Oleh: Novrizal R. Topa
Jakarta, 27 Juni 2026
Ada lagu yang lahir untuk menghibur. Ada pula lagu yang diciptakan untuk dikenang. Namun, “Wuna Liwu Kasintaha” adalah sesuatu yang lebih dari keduanya. Ia adalah doa yang ditulis dengan kata-kata, cinta yang dibungkus dalam melodi, dan wasiat seorang ayah yang akhirnya menemukan suaranya melalui putri yang paling memahami isi hatinya.
Dalam bahasa Muna, Wuna Liwu Kasintaha berarti Tanah Muna yang sangat dicintai. Sebuah ungkapan sederhana, tetapi memuat kedalaman makna yang nyaris tak habis dijelaskan. “Wuna” adalah Pulau Muna, tanah leluhur yang melahirkan begitu banyak cerita. “Liwu” berarti negeri atau kampung halaman. Sedangkan “Kasintaha” adalah cinta yang begitu dalam, kerinduan yang tak pernah selesai.
Bagi masyarakat Muna, frasa itu bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah pengakuan bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, selalu ada tanah yang memanggil untuk dikenang.
Saya beruntung dipertemukan dengan sosok yang menghidupkan lagu itu.
Wa Ode Kartika Sari menyambut saya dengan senyum hangat. Perempuan yang dikenal sebagai seorang artis FTV, sekaligus pegiat budaya Muna itu berkali-kali mengajak berbincang menggunakan bahasa Muna yang fasih. Cara bertuturnya lembut, ramah, dan penuh penghormatan kepada setiap orang yang diajak berbicara.
Hampir dua jam kami berbincang.
Selama percakapan itu, saya tidak hanya mendengar kisah tentang sebuah lagu. Saya menyaksikan bagaimana seorang anak menjaga napas terakhir ayahnya agar tetap hidup.
Dengan mata yang sesekali menerawang, Kartika mulai bercerita.
“Mengapa lagu ini? Karena ini adalah karya terakhir Papa yang belum sempat beliau rekam,” ujarnya pelan.
Kalimat itu sederhana, tetapi seketika mengubah cara saya memandang lagu tersebut.
Ternyata, lirik yang dinyanyikan Wa Ode Kartika, pernah lama terdiam. Sang penciptanya, almarhum La Ode Iskandar Tuga, telah lebih dahulu berpulang sebelum sempat memperdengarkan karyanya kepada dunia, kepada masyarakat Muna.
Yang tersisa hanyalah tulisan.
Yang tertinggal hanyalah pesan.
Dan kini, semua itu hidup kembali melalui suara anak keduanya.
Kartika mengatakan, di setiap bait lagu itu tersimpan kerinduan seorang ayah kepada keluarganya yang merantau. Ada cinta yang begitu besar kepada kampung halaman. Ada doa agar Muna selalu damai. Ada harapan agar negeri ini kelak dipimpin oleh orang-orang yang bijaksana.
“Kini menjadi tugas kami menjaga dan menghidupkan kembali pesan yang beliau tinggalkan,” katanya.
Saya terdiam.
Sebab saya menyadari, yang sedang saya dengarkan bukan sekadar kisah tentang musik daerah.
Ini adalah kisah tentang bagaimana cinta dapat melampaui kematian.
Ketika “Wuna Liwu Kasintaha” dinyanyikan Kartika, yang terdengar bukan hanya kualitas vokalnya. Ada sesuatu yang jauh lebih sulit dijelaskan.
Seolah-olah suara ayah yang pernah tertahan oleh waktu kini menemukan jalannya melalui darah dagingnya sendiri.
Setiap nada terdengar seperti pelukan.
Setiap lirik terasa seperti nasihat.
Setiap bait seperti doa yang tak pernah selesai dipanjatkan.
Mungkin inilah yang membuat lagu tersebut memiliki daya gugah yang begitu kuat.
Ia lahir bukan dari ambisi menjadi populer, melainkan dari keinginan sederhana seorang ayah yang mencintai keluarganya, mencintai negerinya, dan berharap generasi setelahnya tidak melupakan akar mereka.
Kartika tidak pernah menganggap dirinya menggantikan sang ayah.
“Hari ini saya menyanyikan lagu yang Papa tulis. Bukan untuk menggantikan beliau, tetapi meneruskan pesan yang beliau tinggalkan,” tuturnya.
Ia berharap lagu itu menjadi warisan.
Warisan tentang keluarga.
Warisan tentang kampung halaman.
Warisan tentang pentingnya saling menasihati dalam kebaikan.
Warisan tentang menjaga kedamaian.
“Semoga dengan suara saya, karya Papa tetap abadi dan pesannya terus mengalir dari generasi ke generasi. Al-Fatihah untuk Papa. Semoga beliau bangga di sisi Allah SWT.”
Kalimat terakhir itu meluncur lirih.
Namun justru di sanalah kekuatannya.
Bagi masyarakat Muna yang hidup di tanah rantau, lagu ini terasa seperti surat yang dikirim dari kampung halaman.
Ia mengingatkan bahwa di balik kesibukan mengejar kehidupan, selalu ada ibu yang menunggu di beranda rumah.
Selalu ada ayah yang menitipkan doa di setiap sujudnya.
Selalu ada tanah kelahiran yang tak pernah berhenti memanggil anak-anaknya untuk pulang, meski hanya lewat ingatan.
Rindu kepada kampung halaman ternyata memiliki rasa yang sama dengan rindu kepada orang yang telah tiada.
Keduanya tidak pernah benar-benar hilang.
Keduanya hidup dalam kenangan.
Dan keduanya hanya bisa dipeluk oleh cinta.
Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan mengikis bahasa, adat, dan lagu-lagu daerah, kehadiran “Wuna Liwu Kasintaha” menjadi pengingat bahwa kebudayaan sesungguhnya diwariskan bukan hanya melalui buku sejarah atau museum.
Ia diwariskan melalui keluarga.
Melalui anak-anak yang bersedia menjaga mimpi orang tuanya.
Melalui suara yang tidak membiarkan pesan-pesan lama tenggelam ditelan zaman.
Mungkin itulah sebabnya lagu ini terasa begitu berbeda.
Ia bukan hanya karya seni.
Ia adalah monumen cinta seorang ayah.
Dan selama Wa Ode Kartika Sari terus menyanyikannya, selama masyarakat Muna terus mendengarkannya, sesungguhnya almarhum La Ode Iskandar Tuga tidak pernah benar-benar pergi.
Beliau tetap pulang.
Dalam setiap bait.
Dalam setiap nada.
Dalam setiap hati yang masih percaya bahwa mencintai kampung halaman adalah salah satu cara paling indah untuk menghormati orang tua.
Barangkali, pada akhirnya, “Wuna Liwu Kasintaha” mengajarkan satu hal yang sering terlupakan, bahwa manusia boleh merantau sejauh langit membentang, tetapi cinta kepada tanah kelahiran dan kepada orang-orang yang membesarkannya tidak pernah mengenal jarak. Ia tetap tinggal di dalam hati, tumbuh bersama kenangan, dan hidup di setiap doa yang dipanjatkan.
Lagu ini bukan hanya mengabadikan nama Muna, tetapi juga mengabadikan kasih seorang ayah yang percaya bahwa warisan paling berharga bukanlah harta, melainkan nilai, cinta, dan pesan kehidupan. Ketika Wa Ode Kartika Sari menyanyikan setiap baitnya, sesungguhnya yang sedang ia jaga bukan hanya sebuah lagu, melainkan denyut ingatan tentang seorang ayah, tentang sebuah keluarga, dan tentang kampung halaman yang selalu menunggu anak-anaknya pulang.
Sebab pada akhirnya, seseorang tidak benar-benar meninggalkan dunia selama namanya masih disebut dalam doa, petuahnya masih dijalankan, dan cintanya masih dinyanyikan dari generasi ke generasi. Itulah makna sejati “Wuna Liwu Kasintaha”, sebuah lagu yang bukan sekadar didengar, melainkan diwariskan.***



