MUNA, MITRANUSANTARA.ID – Hasil Pemilu Legislatif 2024 di Kabupaten Muna meninggalkan satu pesan yang dapat menjadikan ingatan kolektif, yakni tidak ada partai politik yang benar-benar menguasai wilayah politik Muna.
Meski PDI Perjuangan tampil sebagai peraih kursi terbanyak di DPRD Kabupaten Muna untuk periode 2024-2029 dengan lima kursi, namun peta kekuatan di enam daerah pemilihan menunjukkan karakter yang jauh lebih kompleks.
Setiap daerah pemilihan memiliki pusat kekuatan, tingkat kompetisi, dan konfigurasi politik yang berbeda.
Pemilik aplikasi politik myTimses sekaligus penulis buku Politik Tanpa Ilusi, Yoga Rifai Hamzah, menilai hasil Pemilu 2024 justru memperlihatkan bahwa politik Muna tidak lagi bisa dibaca hanya dengan melihat partai mana yang memperoleh kursi terbanyak secara keseluruhan.
Menurutnya, peta politik harus dibaca dari bawah, dimulai dari dapil, kecamatan, hingga basis suara yang membentuk kemenangan setiap kandidat dan partai.
“Kalau kita hanya melihat perolehan kursi tingkat kabupaten, kita akan kehilangan gambaran besarnya. Politik Muna sesungguhnya terbagi ke dalam beberapa arena dengan karakter yang berbeda-beda,” ujar Yoga Rifai Hamzah dalam analisisnya.
Data hasil Pemilu DPRD Kabupaten Muna 2024 mengacu pada Keputusan KPU Kabupaten Muna Nomor 496 Tahun 2024 tentang penetapan hasil Pemilu Anggota DPRD Kabupaten/Kota Tahun 2024.
Keputusan tersebut menjadi dasar penetapan final hasil perolehan suara dan kursi DPRD Kabupaten Muna serta mencabut keputusan sebelumnya, yakni Keputusan Nomor 495 Tahun 2024.
Enam Dapil, Enam Karakter Politik
Pemilu DPRD Kabupaten Muna 2024 membagi wilayah pemilihan ke dalam enam daerah pemilihan yang mencakup 22 kecamatan dengan total 30 kursi DPRD.
Dapil Muna 1 yang meliputi Kecamatan Batalaiworu, Katobu dan Watopute memperebutkan enam kursi dengan jumlah suara sah sebanyak 31.317 suara.
Sementara Muna 2, yang terdiri atas Lasalepa, Napabalano dan Towea, memperebutkan empat kursi dari 16.661 suara sah.
Muna 3 yang mencakup Batukara, Maligano, Pasikolaga, Pasir Putih dan Wakorumba Selatan memiliki tiga kursi dengan 13.482 suara sah.
Selanjutnya, Muna 4 yang meliputi Bone, Marobo, Tongkuno dan Tongkuno Selatan memiliki lima kursi dengan 17.779 suara sah.
Dapil Muna 5 yang terdiri atas Kabangka, Kabawo, Kontu Kowuna dan Parigi memiliki lima kursi dengan jumlah 22.804 suara sah.
Sedangkan Muna 6 yang mencakup Duruka, Kontunaga dan Lohia menjadi dapil dengan alokasi kursi terbesar, yakni tujuh kursi, dari total 21.642 suara sah.
Secara keseluruhan, terdapat 123.685 suara sah yang menjadi basis perebutan 30 kursi DPRD Kabupaten Muna.Namun, menurut Yoga, angka-angka tersebut tidak sekadar menunjukkan siapa yang menang dan kalah.
Di balik distribusi kursi itu terdapat struktur politik yang memperlihatkan persebaran basis kekuatan partai secara berbeda-beda.
PDIP Terbesar, tetapi Politik Muna Tidak Dikuasai Satu Partai
PDI Perjuangan berhasil menempatkan lima wakilnya di DPRD Kabupaten Muna. Gerindra, Golkar, PKB dan Demokrat masing-masing memperoleh empat kursi.
NasDem dan PKS masing-masing mendapatkan tiga kursi, Hanura dua kursi, sementara PBB memperoleh satu kursi.
Distribusi tersebut memperlihatkan DPRD Muna periode 2024-2029 terbentuk dari konfigurasi multipartai yang relatif tersebar.
Tidak ada satu partai pun yang mendominasi mayoritas kursi. Bahkan, jika dilihat berdasarkan dapil, kekuatan partai berubah secara cukup signifikan.
Di Muna 1, enam kursi terbagi kepada enam partai berbeda, yakni NasDem, PDIP, Golkar, PKS, Demokrat dan Gerindra.
Bagi Yoga, konfigurasi tersebut menunjukkan Muna 1 sebagai salah satu wilayah dengan tingkat kompetisi paling terbuka.
“Muna 1 menunjukkan fragmentasi politik yang kuat. Enam kursi diisi enam partai berbeda. Artinya, tidak ada satu kekuatan yang benar-benar mampu mengunci arena politik di sana,” katanya.
Karakter berbeda terlihat di Muna 2.
Gerindra berhasil menjadi salah satu kekuatan utama di dapil tersebut, sementara kursi lainnya tersebar kepada PKS, Hanura dan PDIP.
Yoga membaca Muna 2 sebagai wilayah yang memiliki konsentrasi kekuatan politik lebih jelas dibandingkan beberapa dapil lainnya.
“Kalau dilihat dari pola kompetisinya, Muna 2 memiliki kecenderungan basis yang lebih terkonsolidasi. Gerindra terlihat memiliki posisi kuat, meskipun tetap tidak berarti kompetisi selesai,” ujarnya.
Muna 3 dan Politik Tiga Kekuatan
Muna 3 hanya memiliki tiga kursi, namun justru memperlihatkan persaingan tiga kekuatan politik utama.
PDIP, NasDem dan Demokrat masing-masing berhasil memperoleh satu kursi.
Dengan jumlah kursi yang terbatas, pertarungan politik di dapil ini menjadi lebih sensitif terhadap perubahan suara.
Menurut Yoga, dapil dengan jumlah kursi kecil memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dapil dengan alokasi kursi lebih besar.Perubahan dukungan dalam jumlah tertentu dapat langsung menggeser posisi partai dan kandidat.
“Di dapil seperti Muna 3, margin politik menjadi sangat penting. Perubahan kecil dalam struktur dukungan bisa menghasilkan perubahan besar dalam distribusi kursi,” katanya.
PKB-Golkar dan Pusat Gravitasi Politik di Muna 4 dan Muna 5
Muna 4 dan Muna 5 memperlihatkan konfigurasi yang berbeda.
Di Muna 4, PKB dan Golkar muncul sebagai dua kekuatan yang menonjol dalam struktur kompetisi, sementara PDIP, Gerindra dan PKS juga berhasil menempatkan wakilnya.
Sedangkan di Muna 5, PKB menjadi salah satu pusat gravitasi politik, meskipun kompetisi tetap berlangsung terbuka karena kursi juga berhasil diraih Gerindra, Golkar, NasDem dan Demokrat.
Kepada mitranusantara.id, Yoga menyebut Muna 5 menarik untuk diamati karena kekuatan utama tidak otomatis menciptakan dominasi tunggal.
“Menjadi partai dengan kekuatan terbesar di satu dapil tidak selalu berarti sudah menguasai seluruh medan politik. Di Muna 5, tetap ada distribusi kekuatan yang membuat kompetisi terbuka,” katanya.
Menurutnya, hal itu menjadi salah satu ciri penting politik Muna: kemenangan partai di satu wilayah belum tentu dapat direplikasi secara otomatis ke wilayah lain.
Muna 6, Arena Strategis dengan Tujuh Kursi
Perhatian khusus, menurut Yoga, perlu diberikan kepada Muna 6.
Dengan tujuh kursi, dapil ini menjadi wilayah dengan alokasi kursi terbesar dalam Pemilu DPRD Kabupaten Muna 2024.
Kursi di Muna 6 tersebar kepada sejumlah partai, antara lain Golkar, PKB, PDIP, Demokrat, Hanura, PBB dan satu kekuatan lainnya berdasarkan distribusi kursi hasil penetapan KPU.
Yoga menilai dapil dengan jumlah kursi besar memiliki nilai strategis dalam pembentukan kekuatan politik tingkat kabupaten.
“Muna 6 tidak hanya penting karena jumlah kursinya paling besar. Secara politik, dapil ini bisa menjadi salah satu arena penentu karena perubahan preferensi pemilih di sana dapat berdampak cukup besar terhadap komposisi kekuatan DPRD,” ujarnya.
Menurutnya, perebutan suara di dapil dengan tujuh kursi membutuhkan strategi yang berbeda.
Partai tidak cukup hanya mengandalkan figur kuat. Mereka juga membutuhkan kemampuan menjaga distribusi suara agar tidak terjadi konsentrasi berlebihan pada kandidat tertentu.
Tidak Ada Raja Tunggal
Dari keseluruhan konfigurasi tersebut, Yoga menarik satu kesimpulan besar, bahwa politik Muna 2024 tidak menghasilkan satu penguasa tunggal.
Setiap dapil memiliki “raja kecil” dengan basis kekuatan yang berbeda.
Gerindra memiliki arena kuatnya sendiri. PKB membangun pengaruh di wilayah tertentu. PDIP memiliki persebaran kursi paling merata. Golkar, NasDem, Demokrat, PKS, Hanura hingga PBB juga memiliki titik-titik basis politik masing-masing.
Inilah yang membuat politik Muna, menurut Yoga, menjadi menarik sekaligus sulit diprediksi jika hanya menggunakan pendekatan tradisional.
“Muna bukan lagi wilayah yang bisa dibaca dengan satu warna. Ada enam arena politik dengan enam karakter yang berbeda. Partai yang kuat di satu dapil belum tentu kuat di dapil lain,” jelasnya.
Ia menilai pola tersebut harus menjadi perhatian partai politik dalam menghadapi kontestasi berikutnya.
Bagi partai, mempertahankan suara lama saja tidak cukup.Peta Pemilu 2024 menunjukkan bahwa basis politik dapat berubah, terutama apabila terjadi perpindahan figur, perubahan koalisi, konflik internal partai, atau munculnya kandidat dengan jaringan sosial yang kuat.
Menuju Kontestasi Berikutnya
Lebih jauh Yoga mengatakan hasil Pemilu 2024, seharusnya tidak hanya dibaca sebagai catatan kemenangan lima tahunan.
Data tersebut dapat menjadi dasar untuk membangun strategi politik yang lebih terukur.
Di era digital, lagi-lagi menurut pemilik aplikasi myTimses itu, partai dan kandidat membutuhkan pembacaan yang lebih detail terhadap perilaku pemilih.
Bukan hanya mengetahui jumlah suara, tetapi juga memahami dari mana suara berasal, siapa yang menggerakkan dukungan, bagaimana pola loyalitas pemilih, hingga seberapa besar kemungkinan suara tersebut bertahan pada pemilu berikutnya.
“Politik hari ini tidak cukup hanya mengandalkan asumsi. Kita harus membaca data, membaca jaringan dan membaca perubahan perilaku pemilih,” kata Yoga.
Penulis buku Politik Tanpa Ilusi itu menilai Pemilu 2024 telah memberikan fondasi awal untuk membaca arah pertarungan politik Muna ke depan.
Namun, ia mengingatkan bahwa peta tersebut bukan sesuatu yang statis.
“Peta 2024 adalah foto dari satu momentum politik. Pertanyaannya sekarang adalah siapa yang mampu mempertahankan basisnya, siapa yang kehilangan jaringan, dan siapa yang mulai membangun kekuatan baru,” ujarnya.
Bagi Yoga, pertanyaan itulah yang akan menentukan arah politik Muna menuju kontestasi berikutnya.
Dan dari hasil Pemilu DPRD 2024, satu hal sudah terlihat cukup jelas bahwa
Tidak ada partai yang benar-benar menguasai seluruh Muna.
“Yang ada adalah enam arena, puluhan basis kekuatan, ratusan jaringan politik, dan pertarungan baru yang mulai bergerak bahkan sebelum pemilu berikutnya tiba,”pungkas Yoga.
Laporan: Novrizal R Topa



