Oleh: Molesara, S.I.Kom
Pembina Yayasan Rumah Kita Pointau
KENDARI, MITRANUSANTARA.ID – Tidak banyak tokoh politik di Sulawesi Tenggara yang mampu meninggalkan jejak pembangunan yang dapat dilihat dan dirasakan secara nyata oleh masyarakat di berbagai generasi. Ridwan Bae merupakan salah satunya. Pengabdiannya tidak hanya tercatat dalam lembaran sejarah politik, tetapi juga hadir dalam berbagai pembangunan fisik yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sulawesi Tenggara hingga hari ini.
Julukan “Bapak Pembangunan Sulawesi Tenggara” bukanlah sekadar slogan politik. Julukan ini lahir dari perjalanan panjang pengabdiannya selama menjadi Bupati Muna dua periode dan anggota DPR RI selama tiga periode berturut-turut. Ia adalah sosok yang membuktikan bahwa politik dapat menjadi instrumen untuk memperjuangkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Ketika memimpin Kabupaten Muna pada periode 2000 hingga 2010, Ridwan Bae berhasil mengubah wajah Kota Raha. Salah satu karya monumental yang hingga kini menjadi ikon Kabupaten Muna adalah pembangunan kawasan Pinggir Laut Raha. Dahulu kawasan tersebut merupakan wilayah pesisir yang kemudian ditimbun dan ditata menjadi ruang publik yang representatif. Saat ini, Pinggir Laut Raha telah menjadi pusat aktivitas masyarakat, mulai dari olahraga, wisata kuliner, hingga berbagai kegiatan sosial dan budaya masyarakat Muna.
Namun, kontribusi Ridwan Bae tidak berhenti di Kabupaten Muna. Justru setelah melangkah ke tingkat nasional sebagai anggota DPR RI, cakupan pengabdiannya semakin luas untuk seluruh wilayah Sulawesi Tenggara. Sebagai legislator yang bertugas di Komisi V DPR RI dan kini dipercaya sebagai Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae memiliki ruang perjuangan yang sangat strategis dalam sektor pembangunan infrastruktur nasional. Ia memanfaatkan posisi tersebut untuk memperjuangkan berbagai program pembangunan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat Sulawesi Tenggara.
Selama tiga periode di DPR RI, berbagai bantuan dan program pembangunan berhasil diperjuangkan untuk kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara. Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau bedah rumah telah membantu ribuan masyarakat berpenghasilan rendah mendapatkan hunian yang lebih layak. Pembangunan dan rehabilitasi jalan serta jembatan menjadi bagian penting dari upayanya meningkatkan konektivitas antarwilayah.
Di sektor pertanian, perjuangannya menghadirkan pembangunan jaringan irigasi dan bendungan menjadi bukti nyata keberpihakannya kepada para petani. Infrastruktur pertanian yang memadai menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Salah satu proyek strategis yang terus didorong oleh Ridwan Bae adalah pembangunan Bendungan Pelosika di Kabupaten Konawe. Proyek yang sempat tidak lagi menjadi prioritas pembangunan nasional tersebut berhasil diperjuangkan kembali hingga masuk dalam proyek strategis yang diharapkan mampu mendukung ketahanan pangan dan penyediaan air baku bagi masyarakat Sulawesi Tenggara.
Tidak hanya itu, Ridwan Bae juga menjadi salah satu tokoh yang konsisten memperjuangkan pembangunan infrastruktur konektivitas antar pulau di Sulawesi Tenggara, termasuk gagasan pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Muna dengan Pulau Buton maupun Pulau Sulawesi. Gagasan besar tersebut lahir dari visinya untuk menghapus kesenjangan pembangunan antarwilayah dan mempercepat pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tenggara.
Di Kota Kendari, Ridwan Bae turut mengawal percepatan pembangunan infrastruktur perkotaan, mulai dari peningkatan kualitas jalan, sistem drainase, hingga penanganan banjir. Menurutnya, sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia, Sulawesi Tenggara harus didukung oleh infrastruktur yang modern dan memadai.
Apa yang menarik dari perjalanan politik Ridwan Bae adalah konsistensinya dalam memperjuangkan pembangunan yang merata. Ia tidak pernah membatasi perjuangannya hanya untuk daerah asalnya. Program-program pembangunan yang diperjuangkannya tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara, mulai dari Muna, Muna Barat, Buton, Buton Tengah, Buton Selatan, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Kolaka, Kolaka Timur, Kolaka Utara, Bombana, Wakatobi, hingga Kota Kendari dan Kota Baubau.
Bagi Ridwan Bae, pembangunan Sulawesi Tenggara tidak dapat dilakukan secara parsial. Kemajuan sebuah daerah harus berjalan beriringan dengan kemajuan daerah lainnya. Karena itu, setiap peluang pembangunan yang tersedia di tingkat nasional selalu diperjuangkannya agar dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Sulawesi Tenggara.
Hari ini, masyarakat mungkin menikmati sebuah jembatan tanpa mengetahui siapa yang memperjuangkannya di pusat. Petani dapat mengairi sawahnya melalui saluran irigasi yang memadai tanpa mengetahui panjangnya proses perjuangan menghadirkan anggaran pembangunan. Ribuan keluarga dapat tinggal di rumah yang lebih layak melalui program bedah rumah tanpa mengetahui bagaimana program tersebut diperjuangkan di tingkat nasional.
Itulah esensi pengabdian seorang pemimpin. Ia tidak selalu hadir melalui pidato yang panjang, tetapi melalui karya yang terus memberi manfaat bagi masyarakat.
Ridwan Bae telah membuktikan bahwa jabatan hanyalah alat untuk mengabdi. Dua periode sebagai Bupati Muna telah mengubah wajah daerahnya. Tiga periode sebagai anggota DPR RI telah membuka jalan pembangunan bagi Sulawesi Tenggara. Jejak pengabdiannya tidak hanya terukir di Kabupaten Muna, tetapi tersebar di seluruh pelosok Bumi Anoa.
Maka, menyebut Ridwan Bae sebagai “Bapak Pembangunan Sulawesi Tenggara” bukanlah sebuah hiperbola. Julukan itu adalah refleksi dari karya, konsistensi, dan dedikasi panjangnya dalam membangun daerah yang dicintainya.



