Penulis : Redaksi

JAKARTA, MITRANUSANTARA.ID – Budaya Muna bukan sekadar warisan leluhur yang dipertahankan sebagai tradisi, tetapi merupakan pedoman hidup yang sarat dengan nilai persaudaraan, gotong royong, dan keharmonisan. Hal itu disampaikan Wa Ode Kartika Sari saat berbagi pandangannya mengenai pentingnya pelestarian budaya Muna sebagai bagian dari identitas masyarakat di era modern.

Menurut Wa Ode Kartika Sari, hampir seluruh tradisi masyarakat Muna memiliki benang merah yang sama, yakni nilai Kawunaha, sebuah filosofi yang mengajarkan semangat persaudaraan, saling menghormati, kepedulian, dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Budaya Muna bukan hanya tentang tarian atau upacara adat. Di dalamnya ada nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh leluhur kita. Kawunaha mengajarkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri, tetapi harus saling mendukung dan menjaga persaudaraan,” ujarnya kepada mitranusantara.id, Sabtu (27/6/2026).

Ia menjelaskan, salah satu tradisi yang paling mencerminkan nilai tersebut adalah Tunuha atau Detunuha, tradisi memasak makanan berbahan dasar ubi secara bersama-sama yang telah lama hidup di tengah masyarakat Muna.

Baca Juga  DP3A Kendari Kampanyekan Anti Kekerasan Anak Lewat Permainan dan Nyanyian di Sekolah

Dalam tradisi itu, masyarakat bergotong royong mulai dari menyiapkan bahan, mengolah makanan, hingga menikmatinya bersama tanpa membedakan status sosial maupun latar belakang.

“Yang dibangun dalam Tunuha bukan sekadar makanan tradisional, tetapi rasa kebersamaan. Tradisi ini mengajarkan bahwa pekerjaan akan menjadi ringan jika dilakukan bersama, dan kebersamaan adalah kekuatan masyarakat,” kata Wa Ode Kartika Sari.

Selain Tunuha, ia juga menilai Tari Linda menyimpan filosofi yang tidak kalah penting. Gerakan tari yang lembut dan penuh keselarasan mencerminkan nilai kesantunan, penghormatan kepada sesama, serta pentingnya hidup dalam harmoni.

“Keindahan Tari Linda lahir dari kekompakan para penarinya. Itu menjadi simbol bahwa kehidupan masyarakat akan indah apabila dibangun di atas rasa saling menghormati dan bekerja sama,” jelasnya.

Mengapa budaya perlu dilestarikan? Menurut Wa Ode Kartika Sari, nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Muna justru semakin relevan di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistis. Budaya menjadi sarana memperkuat karakter generasi muda sekaligus menjaga identitas masyarakat Muna di tengah perubahan zaman.

Baca Juga  MTSN 1 Kendari Juara 1 Kirab Peringati Tahun Baru Islam

Ia berharap pelestarian budaya tidak berhenti pada penyelenggaraan festival atau pertunjukan seni semata, tetapi juga diwujudkan melalui pewarisan nilai-nilai luhur kepada generasi muda, baik di kampung halaman maupun kepada diaspora Muna yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

“Kalau generasi muda hanya mengenal bentuk tariannya atau makanan tradisionalnya tanpa memahami makna yang terkandung di dalamnya, maka yang diwariskan hanya tradisinya, bukan nilai yang menjadi ruh dari budaya itu sendiri,” tuturnya.

Wa Ode Kartika Sari juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Kawunaha sebagai semangat bersama dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.

“Di mana pun orang Muna berada, jangan pernah melupakan akar budayanya. Jadikan Tunuha sebagai pengingat arti gotong royong, Tari Linda sebagai simbol keharmonisan, dan Kawunaha sebagai pedoman dalam menjaga persaudaraan. Dengan begitu, budaya Muna akan terus hidup dan menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat lintas generasi,” pungkasnya.

Laporan: Awaluddin L

Visited 1 times, 1 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow