KENDARI, MITRANUSANTARA.ID– Media sosial kini menjadi salah satu sumber utama informasi politik bagi generasi muda. Namun, kemudahan memperoleh informasi juga menyimpan risiko ketika pengguna hanya disuguhi konten yang sesuai dengan riwayat interaksinya.
Kondisi tersebut dibahas mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Halu Oleo (UHO) dalam kegiatan Pekan Literasi AI Pemilu di SMA Negeri 1 Kendari, Kamis (17/9/2026).
Kegiatan tersebut mengangkat persoalan jebakan algoritma, filter bubble atau gelembung informasi, hingga echo chamber atau ruang bergema yang dinilai perlu dipahami pemilih pemula menjelang pemilu.
Ketua panitia, Suhayl Saputra Alam, menjelaskan bahwa kemunculan konten politik atau tokoh tertentu secara berulang di beranda media sosial bukan semata-mata kebetulan.
Menurutnya, algoritma mempelajari perilaku pengguna melalui berbagai bentuk interaksi, seperti riwayat pencarian, tontonan, tanda suka, komentar hingga akun yang sering diikuti.
“Ketika seseorang sering menonton video atau berinteraksi dengan akun tokoh tertentu hingga selesai, algoritma menangkapnya sebagai tanda ketertarikan. Informasi ini kemudian digunakan untuk merekomendasikan konten sejenis secara terus-menerus,” jelas Suhayl.
Pemateri lainnya, Agysta, kemudian menjelaskan bagaimana algoritma menentukan konten yang muncul di linimasa pengguna. Konten dengan interaksi tinggi, termasuk isu kontroversial yang memicu perdebatan, dapat memperoleh perhatian lebih besar dari sistem rekomendasi.
Akibatnya, pengguna dapat merasa seolah-olah sebagian besar orang memiliki pandangan yang sama karena konten yang berbeda semakin jarang muncul di beranda.
Fenomena tersebut kemudian dikaitkan Nengsi dengan konsep filter bubble dan echo chamber. Ia menjelaskan, pengguna yang terus berada dalam lingkungan informasi seragam berisiko semakin jarang berhadapan dengan perspektif berbeda.
“Kondisi ini ibarat berteriak di dalam gua kosong. Suara yang memantul kembali hanyalah gema dari suara kita sendiri. Karena tidak mendengar pandangan berbeda akibat disembunyikan oleh algoritma, kita merasa pendapat kitalah yang paling benar,” tutur Nengsi.
Materi tersebut mendapat respons antusias dari para siswa. Mereka diajak membandingkan beranda media sosial masing-masing dan menemukan bahwa aplikasi yang sama dapat menampilkan konten berbeda kepada setiap pengguna.
Perbedaan itu menjadi contoh langsung bagaimana riwayat interaksi seseorang memengaruhi rekomendasi konten yang diterima.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa UHO juga membekali siswa dengan sejumlah langkah untuk menghadapi banjir informasi politik di media sosial. Di antaranya memberikan jeda sebelum merespons konten yang memancing emosi, melakukan pemeriksaan silang melalui sumber informasi yang kredibel, serta tidak hanya melihat popularitas suatu konten.
Para siswa juga didorong untuk memperhatikan rekam jejak dan membandingkan informasi dari berbagai sumber sebelum membentuk pandangan politik.
Edukasi tersebut diarahkan untuk mendorong pemilih pemula agar tidak sekadar menjadi konsumen informasi di media sosial, tetapi mampu berpikir kritis dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih beragam dan terverifikasi.
Melalui literasi digital dan pemahaman terhadap cara kerja algoritma, mahasiswa Ilmu Komunikasi UHO berharap generasi muda dapat tetap memegang kendali atas informasi yang dikonsumsi, terutama ketika memasuki ruang politik dan pemilu.
Reporter: Ibnu
Editor : Sumarlin





