KENDARI, MITRANUSANTARA.ID – Musyawarah Provinsi Indonesia Cycling Federation (ICF) Sulawesi Tenggara digelar di Kendari, Sabtu (14/3/2026). Forum organisasi olahraga sepeda tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi kepengurusan sekaligus merumuskan arah pembinaan atlet di daerah.
Kegiatan ini dihadiri Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat ICF, Jadi Rajagukguk yang mewakili Ketua Umum ICF, Listyo Sigit Prabowo. Turut hadir Sekretaris Umum KONI Provinsi Sulawesi Tenggara, La Sawali, karateker Ketua ICF Sultra Yufi, serta pengurus cabang olahraga sepeda dari berbagai kabupaten dan kota.
Dalam sambutannya, Sekjen ICF Jadi Rajagukguk menegaskan bahwa organisasi olahraga sepeda di Indonesia saat ini tengah menjalani transformasi besar, baik dari sisi struktur organisasi maupun sistem pembinaan atlet.
Ia menjelaskan bahwa sebelumnya organisasi olahraga sepeda dikenal dengan nama Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI). Namun melalui Musyawarah Nasional tahun 2024–2025 di Jakarta, disepakati perubahan nama organisasi menjadi Indonesia Cycling Federation (ICF) serta perubahan struktur kepengurusan dari Pengurus Besar menjadi Pengurus Pusat.

Menurutnya, perubahan tersebut bukan sekadar pergantian nama, tetapi merupakan transformasi mendasar yang bertujuan memperkuat manajemen organisasi sekaligus meningkatkan prestasi atlet sepeda di Indonesia.
“Transformasi ini dilakukan dari hal yang paling kecil hingga yang besar, mulai dari organisasi, kepengurusan, hingga orientasi yang lebih kuat pada prestasi atlet,” ujar Jadi Rajagukguk.
Salah satu perubahan penting yang akan diterapkan adalah sistem poin bagi atlet sepeda di seluruh Indonesia. Sistem ini akan menjadi tolok ukur dalam menentukan kelayakan atlet mengikuti berbagai kompetisi, mulai dari tingkat daerah hingga nasional.
Ia mencontohkan, dalam ajang multi-event seperti SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade, penilaian atlet didasarkan pada poin yang diperoleh melalui kompetisi.
“Ke depan kita menerapkan sistem poin. Atlet tidak bisa langsung ikut kejuaraan besar tanpa memiliki poin yang cukup. Poin itu diperoleh melalui kompetisi yang berjenjang,” jelasnya.
Untuk itu, ICF mendorong agar kompetisi digelar secara berkelanjutan mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional. Kompetisi tersebut menjadi sarana bagi atlet untuk mengumpulkan poin sekaligus meningkatkan kualitas prestasi.
Selain pembinaan atlet, ICF juga menyiapkan program pengembangan sumber daya manusia di bidang kepelatihan dan perwasitan. Program tersebut mencakup pelatihan pelatih serta standarisasi kompetensi bagi komiser atau wasit dalam setiap kejuaraan.
Menurut Jadi Rajagukguk, pengembangan ekosistem olahraga sepeda harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari atlet, pelatih, wasit, hingga penyelenggaraan kompetisi dan penyediaan venue yang memadai.
Ia juga menilai Sulawesi Tenggara memiliki potensi besar untuk mengembangkan cabang olahraga sepeda, khususnya pada disiplin road dan mountain bike (MTB). Kondisi geografis yang memiliki banyak kawasan perbukitan dinilai sangat mendukung pengembangan MTB.
Selain itu, olahraga sepeda juga dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari sport tourism atau pariwisata olahraga di daerah.
“Sepeda ini sudah menjadi bagian dari industri sport tourism. Dengan event yang baik, daerah bisa mendapatkan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan prestasi olahraga,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Umum KONI Sulawesi Tenggara La Sawali menyebut Musprov ICF menjadi momentum strategis bagi pembinaan olahraga sepeda di daerah.
Ia menilai transformasi yang dilakukan ICF, terutama melalui sistem poin, akan membuat proses pembinaan atlet menjadi lebih profesional dan transparan.
“Ke depan pembinaan atlet akan semakin ketat karena semuanya berbasis poin. Atlet harus berproses dari tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional. Tidak bisa lagi hanya karena kedekatan atau rekomendasi semata,” tegasnya.
La Sawali juga berharap kepengurusan ICF Sulawesi Tenggara yang terbentuk nantinya mampu membangun sinergi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, KONI, serta komunitas olahraga sepeda di daerah.
Musyawarah Provinsi ICF Sulawesi Tenggara ini sekaligus menjadi forum untuk memilih kepengurusan baru serta menyusun program kerja organisasi dalam upaya meningkatkan prestasi atlet sepeda di daerah.
Melalui semangat sinergitas tanpa batas, seluruh unsur organisasi diharapkan dapat memperkuat koordinasi, komunikasi, serta kerja sama demi mendorong kemajuan olahraga sepeda di Sulawesi Tenggara menuju prestasi yang lebih tinggi.
Penulis: Sumarlin


