menjadi agenda budaya berskala nasional bahkan internasional.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, mengatakan kehadiran Menteri Kebudayaan menjadi dorongan besar bagi pengembangan kawasan prasejarah Liangkobori. Menurutnya, peninggalan sejarah yang dimiliki Kabupaten Muna merupakan aset budaya yang bernilai tinggi dan layak dikenal dunia.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, lanjutnya, juga berkomitmen meningkatkan infrastruktur menuju kawasan wisata Liangkobori agar akses masyarakat dan wisatawan semakin mudah.

“InsyaAllah, jalan di Liangkobori kita akan benahi,” katanya.

Bupati Muna, Bachrun Labuta, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap pengembangan kawasan Liangkobori. Ia menegaskan pemerintah daerah bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara akan terus menjaga sekaligus mengembangkan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata budaya berbasis konservasi.

Menurut Bachrun, Liangkobori akan dikembangkan dengan konsep geopark sehingga tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga laboratorium alam bagi penelitian arkeologi yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Baca Juga  Bupati Muna Apresiasi Wartawan Bertani, Masyarakat Diminta Ikut Bergerak

“Liangkobori kita terus kembangkan dengan prinsip geopark sehingga bisa menjadi laboratorium dan lokasi penelitian arkeologi yang memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap dukungan pemerintah pusat terus berlanjut, khususnya dalam pembangunan infrastruktur, penyediaan sarana dan prasarana wisata, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk mendukung pengelolaan kawasan prasejarah Liangkobori secara berkelanjutan.

Reporter: Baharuddin

Visited 1 times, 1 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow