Penulis : Redaksi

Oleh: Novrizal R Topa

KENDARI – Di tengah kehidupan yang semakin cepat, tatkala telepon genggam lebih sering mempertemukan kita dengan orang jauh daripada tetangga sendiri, ada satu hal yang perlahan dirindukan banyak orang, yakni suasana kebersamaan yang tulus. Mungkin karena itulah Festival Budaya Muna 2026 yang akan digelar pada 19 Juli mendatang di kawasan Eks MTQ dan Tugu Religi Kendari terasa lebih dari sekadar sebuah acara budaya.

Festival yang digagas oleh Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara ini sesungguhnya adalah panggilan pulang. Sebuah ajakan untuk kembali mengingat nilai-nilai yang sejak lama hidup dalam masyarakat Wuna (suku Muna), yang di dalamnya kental dengan persaudaraan, gotong royong, penghormatan kepada sesama, dan rasa memiliki terhadap identitas budaya.

Tema yang diusung, “Merajut Persaudaraan, Melestarikan Adat dalam Semangat Kawunaha yang Luhur Menuju Indonesia Emas 2045”, bukan sekadar rangkaian kata yang terdengar indah. Di dalamnya tersimpan pesan yang sangat relevan dengan kondisi hari ini. Kawunaha, yang selama ini dikenal sebagai nilai luhur masyarakat Wuna, mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia tidak dibangun oleh kepentingan, melainkan oleh rasa saling menghargai dan kebersamaan.

Boleh jadi inilah yang membuat panitia menargetkan sekitar 20 ribu peserta hadir dalam festival tersebut. Sebab yang dirayakan bukan hanya budaya, tetapi juga rasa memiliki terhadap akar yang sama.

Di balik semangat besar yang sedang dibangun itu, terdapat peran penting Ketua KKMM Sulawesi Tenggara, La Ode Darwin, yang menjadi salah satu katalis utama dalam menggerakkan konsolidasi masyarakat Wuna dari berbagai latar belakang. Kehadirannya bukan sekadar sebagai ketua organisasi, tetapi sebagai jembatan yang mempertemukan beragam elemen masyarakat dalam satu tujuan yang sama, yakni menjaga dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya leluhur. Melalui pendekatan yang merangkul berbagai generasi, mulai dari tokoh adat, pemuda, akademisi, hingga masyarakat perantauan, La Ode Darwin berupaya memastikan bahwa Festival Budaya Muna 2026 tidak hanya menjadi perayaan seremonial, melainkan momentum penguatan identitas dan persaudaraan masyarakat Wuna di Sulawesi Tenggara.

Baca Juga  IPM Kalimantan Selatan Capai 75,19 pada 2024, Pertumbuhan Melambat Dibanding Tahun Sebelumnya

Dalam konteks itulah, semangat Kawunaha menemukan relevansinya. Sebab nilai luhur tersebut tidak hanya diwujudkan dalam berbagai pertunjukan budaya yang akan ditampilkan, tetapi juga tercermin dalam proses panjang membangun kebersamaan. Kemampuan menyatukan berbagai unsur masyarakat dalam satu gerakan budaya merupakan bentuk nyata dari praktik Kawunaha itu sendiri. Festival ini pada akhirnya menjadi bukti bahwa ketika budaya dijadikan titik temu, perbedaan pandangan, profesi, maupun generasi dapat melebur menjadi kekuatan bersama.

Salah satu agenda yang paling menarik perhatian tentu saja penyajian 1.000 dulang yang ditargetkan masuk dalam catatan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Namun sesungguhnya, yang paling penting bukanlah angka seribu itu.

Dalam tradisi Wuna, dulang memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar wadah makanan. Ia adalah simbol penghormatan kepada tamu, lambang keterbukaan, dan wujud kebersamaan dalam kehidupan sosial masyarakat. Ketika seribu dulang tersusun bersama, yang hadir bukan hanya pemandangan yang memukau mata, melainkan juga pesan tentang bagaimana masyarakat suku Muna (Wuna) memandang hubungan antarsesama manusia.

Baca Juga  Siska Sudirman Jadi Pendaftar Pertama, Dokumen Dinyatakan Lengkap

Nah, di situlah budaya berbicara tanpa perlu banyak kata.

Festival ini juga akan dibuka dengan Kabasano Haroa, sebuah tradisi doa bersama yang sarat makna spiritual. Dalam budaya suku Muna, setiap ikhtiar besar selalu diawali dengan memohon keselamatan dan keberkahan. Sebuah pengingat bahwa manusia boleh merencanakan, tetapi tetap ada nilai-nilai luhur yang harus dijaga dalam setiap langkah.

Selepas itu, masyarakat akan disuguhkan berbagai atraksi budaya yang selama ini menjadi bagian dari identitas Wuna. Ada Perkelahian Kuda yang menggambarkan keberanian dan ketangkasan, Modero yang menghadirkan suasana akrab penuh kegembiraan, Tari Linda yang menampilkan keindahan gerak dan harmoni, hingga Ewa Wuna yang mengajak generasi muda mengenal sejarah serta jati diri leluhurnya.

Masing-masing pertunjukan bukan sekadar hiburan. Di balik setiap gerakan, irama, dan tradisi yang ditampilkan, tersimpan cerita panjang tentang perjalanan sebuah masyarakat dalam menjaga identitasnya dari masa ke masa.

Yang menarik, festival ini hadir pada saat banyak daerah di Indonesia sedang berupaya menghidupkan kembali budaya lokal sebagai sumber kekuatan sosial. Di tengah arus modernisasi yang tidak mungkin dibendung, budaya justru menjadi jangkar yang membuat sebuah masyarakat tidak kehilangan arah.

Masyarakat suku Muna tampaknya memahami hal itu, karena itulah festival ini tidak hanya ditujukan bagi orang Wuna semata. Ia terbuka bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat kekayaan budaya Sulawesi Tenggara. Sebuah ruang perjumpaan, tempat tradisi dan modernitas bisa berjalan berdampingan.

Baca Juga  Kampanye di Koltim, ASR-HUGUA Bakal Prioritaskan Kepentingan Rakyat

Jika semuanya berjalan sesuai harapan, Festival Budaya Muna 2026 bukan hanya akan dikenang karena ribuan dulang atau ramainya pengunjung. Ia akan dikenang sebagai momentum ketika masyarakat Wuna kembali menggaungkan semangat Kawunaha kepada generasi masa kini.

Sebab pada akhirnya, budaya bukanlah benda yang disimpan di museum atau dipajang dalam buku sejarah. Budaya hidup di dalam hati orang-orang yang masih mau merawatnya.

Dan pada 19 Juli nanti, di jantung Kota Kendari, semangat itu akan kembali dipertemukan. Dalam tawa, dalam tarian, dalam doa, dan dalam ribuan dulang yang menjadi simbol bahwa persaudaraan masih memiliki tempat yang istimewa di tengah kehidupan modern.

“Kawunaha bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah cara masyarakat suku Muna menjaga masa depan”.

Barangkali itulah makna terdalam dari festival ini, bahwa budaya tidak akan pernah hidup hanya karena dipentaskan di atas panggung. Ia hidup karena ada orang-orang yang terus merawatnya, mempertemukannya dengan generasi baru, dan menjadikannya relevan dengan zaman. Dalam hal ini, La Ode Darwin bersama jajaran KKMM Sulawesi Tenggara, hadir sebagai penggerak yang menjaga agar nyala semangat Kawunaha tetap menyala, tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan masyarakat Wuna menuju Indonesia Emas 2045.

Visited 19 times, 19 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow