MUNA, MITRANUSANTARA.ID – Kabupaten Muna dinilai memiliki modal besar untuk menjadi pusat pengembangan koperasi dan UMKM berbasis budaya dan ekonomi kreatif di Indonesia Timur. Perpaduan antara kekayaan budaya, potensi sumber daya alam, dan keberadaan situs purbakala Liangkobori menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Muna, Hajar Sosi, S.E., mengatakan bahwa pengembangan koperasi dan UMKM di Kabupaten Muna tidak lagi dapat dipandang sebatas pada usaha simpan pinjam maupun perdagangan konvensional. Menurutnya, koperasi dan UMKM harus menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang mampu mengelola berbagai potensi lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
“Kabupaten Muna memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak daerah lain di Indonesia, yaitu perpaduan antara peradaban tua, kekayaan budaya, dan sumber daya alam yang sangat potensial untuk dikembangkan. Potensi ini harus mampu diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat melalui koperasi dan UMKM,” ujar Hajar Sosi.
Ia menuturkan, pengembangan koperasi dan UMKM dapat dilakukan melalui berbagai sektor, mulai dari produk olahan jambu mete, hasil perikanan, kuliner khas daerah, tenun Muna, hingga ekonomi kreatif yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan heritage Liangkobori.
Menurutnya, semakin dikenalnya Situs Purbakala Liangkobori harus menjadi momentum bagi masyarakat untuk menciptakan berbagai produk unggulan yang memiliki identitas khas Kabupaten Muna.
“Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton ketika Liangkobori semakin dikenal. Justru momentum ini harus dimanfaatkan untuk menghadirkan produk-produk UMKM yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Salah satu gagasan yang dinilai dapat dikembangkan adalah membangun ekosistem ekonomi heritage melalui koperasi dan UMKM. Konsep tersebut mencakup pengelolaan homestay, pusat oleh-oleh, jasa pemandu wisata, kuliner lokal, hingga produk-produk ekonomi kreatif yang mengangkat nilai sejarah dan budaya Muna.
Sementara itu, Ketua Wuna Kreatif, Nurkhayran Maret, menilai bahwa generasi muda Kabupaten Muna memiliki peran strategis dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Menurutnya, sudah saatnya potensi budaya dan sejarah Muna diterjemahkan menjadi produk kreatif yang memiliki daya saing di pasar nasional.
“Kita memiliki banyak cerita besar yang dapat dijadikan produk ekonomi kreatif. Mulai dari Liangkobori, sejarah peradaban Muna, tenun, hingga berbagai tradisi lokal yang sangat kaya. Semua itu dapat diolah menjadi produk UMKM yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” ujar Nurkhayran.
Ia mengatakan, ekonomi kreatif saat ini tidak lagi terbatas pada produk kerajinan tangan. Berbagai produk digital seperti desain grafis, ilustrasi, film pendek, buku, merchandise, hingga konten digital juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan oleh anak-anak muda di Kabupaten Muna.
Nurkhayran menambahkan bahwa keberadaan lebih dari 300 satuan pendidikan di Kabupaten Muna juga dapat menjadi pasar sekaligus ruang edukasi bagi pengembangan kewirausahaan berbasis produk lokal.
Menurutnya, diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku UMKM, komunitas kreatif, dan generasi muda untuk membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
“Kabupaten Muna tidak perlu meniru daerah lain. Kita memiliki identitas sendiri yang sangat kuat. Tinggal bagaimana seluruh potensi yang kita miliki dikemas menjadi kekuatan ekonomi masyarakat,” katanya.
Ia berharap, pengembangan koperasi dan UMKM di Kabupaten Muna ke depan dapat diarahkan pada lahirnya produk-produk unggulan yang memiliki branding khas Muna dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Dengan potensi heritage, budaya, dan sumber daya alam yang dimiliki, Kabupaten Muna dinilai memiliki peluang besar untuk mewujudkan visi sebagai pusat ekonomi kreatif berbasis koperasi, UMKM, dan pelestarian budaya di Indonesia Timur.
Laporan: Novrizal R Topa



