Penulis : Redaksi

Oleh: Muhammad Natsir Ido, S.T
(Ketua DPD Partai Golkar Muna)

MUNA – Setiap tanggal 27 April, kita tidak sekadar memperingati hari lahir sebuah daerah, tetapi juga menandai perjalanan panjang harapan, perjuangan, dan arah pembangunan Sulawesi Tenggara. Di usia ke-62 tahun, sudah seharusnya kita tidak lagi terjebak dalam narasi potensi, melainkan mulai berbicara lebih tegas tentang arah dan keberpihakan.

Tahun 2026 ini menghadirkan satu refleksi menarik, HUT Partai Golkar dan Sulawesi Tenggara. Meski tidak bertepatan secara kalender, karena Partai Golkar memperingati hari jadinya setiap 20 Oktober, namun usia yang sama, yakni 62 tahun, menghadirkan ruang perenungan yang sejajar, tentang bagaimana daerah dan kekuatan politik tumbuh, berperan, dan diuji oleh zaman.

Tema “Harmoni Sultra” yang diusung tahun ini bukan sekadar slogan seremonial. Ia adalah pesan yang sarat makna, bahwa harmoni bukanlah ketiadaan konflik, melainkan kemampuan untuk mengelola perbedaan dengan bijak. Dalam konteks pembangunan, harmoni adalah keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial, antara investasi dan kelestarian lingkungan, antara kekuasaan dan tanggung jawab.

Baca Juga  Mantum HIPMI Sultra Hadiri Deklarasi untuk Triawan, Kandidat Ketum BPD HIPMI Sultra

Sebagai putra daerah dari Muna, saya melihat Sulawesi Tenggara hari ini sedang berada di titik yang menentukan. Pembangunan terus bergerak, investasi mulai berdatangan, dan infrastruktur kian berkembang. Namun, pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah semua ini benar-benar dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat?

Di sinilah refleksi menjadi penting.

Simbol-simbol dalam logo HUT ke-62—ombak, tenun, penari, anoa, dan padi merunduk—bukan sekadar hiasan visual. Ia adalah bahasa nilai.

Ombak mengingatkan kita bahwa perubahan adalah keniscayaan, tetapi tanpa arah, ia bisa menjadi gelombang yang menghancurkan. Pemerintah tidak boleh hanya menjadi penonton arus pembangunan, melainkan harus menjadi nahkoda yang menentukan tujuan.

Motif tenun adalah identitas. Ia menegaskan bahwa modernisasi tidak boleh menghapus jati diri. Kita boleh membangun industri, membuka investasi, tetapi akar budaya harus tetap menjadi fondasi.

Penari mencerminkan keluwesan masyarakat Sultra dalam beradaptasi. Namun adaptasi bukan berarti menyerah. Rakyat harus tetap kritis, tetap memiliki daya tawar, dan tidak kehilangan posisi dalam tanahnya sendiri.

Baca Juga  Sudirman Resmi Gabung ke Partai Golkar

Dan anoa, simbol paling jujur dari realitas kita. Ia kecil, langka, dan rentan. Seperti masyarakat kecil yang kerap terpinggirkan dalam narasi besar pembangunan. Kita terlalu sering berbicara tentang angka pertumbuhan, nilai investasi, dan ekspor, tetapi lupa bertanya: siapa yang benar-benar menikmati?

Jika pembangunan justru mengorbankan yang lemah, maka kita sedang berjalan tanpa arah.

Padi merunduk menjadi pengingat paling halus sekaligus paling tajam. Semakin tinggi kekuasaan, seharusnya semakin besar kerendahan hati. Ini bukan hanya filosofi budaya, tetapi juga etika politik yang sering kali dilupakan.

Dalam konteks ini, refleksi usia ke-62 Sulawesi Tenggara dan usia ke-62 Partai Golkar menjadi relevan untuk dibandingkan, meskipun diperingati pada waktu yang berbeda. Keduanya lahir dari semangat pembangunan dan stabilitas. Namun keduanya juga menghadapi tantangan yang sama: bagaimana memastikan bahwa kekuasaan tetap berpihak pada rakyat, bukan sekadar mempertahankan struktur.

Sultra tidak membutuhkan lebih banyak retorika. Sultra membutuhkan keberanian, keberanian untuk jujur melihat ketimpangan, keberanian untuk mengoreksi arah, dan keberanian untuk memastikan bahwa pembangunan tidak meninggalkan siapa pun.

Baca Juga  La Ode Darwin, Sang Maestro Negosiasi Politik

Pertanyaan-pertanyaan mendasar harus terus kita ajukan:
Apakah pembangunan sudah menyentuh wilayah kepulauan?
Apakah masyarakat lokal benar-benar terlibat dalam rantai ekonomi?
Apakah lingkungan tetap dijaga, atau dikorbankan atas nama investasi?

Harmoni tidak akan pernah lahir tanpa keadilan. Dan keadilan tidak akan pernah hadir tanpa keberanian.

Di usia ke-62 ini, Sulawesi Tenggara harus melangkah lebih dewasa. Tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga matang secara moral dan politik. Demikian pula kekuatan-kekuatan politik yang tumbuh bersamanya, harus kembali pada esensi: menjadi alat perjuangan rakyat, bukan sekadar alat kekuasaan.

Selamat Hari Ulang Tahun ke-62 Sulawesi Tenggara.

Semoga kita tidak hanya panjang usia, tetapi juga panjang arah. Dan yang terpenting, panjang manfaat bagi seluruh rakyat.

Visited 1 times, 1 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow