Penulis : Redaksi

Ketika negeri telah melupakan perang, seorang veteran masih mengingat nama-nama mereka yang tak pernah pulang

JAKARTA – Ada ingatan yang tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu.

Ia hanya berpindah tempat: dari medan perang ke kepala seorang prajurit, dari hutan Kalimantan ke ruang tamu sebuah rumah sederhana, dari suara tembakan menjadi cerita yang disampaikan dengan suara bergetar.

Selasa, 11 Agustus 2026.

Sehari setelah Hari Veteran Nasional.

Di hadapan perwakilan Komenwa Indonesia, Dr. Muhamad Ariston, dan wartawan Mitra Nusantara, Peltu TNI (Purn.) Manaor Nababan duduk tenang. Usianya telah lebih dari delapan dekade. Tubuhnya memang tak lagi seperti seorang prajurit muda yang pernah menembus hutan dan perairan Kalimantan.

Tetapi ketika pembicaraan memasuki tahun 1964, sorot matanya berubah.

Ada sesuatu yang kembali hidup.

“Berangkat malam. Berenang. Jalan hutan. Semua serba diam.”

Kalimat pendek itu membawa ingatan Manaor kembali lebih dari enam puluh tahun.

Ke masa ketika Indonesia dan Malaysia berada dalam pusaran Konfrontasi, konflik bersenjata yang berlangsung pada 1963–1966 dan melibatkan wilayah Kalimantan serta kawasan sekitar Malaysia.

Bagi sebagian besar generasi hari ini, Dwikora mungkin hanya sebuah kata dalam buku sejarah.

Bagi Manaor, Dwikora adalah bagian dari hidupnya.

Dan bagi sejumlah rekannya, perang itu adalah tempat terakhir mereka mengembuskan napas.

Prajurit yang Berperang dalam Diam

Manaor bukan prajurit yang ditugaskan berdiri di garis depan dengan senapan terhunus.

Ia adalah bagian dari unsur intelijen tempur KKO Angkatan Laut, cikal bakal Korps Marinir TNI AL.

Dalam operasi seperti itu, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh berapa banyak peluru yang ditembakkan.

Informasi bisa lebih berharga daripada peluru.

Posisi musuh.

Kekuatan pasukan.

Jalur pergerakan.

Tempat pendaratan.

Kondisi wilayah.

Semuanya harus diketahui tanpa membuat musuh mengetahui keberadaan mereka.

Karena itu, pekerjaan Manaor adalah pekerjaan yang nyaris tidak terlihat.

Menyusup.

Mengamati.

Mencatat.

Melaporkan.

Lalu keluar tanpa diketahui.

Jika berhasil, tidak ada tepuk tangan.

Jika gagal, nyawa menjadi taruhannya.

Sebuah catatan sejarah yang pernah memuat kesaksian Manaor menyebut bahwa ia merupakan salah satu anggota intelijen tempur KKO yang mendapat latihan khusus di Pulau Mandul, Kalimantan Timur, sebelum ditugaskan dalam operasi di sekitar Tawau.

Di situlah paradoks seorang prajurit intelijen.

Semakin baik ia menjalankan tugas, semakin sedikit orang yang tahu bahwa ia pernah berada di sana.

Malam Ketika Misi Berubah Menjadi Bencana

Operasi yang dijalankan Manaor tidak berjalan sebagaimana direncanakan.

Informasi mengenai pergerakan tim mulai terbuka.

Beberapa anggota pasukan tertangkap.

Jaringan penghubung yang seharusnya menjadi mata dan telinga di wilayah operasi sudah tidak dapat digunakan.

Baca Juga  Pelayanan Dinilai dari Loket, Pemkot Kendari Siapkan OPD Hadapi Penilaian Ombudsman

Dalam operasi intelijen, keadaan seperti itu sangat berbahaya.

Ketika satu mata tertutup, seluruh jaringan bisa menjadi buta.

Manaor akhirnya tertangkap.

Dan sejak saat itu, perang baginya berubah bentuk.

Ia tidak lagi berhadapan dengan hutan, sungai, patroli, atau kapal perang.

Ia berhadapan dengan tembok.

Penjara Jesselton

Nama lama kota yang kini dikenal sebagai Kota Kinabalu itu menyimpan salah satu bagian paling kelam dalam ingatan Manaor.

Di tempat itulah seorang prajurit yang berangkat dari Indonesia untuk menjalankan tugas negara berubah status menjadi tahanan.

Menurut kesaksiannya, ia dan sejumlah prajurit Indonesia tidak diperlakukan sebagai tawanan perang, melainkan dianggap sebagai pelaku kriminal atau “penjahat perang”.

Kami dianggap kriminal, bukan tentara.

Kalimat itu disampaikan lirih.

Tetapi justru karena lirih, ia terasa lebih berat.

Sumber sejarah mengenai masa Konfrontasi menunjukkan bahwa Jesselton memang menjadi salah satu lokasi penahanan dalam konteks konflik tersebut. Dokumen parlemen Malaya tahun 1965 bahkan mencatat perlunya penambahan tempat tahanan di Jesselton dan Kuching karena penjara dan kamp tahanan dipenuhi orang-orang yang ditahan selama masa konfrontasi.

Bagi Manaor, semua itu bukan sekadar catatan administrasi.

Ia menjalaninya.

Dua Tahun yang Tidak Pernah Hilang dari Ingatan

Dua tahun.

Bagi orang yang hidup dalam keadaan normal, dua tahun mungkin terasa singkat.

Tetapi bagi seorang tahanan perang yang jauh dari tanah air, dua tahun dapat menjadi dunia yang sangat panjang.

Hari berganti.

Minggu berganti.

Bulan berganti.

Dan seorang prajurit hanya bisa menunggu.

Tidak tahu kapan kebebasan datang.

Tidak tahu bagaimana nasib keluarganya.

Tidak tahu siapa saja rekan yang masih hidup.

Dan yang paling menyakitkan:

tidak tahu siapa yang tidak akan pernah kembali.

Ketika akhirnya Manaor kembali ke Indonesia, perang memang perlahan menjadi sejarah.

Tetapi bagi dirinya, perang belum selesai.

Sebab ada satu hal yang tidak ikut pulang bersamanya.

Teman-temannya.

“Mereka Masih di Sana”

Di sinilah cerita Manaor menjadi lebih dari sekadar kisah seorang mantan prajurit.

Ia menjadi cerita tentang ingatan.

Tentang orang-orang yang namanya mungkin tidak pernah masuk buku pelajaran.

Tentang jasad yang tidak pernah dibawa pulang.

Tentang keluarga yang mungkin hanya menerima kabar bahwa seorang anak, suami, ayah atau saudara mereka “gugur dalam tugas”.

Dan tentang seorang veteran yang, puluhan tahun kemudian, masih mengingatnya.

“Mereka gugur di perbatasan.”

Manaor berhenti sejenak.

Suaranya mulai berat.

Sampai hari ini jenazah dan kerangkanya belum diambil. Mereka gugur demi negara.

Baca Juga  Pemkot Kendari Benahi TPA Puuwatu, Targetkan Sistem Pengelolaan Sampah Lebih Modern

Kalimat itu menjadi titik paling emosional dalam pertemuan tersebut.

Bukan ketika ia bercerita tentang dirinya.

Bukan ketika ia menceritakan penjara.

Melainkan ketika ia berbicara tentang mereka yang tidak pernah pulang.

Dalam kesaksiannya, Manaor berharap apabila masih memungkinkan, sisa-sisa jasad para prajurit yang gugur di wilayah operasi dapat ditemukan dan dipulangkan.

Harapan itu sederhana.

Tetapi sesungguhnya sangat besar.

Sebab bagi seorang veteran, perang mungkin telah berakhir.

Namun kewajiban menghormati orang yang gugur tidak pernah berakhir.

Di Balik Nama-Nama yang Hilang

Operasi Dwikora bukan hanya cerita tentang satu kesatuan.

Di dalamnya terlibat berbagai unsur kekuatan Indonesia.

Manaor menyebut KKO Marinir, PGT TNI Angkatan Udara, RPKAD Angkatan Darat, hingga Resimen Pelopor Brimob Polri.

Sejarah resmi sering kali menyajikan perang dalam bentuk operasi, tanggal, peta, komando dan angka korban.

Namun veteran seperti Manaor menyimpan sejarah dalam bentuk yang berbeda.

Nama.

Wajah.

Suara.

Teman seperjalanan.

Teman yang pernah berbagi makanan.

Teman yang pernah berjalan dalam kegelapan.

Teman yang mungkin pernah bercanda sebelum berangkat.

Lalu hilang.

Karena itu, kesaksian veteran bukan sekadar cerita masa lalu.

Ia adalah arsip manusia.

Dan arsip semacam ini memiliki batas waktu.

Ketika generasi mereka pergi, cerita itu bisa ikut hilang.

Hari Veteran dan Pertanyaan tentang Ingatan Bangsa

Pada 10 Agustus 2026, Indonesia kembali memperingati Hari Veteran Nasional.

Tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Veteran Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 2014.

Makna peringatan itu seharusnya tidak berhenti pada upacara, tabur bunga atau penghormatan seremonial.

Sebab veteran bukan hanya orang yang pernah memakai seragam.

Veteran adalah manusia yang pernah mempertaruhkan hidupnya ketika negara membutuhkan mereka.

Dan pengalaman Manaor Nababan menunjukkan bahwa pengabdian itu mempunyai banyak wajah.

Ada yang gugur.

Ada yang terluka.

Ada yang menjadi tawanan.

Ada yang pulang.

Ada pula yang pulang dengan membawa kenangan yang tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan.

Karena itu, tema Hari Veteran Nasional 2026, “Teladan Perjuangan, Inspirasi Pengabdian, Warisan Patriotisme untuk Generasi Penerus”, menjadi sangat relevan jika diterjemahkan bukan sekadar sebagai slogan, tetapi sebagai pekerjaan nyata untuk menjaga ingatan sejarah.

Manaor adalah salah satu contoh nyata dari tiga kata tersebut:

Perjuangan.

Ia pernah menjalankan tugas dalam situasi perang.

Pengabdian.

Ia mempertaruhkan kebebasannya dan hidupnya untuk menjalankan perintah negara.

Warisan.

Kini, ketika usianya telah lanjut, yang dapat ia berikan kepada generasi berikutnya bukan lagi tenaga seorang prajurit.

Melainkan cerita.

Baca Juga  Fahri Hamzah Tinjau Kawasan Kumuh Poasia, Soroti Potensi Wisata Pesisir Papalimba

Dari Hutan Kalimantan ke Generasi Digital

Ada ironi dalam perjalanan sejarah.

Generasi Manaor berjuang mempertahankan kepentingan negara di medan yang penuh hutan, sungai, laut dan senjata.

Generasi sekarang menghadapi medan yang berbeda.

Perang tidak selalu datang dengan kapal perang.

Tidak selalu dengan pasukan bersenjata.

Tidak selalu terdengar suara tembakan.

Tetapi nilai yang dibutuhkan tetap sama:

keberanian,

disiplin,

kesetiaan,

persatuan,

dan kecintaan kepada tanah air.

Karena itu, mengenang veteran bukan berarti mengajak generasi muda untuk memuja perang.

Justru sebaliknya.

Kesaksian para veteran mengajarkan betapa mahal harga sebuah konflik.

Di balik istilah “operasi” terdapat manusia.

Di balik kata “gugur” terdapat keluarga.

Di balik angka korban terdapat nama.

Dan di balik kemenangan atau kekalahan terdapat kehidupan yang berubah selamanya.

Pertanyaan yang Belum Selesai

Kini, pada usia lebih dari 80 tahun, Manaor tidak lagi meminta negara mengembalikan masa mudanya.

Ia juga tidak meminta penghormatan yang berlebihan.

Ada satu hal yang justru lebih sederhana.

Jangan lupakan mereka.

Jika masih mungkin, telusuri kembali lokasi-lokasi tempat para prajurit Indonesia gugur.

Cari catatan operasi.

Buka arsip.

Periksa kesaksian.

Telusuri nama.

Dan jika masih ditemukan jasad atau kerangka para prajurit yang gugur, pulangkan mereka.

Sebab bagi keluarga, perang tidak pernah benar-benar selesai selama mereka tidak tahu di mana orang yang mereka cintai dimakamkan.

Sejarah yang Berbicara Sebelum Terlambat

Pertemuan dengan Manaor pada 11 Agustus 2026 berlangsung sehari setelah Hari Veteran Nasional.

Barangkali kebetulan.

Namun ada makna yang sulit diabaikan.

Ketika bangsa sedang berbicara tentang veteran, seorang veteran justru sedang berbicara tentang mereka yang sudah tidak dapat berbicara.

Tentang prajurit yang gugur.

Tentang teman yang hilang.

Tentang masa muda yang ditukar dengan tugas negara.

Dan tentang sebuah perang yang bagi generasi sekarang mungkin terasa sangat jauh.

Manaor masih mengingatnya.

Dengan mata yang mulai berkabut.

Dengan suara yang sesekali terputus.

Tetapi dengan ingatan yang belum menyerah.

Semoga mereka semua tenang di alam sana.

Kalimat itu terdengar seperti doa.

Tetapi sesungguhnya juga sebuah pesan kepada negara.

Bahwa kemerdekaan tidak hanya dibangun oleh mereka yang namanya terpampang di monumen.

Ada pula orang-orang yang berjuang dalam diam.

Menyusup dalam gelap.

Ditangkap tanpa banyak diketahui.

Menjalani tahun-tahun panjang di balik jeruji.

Kemudian pulang tanpa meminta banyak.

Dan ketika usia telah menua, mereka hanya ingin satu hal:

agar nama kawan-kawan mereka tidak ikut mati bersama waktu”.

Penulis: Tim Mitrausantara.id

Visited 16 times, 16 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow