Penulis : Redaksi

KENDARI, MITRANUSANTARA.ID – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) semakin optimistis sektor pariwisata akan menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah. Optimisme itu diperkuat dengan dibukanya penerbangan langsung rute Bali–Wakatobi yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 16 Juli 2026 menggunakan maskapai TransNusa.

Kabar tersebut disampaikan langsung Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua, saat menghadiri peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang dirangkaikan dengan peluncuran Program SIMPUL (Sinergi Masyarakat Pulau) dan Bhayangkara Sultra Run.

Menurut Hugua, hadirnya penerbangan langsung tersebut menjadi momentum penting dalam mempercepat pengembangan sektor pariwisata Sultra, khususnya Wakatobi yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bahari terbaik dunia.

“Pada 16 Juli 2026 akan ada penerbangan langsung Bali-Wakatobi menggunakan pesawat jet TransNusa. Jadi, masyarakat yang ingin berwisata atau healing ke Wakatobi kini semakin mudah. Ini menjadi langkah besar dalam mendorong kemajuan pariwisata Sulawesi Tenggara,” ujarnya.

Ia menilai konektivitas udara merupakan salah satu faktor utama dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Dengan akses yang semakin mudah, Wakatobi diyakini akan semakin dikenal wisatawan domestik maupun mancanegara sebagai destinasi unggulan Indonesia.

Baca Juga  Wali Kota Kendari Ikuti Forum Ketahanan Iklim 2025, Bahas Masa Depan Kota Tangguh Iklim

Hugua menyebut Wakatobi merupakan kawasan strategis pariwisata nasional sekaligus bagian dari program “10 Bali Baru” yang memiliki kekayaan alam luar biasa.

“Wakatobi adalah pusat segitiga karang dunia. Keanekaragaman hayatinya sangat lengkap, mulai dari laut, bawah laut, pulau-pulau eksotis hingga budaya masyarakatnya. Semua tersedia di Sulawesi Tenggara,” katanya.

Mantan Bupati Wakatobi dua periode itu juga mengajak seluruh pihak, termasuk jajaran Forkopimda, untuk ikut mempromosikan destinasi wisata Sultra melalui kunjungan langsung ke berbagai daerah.

Menurutnya, Wakatobi merupakan lokomotif pengembangan pariwisata Sulawesi Tenggara yang akan memberikan dampak ekonomi bagi daerah-daerah lain.

Ia kemudian memperkenalkan konsep “Wakatobi Beyond Seven Wonders”, yakni pengembangan destinasi wisata Sultra yang tidak hanya bertumpu pada Wakatobi, tetapi juga menghubungkan berbagai kawasan wisata unggulan lainnya.

Di antaranya Keraton Buton sebagai warisan sejarah Kesultanan Buton, kawasan prasejarah Liang Kabori di Pulau Muna yang diyakini menyimpan jejak peradaban manusia purba, Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, kawasan wisata Labengki di Konawe Utara, poros wisata Kendari-Wawonii, hingga kawasan hutan mangrove Buton Utara yang disebut sebagai salah satu mangrove tunggal terbesar di Asia Tenggara.

Baca Juga  Dihadapan Ribuan Masyarakat Buteng, Hugua Beberkan Alasan Dampingi ASR

“Semua kawasan itu saling melengkapi. Kita punya gunung, bukit, danau, sungai, laut, bawah laut, hingga budaya yang sangat kaya. Ini menjadi modal besar untuk membangun pariwisata Sulawesi Tenggara,” jelasnya.

Hugua menegaskan sektor pariwisata memiliki efek berganda yang sangat besar terhadap perekonomian daerah karena mampu menggerakkan sedikitnya 17 sektor usaha, mulai dari transportasi, perhotelan, kuliner, UMKM, hingga ekonomi kreatif.

Ia menyebut berdasarkan struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sultra, sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar sekitar 23 persen, disusul pertambangan sekitar 20 persen dan perdagangan sekitar 18 persen. Namun, pariwisata dinilai memiliki potensi besar karena mampu menghidupkan berbagai sektor ekonomi secara bersamaan.

“Karena itu, dengan semakin terbukanya akses penerbangan langsung Bali-Wakatobi, kami berharap kunjungan wisatawan terus meningkat. Pariwisata akan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi Sulawesi Tenggara sekaligus membuka lebih banyak peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat,” pungkas Hugua.

Visited 6 times, 6 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow