MUNA, MITRANUSANTARA.ID – Menggaungnya situs Purbakala Liangkobori di Kabupaten Muna dinilai tidak hanya menjadi momentum pelestarian sejarah dan budaya, tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan ekonomi masyarakat melalui koperasi dan UMKM.
Kabupaten Muna dinilai memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak daerah lain di Indonesia, yakni perpaduan antara peradaban tua, kekayaan budaya, dan sumber daya alam yang masih sangat potensial untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Muna, Hajar Sosi, S.E., kepada mitranusantara.id, mengatakan bahwa pengembangan Liangkobori seharusnya tidak semata-mata dipandang sebagai pengembangan destinasi wisata, tetapi sebagai kawasan heritage yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Kabupaten Muna sendiri telah menunjukkan komitmennya dalam penguatan koperasi, termasuk melalui pembentukan dan legalisasi ratusan koperasi desa dalam berbagai program penguatan ekonomi masyarakat.
“Liangkobori memiliki nilai yang sangat besar. Jika dikelola dengan baik, kawasan ini bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Muna, tetapi juga mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis koperasi dan UMKM yang melibatkan masyarakat secara langsung,” ujarnya kepada mitranusantara.id, Jumat (24/7/2026).
Menurut mantan Camat Lohia ini, paradigma pengembangan kawasan heritage perlu diarahkan pada upaya pelestarian yang memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat tanpa mengorbankan nilai sejarah yang dimiliki situs tersebut.
Ia menjelaskan bahwa potensi Kabupaten Muna sesungguhnya sangat lengkap. Selain memiliki situs purbakala yang mulai dikenal secara nasional dan dunia, daerah ini juga memiliki komoditas unggulan seperti jambu mete, hasil perikanan, kelapa, kerajinan, kuliner lokal, hingga kekayaan budaya yang dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif.
“Tidak banyak daerah yang memiliki kombinasi antara sejarah peradaban, budaya yang masih hidup, dan sumber daya alam yang melimpah seperti Kabupaten Muna. Ini adalah modal besar yang harus kita kelola secara bersama-sama,” katanya kepada mitranusantara.id.
Hajar menilai, Liangkobori dapat menjadi lokomotif ekonomi baru apabila dikembangkan melalui sebuah ekosistem yang terintegrasi. Koperasi dapat mengambil peran strategis dalam mengelola berbagai potensi ekonomi yang lahir dari kawasan heritage tersebut.
Mulai dari pengelolaan homestay, pusat oleh-oleh, jasa pemandu wisata lokal, pelatihan UMKM, hingga pemasaran produk-produk unggulan Kabupaten Muna yang memiliki identitas budaya yang kuat.
Lebih jauh, ia membayangkan lahirnya produk-produk UMKM yang mengusung branding heritage Kabupaten Muna, seperti produk olahan mete premium, tenun khas Muna, kuliner tradisional, hingga merchandise edukasi seperti layang,-layang purba yang dapat mengangkat nilai sejarah dan budaya Liangkobori.
Namun demikian, Hajar mengingatkan bahwa pengembangan kawasan heritage harus tetap menempatkan aspek konservasi sebagai prioritas utama.
“Jangan sampai kita terlena hanya karena semakin banyak orang datang berkunjung. Yang paling penting adalah bagaimana situs ini tetap lestari dan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang nyata,” tegasnya.
Ia juga menilai bahwa Liangkobori memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pendidikan dan penelitian. Dengan ratusan satuan pendidikan yang dimiliki Kabupaten Muna, kawasan ini dapat dikembangkan menjadi laboratorium budaya dan sejarah yang memberikan pengalaman belajar langsung kepada generasi muda.
Menurutnya, pengembangan Liangkobori tidak perlu diarahkan menjadi wisata massal. Sebaliknya, kawasan tersebut dapat dibangun sebagai destinasi heritage berkualitas yang menawarkan pengalaman budaya, edukasi, dan pelestarian dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Kabupaten Muna tidak perlu menjadi Bali kedua atau meniru daerah lain. Muna cukup menjadi Muna. Kita memiliki identitas yang sangat kuat. Yang harus kita lakukan adalah mengelolanya dengan visi yang besar dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Laporan: Novrizal R Topa



