Penulis : Redaksi

PEKALONGAN, MITRANUSANTARA.ID – Suasana Kedai SIIP Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan pada Minggu malam 30 Mei 2026, dipenuhi diskusi hangat tentang lingkungan, gaya hidup, dan masa depan Pekalongan. Puluhan peserta dari PMII, GP Ansor, komunitas lingkungan, hingga pegiat sosial berkumpul setelah menyaksikan film dokumenter Menolak Punah karya Dandhy Dwi Laksono dan Aji Yahuti.

Film tersebut menjadi titik awal perbincangan mengenai berbagai persoalan ekologis yang dihadapi masyarakat saat ini, termasuk kondisi Pekalongan yang dikenal sebagai salah satu sentra industri batik nasional.

Diskusi yang dipandu oleh tiga pemantik ini langsung memantik pemikiran kritis sejak sesi pertama.

Kiyai Zakfaron, sebagai pemantik pertama dalam diskusi tersebut, mengangkat fenomena yang menarik perhatian. Di satu sisi, Pekalongan masih menghadapi persoalan pencemaran limbah industri, terutama limbah cair. Namun di sisi lain, angka harapan hidup masyarakat justru terus menunjukkan peningkatan.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh membuat masyarakat merasa persoalan lingkungan telah selesai. Ia mengingatkan bahwa dampak kerusakan lingkungan sering kali tidak muncul secara langsung, melainkan membutuhkan waktu panjang sebelum benar-benar dirasakan oleh generasi berikutnya.

Sebagai contoh sederhana tentang gaya hidup yang lebih berkelanjutan, ia menunjukkan pakaian yang dikenakannya malam itu, yang telah digunakan dan dirawat selama lebih dari satu dekade. Baginya, menjaga dan memanfaatkan barang dalam jangka panjang merupakan bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan.

Baca Juga  Ketua DWP Kota Kendari Ajak Istri Pejabat Jadi Agen Perubahan Hapus Kekerasan terhadap Perempuan

Pembicara atau pemantik berikutnya, ialah Muhammad Burhan,. Ia membagikan pengalaman yang lebih dari sepuluh tahun lalu, saat masih aktif sebagai jurnalis tatkala meliput isu pencemaran lingkungan di Pekalongan.

Burhan menilai perdebatan antara kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan masih menjadi persoalan yang terus berulang hingga sekarang.

Menurut Burhan, alasan pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja kerap digunakan untuk meredam kritik terhadap dampak lingkungan dari aktivitas industri. Padahal, kata dia, keduanya seharusnya dapat berjalan beriringan melalui tata kelola yang lebih baik.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah dalam menyediakan fasilitas pengolahan limbah yang memadai agar tanggung jawab menjaga lingkungan tidak hanya dibebankan kepada pelaku usaha kecil.

Selain itu, Burhan mengingatkan bahwa Pekalongan perlu terus mengevaluasi dirinya sebagai daerah yang memiliki identitas kuat sebagai kota batik sekaligus kota santri.

“Nilai-nilai keagamaan dan budaya semestinya menjadi landasan dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan,” ujar Burhan.

Sementara itu pemantik ketiga, Yoga Rifai Hamzah, Founder Smestech myCodes Indonesia sekaligus Ketua Forum TBM Kota Pekalongan, mengajak peserta melihat persoalan lingkungan dari sudut pandang yang lebih luas. Ia menilai pola konsumsi masyarakat modern turut berkontribusi terhadap berbagai persoalan ekologis.

Baca Juga  Hadapi Transformasi Digital, Astra Motor Xperience Centre Gelar Ngobrol Santai Bersama Gen Z

Yoga menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital dan media sosial sering kali mendorong masyarakat untuk membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan tren dan keinginan untuk mengikuti gaya hidup tertentu.

Menurutnya, fenomena tersebut melahirkan budaya konsumtif yang pada akhirnya meningkatkan produksi barang, penggunaan sumber daya alam, hingga emisi karbon. Bahkan aktivitas digital yang tampak sederhana pun memiliki dampak lingkungan karena membutuhkan infrastruktur teknologi yang mengonsumsi energi dalam jumlah besar.

Dalam perspektif nilai keagamaan, Yoga mengaitkan perilaku konsumtif berlebihan dengan konsep israf, yakni sikap melampaui batas dalam menggunakan sumber daya. Ia menilai upaya menjaga lingkungan perlu dimulai dari kesadaran individu untuk hidup lebih sederhana dan secukupnya.

Diskusi yang berlangsung selama beberapa jam itu tidak berhenti pada kritik. Para peserta juga membahas langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lebih bijak dalam berbelanja, membedakan kebutuhan dan keinginan, hingga memperpanjang masa pakai barang yang dimiliki sebagai bagian dari praktik slow fashion.

Baca Juga  Kapal Plastic Odyssey Bersandar di Kendari: Memerangi Polusi Plastik dengan Inovasi

Menutup acara, Ketua GP Ansor Kabupaten Pekalongan, Gus Achmad Fawaid, mengingatkan peserta agar tidak terjebak dalam ruang gema (echo chamber) media sosial yang sering kali membatasi sudut pandang masyarakat terhadap berbagai persoalan.

Menurutnya, nilai kesantrian tidak cukup diwujudkan dalam ritual keagamaan semata, tetapi juga harus hadir dalam kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan. Ia mengajak generasi muda untuk aktif mengawal kebijakan publik, memperkuat kesadaran ekologis, dan menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dengan keberlanjutan alam.

Malam iini, diskusi tentang film Menolak Punah menjadi lebih dari sekadar kegiatan menonton bersama. Ia menjelma menjadi ruang refleksi tentang bagaimana Pekalongan dapat terus tumbuh sebagai pusat industri dan budaya, tanpa mengabaikan tanggung jawab menjaga lingkungan bagi generasi yang akan datang.

Laporan: Novrizal R Topa

Visited 3 times, 3 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow