KENDARI, MITRANUSANTARA.ID – Banjir besar yang melanda Kota Kendari sejak Sabtu hingga Minggu (9–10/5/2026) menyebabkan ribuan warga terdampak, ratusan rumah terendam, serta memicu kerusakan infrastruktur di berbagai wilayah. Hingga Minggu malam pukul 21.00 WITA, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari mencatat sedikitnya 657 rumah atau kepala keluarga terdampak langsung dengan total 2.985 jiwa.
Bencana hidrometeorologi tersebut terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Kota Kendari hampir sepanjang malam hingga menyebabkan sungai dan saluran drainase meluap.
Kepala BPBD Kota Kendari, Cornelius Padang, menjelaskan banjir melanda tujuh kecamatan yakni Baruga, Poasia, Kambu, Kendari Barat, Wua-Wua, Kadia, dan Abeli.
“Data sementara yang kami himpun berdasarkan laporan lapangan dan informasi dari kelurahan masih terus berkembang dan akan kami update kembali besok,” ujar Cornelius, Minggu malam.
Selain merendam permukiman warga, banjir juga menyebabkan kerusakan jalan sepanjang 3,5 kilometer, merendam lahan pertanian sekitar 50 hektare, hingga merusak sejumlah fasilitas umum dan tanggul penahan air.
Beberapa wilayah bahkan mengalami longsor dan pohon tumbang yang mengganggu akses jalan warga.
Kecamatan Baruga dan Poasia menjadi daerah dengan dampak cukup parah. Di Kelurahan Lepo-Lepo, ratusan rumah terendam air, sementara di Anduonohu, tanggul saluran air dilaporkan jebol dan memaksa sejumlah warga di Jalan Kedondong dievakuasi.
Tim penyelamat juga sempat mengevakuasi anak-anak di kawasan Jalan Durian Anduonohu akibat tingginya genangan air.
Di Kecamatan Kambu, kawasan Jalan Mangkray dan Hidayatullah menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak terbanyak. Air merendam rumah warga hingga aktivitas masyarakat lumpuh sementara.
Sementara itu, musibah paling tragis terjadi di Kecamatan Kendari Barat. Seorang anak di Kelurahan Punggaloba dilaporkan meninggal dunia setelah diduga terseret arus banjir pada Minggu pagi sekitar pukul 06.00 WITA.
Selain korban jiwa, longsor juga dilaporkan terjadi di Kelurahan Sodohoa dan menimpa rumah warga.
Wilayah lain yang ikut terdampak antara lain BTN Findayani Polres, Jalan Terong Anduonohu, Bundaran Pesawat dekat SPBU Ade, Lorong Bangau, Jalan Malengkeri depan Kantor BPN Kota Kendari, Jalan Veteran Wowanggu, kawasan Poltekkes, Tobimeita, hingga sekitar toko HBM Anduonohu.
Di sejumlah titik, warga harus berjibaku menyelamatkan barang-barang mereka dari genangan air yang mencapai setinggi dada orang dewasa.
BPBD bersama pemerintah kecamatan, kelurahan, TNI, Polri, dan relawan masih melakukan pemantauan serta evakuasi di beberapa lokasi yang sulit dijangkau. Sejumlah wilayah juga membutuhkan tambahan perahu karet untuk membantu mobilitas warga di area terisolasi.
Cornelius mengatakan beberapa titik banjir mulai menunjukkan kondisi membaik pada Minggu malam.
“Air di beberapa lokasi seperti Tunggala, Anduonohu, dan Bundaran Tank sudah mulai surut. Kita masih terus memantau sampai besok dan berharap hujan berangsur reda,” katanya.
Ia juga berharap Kota Kendari terhindar dari bencana yang lebih besar.
Di tengah situasi tersebut, Wali Kota Kendari dr. Hj. Siska Karina Imran menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kondisi banjir yang terjadi dan belum maksimalnya penanganan pemerintah.
“Kami sampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Kota Kendari yang terdampak banjir. Penanganan memang belum maksimal sehingga perlu kolaborasi kuat lintas sektor dan lintas jenjang pemerintahan,” ujar Siska.
Menurutnya, penanganan banjir tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah kota, melainkan membutuhkan dukungan pemerintah provinsi hingga pusat untuk mencari solusi jangka panjang.
Siska mengaku telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat guna mempercepat penanganan bencana dan merumuskan langkah serius mengatasi persoalan banjir di Kota Kendari.
“Kami sudah koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat untuk segera melakukan penanganan banjir,” katanya.
Banjir besar kali ini kembali menjadi alarm serius terhadap persoalan drainase, alih fungsi lahan, hingga kapasitas sungai di Kota Kendari yang dinilai tak lagi mampu menampung tingginya debit air saat hujan ekstrem terjadi.
Penulis: Sumarlin


