Oleh: Novrizal R Topa
Di Indonesia, ada satu kebiasaan kecil yang jarang dipikirkan orang, tapi menarik untuk dibahas. Hampir semua orang menyebut traffic light sebagai “lampu merah”. Padahal di sana ada tiga warna: merah, kuning, dan hijau. Namun yang diingat justru merahnya.
Orang bilang: “Belok kiri di lampu merah.” “Atur ketemu di lampu merah.” “Macet sekali tadi di lampu merah.”
Tidak ada yang bilang “lampu hijau” atau “lampu lalu lintas” dalam percakapan sehari-hari. Seolah-olah warna merah menjadi bagian paling penting dari seluruh sistem itu.
“Dan mungkin memang demikian, sebab merah adalah tanda berhenti”.
Dalam hidup manusia, rupanya kemampuan berhenti memang jauh lebih sulit dibanding kemampuan berjalan atau berlari.
Pikiran itu tiba-tiba terasa dekat ketika Idul Adha datang. Hari raya kurban sering dipahami sebatas penyembelihan hewan, pembagian daging, atau tradisi tahunan yang terus berulang. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, Idul Adha sebenarnya sedang mengajarkan manusia tentang satu hal penting, yakni tentang mengendalikan diri.
“Tentang bagaimana seseorang belajar berhenti dari keinginannya sendiri”.
Kisah Nabi Ibrahim AS bukan kisah ringan. Itu bukan sekadar cerita yang selesai dibaca lalu dilupakan setelah salat Ied. Di dalamnya ada pergulatan batin seorang manusia yang diuji melalui sesuatu yang paling dicintainya.
Dan dalam ujian itu, Nabi Ibrahim memperlihatkan sesuatu yang hari ini terasa makin mahal: kepatuhan dan keikhlasan.
Di zaman sekarang, manusia begitu terbiasa mengejar banyak hal. Mengejar uang, jabatan, pengakuan, popularitas, dan berbagai ukuran dunia lainnya. Tidak sedikit yang akhirnya hidup tanpa rem. Semua ingin cepat. Semua ingin lebih dulu. Semua ingin menang. Bahkan, kadang sampai lupa bertanya: “Untuk apa semua ini?”
Di jalan raya, orang yang menerobos lampu merah biasanya punya satu alasan sederhana, “tidak mau menunggu”. Padahal justru karena tidak mau berhenti, kecelakaan sering terjadi.Hal yang sama sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak persoalan lahir bukan karena manusia tidak mampu berjalan, tetapi karena tidak mampu menahan diri. Tidak mampu berhenti ketika marah. Tidak mampu berhenti ketika serakah. Tidak mampu berhenti ketika merasa paling benar.
Idul Adha seakan datang setiap tahun untuk mengingatkan kembali bahwa hidup ini membutuhkan batas.Bahwa tidak semua keinginan harus dituruti. Bahwa ada saat ketika manusia harus rela melepaskan sesuatu demi nilai yang lebih besar.
Makna kurban sebenarnya juga tidak berhenti pada hewan yang disembelih. Yang jauh lebih sulit justru menyembelih ego dalam diri sendiri.
Menyembelih kesombongan. Menyembelih iri hati. Menyembelih rasa tamak. Menyembelih sifat ingin menang sendiri.
Itu jauh lebih berat, karena hewan kurban bisa dibeli di pasar, tetapi keikhlasan tidak bisa dibeli di mana pun.
Mungkin itu sebabnya Idul Adha selalu terasa relevan, kapan pun zamannya. Di tengah kehidupan yang semakin bising, manusia sebenarnya sedang membutuhkan banyak “lampu merah” dalam hidupnya.
Tanda untuk berhenti sejenak. Tanda untuk berpikir ulang. Tanda agar tidak melaju terlalu jauh sampai kehilangan arah.
Dan menariknya, masyarakat Indonesia tanpa sadar memilih “lampu merah” sebagai istilah yang paling melekat dalam keseharian.Mungkin karena manusia memang paling sering diingatkan oleh kata “berhenti”.
“Berhenti sebelum melukai. Berhenti sebelum berlebihan. Berhenti sebelum terlambat”.
Sebab dalam hidup, tidak semua hal harus diterobos.


