JAKARTA, MITRANUSANTARA.ID – Enam puluh dua tahun telah berlalu. Waktu memang berjalan, tetapi tidak semua luka dapat dihapus olehnya.
Bagi Pelda KKO (Purn.) Manaor Nababan, kenangan tentang Operasi Dwikora masih tersimpan utuh dalam ingatannya. Sesekali ia terdiam, pandangannya menerobos jauh, seolah kembali ke belantara Sabah, Malaysia, tempat ia pernah menjalankan salah satu misi paling berbahaya dalam hidupnya sebagai prajurit intelijen tempur Korps Komando Angkatan Laut (KKO).
Di usia senjanya, pria kelahiran Dolok Sanggul, Tapanuli, 8 Oktober 1942 itu mengaku tidak mudah menceritakan kembali pengalaman yang telah dipendam selama puluhan tahun.
Bukan karena takut.
Melainkan karena setiap kenangan selalu membawanya kembali kepada rekan-rekan seperjuangan yang gugur dan tidak pernah kembali ke tanah air.
“Saya berat bicara soal ini,” ucapnya lirih kepada MitraNusantara.id, sembari menahan haru.
Konflik yang Mengubah Asia Tenggara
Operasi yang dijalani Manaor merupakan bagian dari Konfrontasi Indonesia–Malaysia, sebuah konflik bersenjata yang berlangsung sejak 20 Januari 1963 hingga 11 Agustus 1966, atau selama 3 tahun, 6 bulan, 3 minggu, dan 1 hari.
Konflik tersebut terjadi di wilayah Semenanjung Malaya dan Pulau Kalimantan (Borneo) sebagai bentuk penolakan Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soekarno terhadap pembentukan Federasi Malaysia yang saat itu dinilai sebagai proyek neokolonialisme Inggris.
Dalam periode tersebut, ribuan prajurit Indonesia diterjunkan ke berbagai medan operasi, baik melalui jalur darat maupun laut. Sebagian bertempur secara terbuka, sementara sebagian lainnya menjalankan operasi intelijen dan infiltrasi jauh di belakang garis pertahanan lawan.
Konfrontasi akhirnya berakhir secara damai setelah perubahan kepemimpinan nasional pada 1966. Hubungan kedua negara kemudian dipulihkan dan Malaysia tetap berdiri sebagai sebuah federasi yang berdaulat.
Namun, bagi para prajurit yang pernah berada di garis depan, perang itu meninggalkan kenangan yang tidak pernah benar-benar usai.
Terpilih Menjadi Intelijen Tempur
Saat konflik berlangsung, Manaor merupakan anggota Korps Komando Angkatan Laut (KKO), cikal bakal Korps Marinir TNI Angkatan Laut.
Dari sekitar 3.000 personel KKO yang disiagakan di wilayah perbatasan Kalimantan, hanya sekitar 30 prajurit yang dipilih mengikuti pendidikan intelijen tempur di Pulau Mandul, Kalimantan Timur.
Mereka dipersiapkan untuk menjalankan operasi yang sangat berbeda dengan pasukan reguler.
Selain dituntut memiliki ketahanan fisik dan mental yang tinggi, mereka juga dibekali kemampuan infiltrasi, kamuflase, pengamatan intelijen, bertahan hidup di hutan, hingga penyamaran di wilayah musuh.
Setiap personel memahami bahwa keberhasilan misi lebih penting daripada keselamatan pribadi.

Pelda KKO (Purn.) Manaor Nababan (baju putih), saat di temui mitranusantara.id, kini berusia 84 tahun. Sabtu, (2/8/2026).
Misi Tanpa Jaminan Pulang
Pada penghujung 1964, perintah operasi akhirnya datang.
Manaor bersama seorang anggota KKO lainnya dan seorang sukarelawan TNI mendapat tugas menyusup ke wilayah Tawau, Sabah.
Target operasi mereka adalah memetakan posisi pertahanan lawan, menghitung kekuatan militer, mengamati jalur patroli, sekaligus mencari lokasi yang memungkinkan bagi pendaratan pasukan Indonesia apabila operasi militer yang lebih besar dilaksanakan.
Misi tersebut memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi.
Tidak ada kepastian bahwa mereka akan kembali.
“Malam sebelum berangkat kami dipestakan. Kami makan bersama dan saling memberi semangat. Dalam hati saya berpikir, mungkin itu pertemuan terakhir,” kenangnya.
Belakangan, ia menyadari bahwa malam itu memang menjadi perpisahan terakhir bagi sebagian rekan seperjuangannya.
Menyusup ke Tawau
Dengan menyamar sebagai nelayan, mereka berangkat menggunakan perahu kecil.
Penyamaran menjadi satu-satunya cara agar dapat melewati patroli laut Inggris yang menjaga ketat perairan Sabah.
Setelah berhasil mendarat, mereka segera bergerak menuju titik pertemuan dengan seorang penghubung lokal.
Namun keadaan telah berubah.
Penghubung yang seharusnya membantu operasi ternyata telah lebih dahulu ditangkap.
Sejak saat itu, mereka kehilangan jalur komunikasi, dukungan logistik, sekaligus sumber informasi di lapangan.
Pilihan yang tersisa hanya satu.
Masuk ke hutan.
Dua Bulan Bertahan Hidup
Selama hampir dua bulan, tim kecil tersebut hidup berpindah-pindah di tengah belantara Sabah.
Persediaan makanan semakin menipis.
Setiap hari mereka harus menghindari patroli keamanan sambil terus berupaya menjalankan misi pengintaian.
Keadaan semakin sulit ketika salah seorang anggota tim keluar untuk mencari makanan.
Ia tertangkap.
Tidak lama kemudian, lokasi persembunyian mereka berhasil diketahui.
Pasukan Inggris bersama sekutunya mengepung tim kecil tersebut hingga akhirnya mereka ditangkap.
Menjadi Tawanan Perang
Bagi Manaor, penangkapan bukanlah akhir dari penderitaan.
Justru di sanalah babak paling berat dimulai.
Ia harus menjalani masa penahanan sebagai tawanan perang dalam kondisi fisik yang terus menurun.
“Saya dimasukkan ke ruang isolasi. Ruangannya sempit dengan pintu besi. Tidak ada air. Makan pun terkadang hanya sekali sehari, bahkan pernah dua hari baru diberi makan,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Namun, ketika menceritakan masa-masa tersebut, Manaor lebih banyak mengenang rekan-rekan seperjuangannya daripada penderitaan yang ia alami sendiri.
Menurut penuturannya, sejumlah sahabatnya gugur setelah mengalami penyiksaan. Sebagian lainnya tidak pernah diketahui lagi nasib maupun tempat peristirahatan terakhirnya.
“Yang paling berat bukan penderitaan saya sendiri. Yang paling berat adalah mengingat teman-teman yang berangkat bersama, tetapi tidak pernah pulang,” katanya dengan suara bergetar.
Pengabdian yang Tak Banyak Diketahui
Puluhan tahun telah berlalu sejak Operasi Dwikora berakhir.
Manaor akhirnya kembali ke Indonesia dan melanjutkan pengabdiannya hingga memasuki masa purnatugas.
Kini ia menjalani kehidupan sederhana.
Ia tidak pernah meminta penghargaan ataupun pujian.
Harapannya hanya satu, agar kisah para prajurit yang bertugas dalam senyap tidak hilang ditelan zaman.
“Generasi sekarang menikmati kemerdekaan dan kedamaian. Kami hanya ingin mereka tahu bahwa ada banyak prajurit yang berkorban tanpa pernah dikenal,” ujarnya.
Kisah Pelda KKO (Purn.) Manaor Nababan menjadi pengingat bahwa sejarah bangsa tidak hanya dibangun oleh tokoh-tokoh besar yang namanya tercatat dalam buku pelajaran.
Di balik setiap kemenangan dan setiap lembar sejarah Indonesia, ada prajurit-prajurit yang menjalankan tugas tanpa sorotan, mempertaruhkan masa muda, keluarga, bahkan nyawa demi menjaga kedaulatan negara.
Sebagian kembali dengan luka yang tak terlihat.
Sebagian lagi bahkan tidak pernah kembali.
Selama kisah mereka terus dikenang, pengabdian itu akan tetap hidup sebagai bagian dari sejarah bangsa Indonesia.
Laporan: Novrizal R Topa



