KENDARI, MITRANUSANTARA.ID – Potensi minyak dan gas bumi (migas) di Sulawesi Tenggara kembali menjadi perhatian. Setelah melakukan survei dan pengumpulan data sejak 2022, Pertamina Hulu Energi (PHE) Sulawesi Melati bersama SKK Migas terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan kalangan akademisi untuk mendukung pengembangan sektor energi di kawasan timur Indonesia.
Upaya tersebut mengemuka dalam kegiatan koordinasi usaha hulu migas yang dihadiri Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, Bupati Konawe Kepulauan Rifqi Saifullah Razak bersama jajaran SKK Migas Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul), Pertamina Hulu Energi Sulawesi Melati, serta akademisi dari Universitas Halu Oleo (UHO), di Kendari, Kamis (11/6/2026).
Pertemuan itu tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan kunjungan kehormatan, tetapi juga forum strategis untuk memaparkan perkembangan kegiatan eksplorasi migas yang tengah berlangsung di sejumlah wilayah Sulawesi.
Dalam pemaparannya, manajemen PHE Sulawesi Melati mengungkapkan bahwa kegiatan survei dan eksplorasi telah berjalan selama empat tahun terakhir. Wilayah kerja yang dipetakan mencakup kawasan Sulawesi Tengah, Konawe Utara, perairan Sulawesi Tenggara, Bombana, Kolaka, Kolaka Utara hingga wilayah Sengkang.
Data-data yang diperoleh dari berbagai kegiatan lapangan tersebut menjadi bagian penting dalam proses identifikasi dan pemetaan potensi sumber daya migas yang diyakini masih cukup besar di kawasan Sulawesi.
Pjs General Manager PHE Sulawesi Melati, Ferdy, bersama tim proyek Wilayah Kerja Melati menjelaskan bahwa seluruh tahapan yang dilakukan saat ini masih berfokus pada pengumpulan dan analisis data geologi sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengembangan sektor hulu migas ke depan.
Selain melibatkan tenaga ahli dari perusahaan, kegiatan tersebut juga menggandeng akademisi lokal, khususnya dari Jurusan Teknik Geologi Universitas Halu Oleo. Kolaborasi itu dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia daerah sekaligus memperluas keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan sektor energi nasional.
PHE Sulawesi Melati memberikan apresiasi terhadap kontribusi para akademisi UHO yang selama ini mendukung berbagai kegiatan survei lapangan dan kajian geologi di wilayah Sulawesi Tenggara.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, menyambut positif langkah koordinasi yang dilakukan SKK Migas dan PHE Sulawesi Melati. Menurutnya, komunikasi yang baik antara pemerintah daerah dan pelaku industri energi sangat penting untuk memastikan setiap investasi yang masuk dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Kendari mendukung berbagai investasi yang dijalankan secara sehat, berkelanjutan, serta tetap mematuhi ketentuan hukum dan regulasi yang berlaku.
“Kami menyambut baik koordinasi ini sebagai upaya memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan sektor energi. Investasi yang sehat tentu akan memberikan dampak positif terhadap pembangunan daerah dan peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar Sudirman.
Menurutnya, sektor energi memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, baik melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan aktivitas usaha, maupun peluang kolaborasi dengan berbagai sektor pendukung lainnya.
Keberadaan Kendari sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara juga dinilai memiliki posisi strategis dalam mendukung aktivitas operasional dan koordinasi sektor migas yang berkembang di kawasan timur Indonesia.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Manager Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Kalsul Lely MW Sondakh, Public Relation Specialist Nindya Puspaningtyas, Media and Communication Specialist Kiki Widiyanto, Project Manager Wilayah Kerja Melati Eka Nugraha, Manager Communication Relations & Community Investment Development (CID) Rahmat Drajat, serta Sony Aditya dari bidang Communication Relations & CID.
Dengan potensi sumber daya yang masih terus dipetakan, Sulawesi Tenggara dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu kawasan pengembangan energi masa depan. Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, SKK Migas, pelaku industri, dan perguruan tinggi dianggap menjadi kunci dalam memastikan potensi tersebut dapat dikelola secara optimal dan memberikan manfaat jangka panjang bagi pembangunan daerah.
Penulis : Sumarlin



