Penulis : Redaksi

JAKARTA, MITRANUSANTARA.ID – Jumat, 22 Mei 2026 pagi kemarin, media sosial ramai membahas gangguan perjalanan KRL Cikarang Line setelah terjadi masalah operasional lokomotif di kawasan Stasiun Pasar Senen. Ribuan penumpang yang hendak beraktivitas sempat tertahan akibat perjalanan kereta yang mengalami antrean panjang.

Melalui akun resminya, KAI Commuter menyampaikan permohonan maaf kepada pengguna jasa kereta. Dalam keterangannya disebutkan bahwa perjalanan KRL tujuan Cikarang via Pasar Senen hanya dapat beroperasi sampai Stasiun Jatinegara karena proses penanganan gangguan masih dilakukan petugas di lapangan.

Situasi itu membuat Stasiun Jatinegara kembali menjadi pusat perhatian. Banyak penumpang terpaksa turun lebih awal, mencari jalur alternatif, atau menunggu kepastian perjalanan berikutnya. Namun di balik kepadatan penumpang dan hiruk-pikuk perjalanan kereta setiap harinya, Stasiun Jatinegara sebenarnya menyimpan cerita panjang tentang sejarah transportasi Jakarta dan perkembangan perkeretaapian Indonesia.

Bagi sebagian orang, Stasiun Jatinegara mungkin hanya dikenal sebagai stasiun transit yang sibuk. Tempat orang berganti kereta, mengejar jadwal keberangkatan, atau sekadar melintas dalam perjalanan menuju kantor dan rumah. Padahal, stasiun ini sudah berdiri sejak lebih dari satu abad lalu dan menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah ibu kota.

Baca Juga  13 Pabrik Mobil Listrik Bisa Berdiri di Indonesia Jika Bermodal 270 Triliun, Tesla Sebatas Ilusi

Stasiun Jatinegara diresmikan pada 15 Oktober 1909 dengan nama Meester Cornelis oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Belanda. Bangunan yang masih berdiri hingga sekarang dirancang oleh arsitek Van Gendt dengan perpaduan gaya Indische Empire dan kolonial modern. Jika diperhatikan, beberapa bagian bangunannya masih mempertahankan ciri khas arsitektur lama, mulai dari bentuk atap, detail jendela, hingga struktur utama yang tetap dipertahankan meski telah beberapa kali direnovasi.

Namun sejarah kawasan ini sebenarnya sudah dimulai lebih awal. Pada 31 Maret 1887, perusahaan swasta Bataviaasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOSM) membangun jalur dan stasiun pertama di wilayah tersebut. Lokasi awalnya berada sekitar 600 meter di sebelah barat bangunan stasiun yang sekarang, yang kini dikenal sebagai area dipo kereta.

Ketika BOSM mengalami kebangkrutan, pemerintah kolonial mengambil alih jalur tersebut dan membangun stasiun baru di lokasi yang sekarang digunakan. Stasiun itu mulai dibuka sementara pada 1909 dan beroperasi penuh setahun kemudian. Sejak saat itu, kawasan Jatinegara berkembang menjadi salah satu titik penting jaringan kereta di Batavia.

Posisi strategisnya membuat Stasiun Jatinegara terus berkembang seiring pertumbuhan Jakarta. Jalur-jalur kereta dari berbagai arah bertemu di stasiun ini. Kereta antarkota, kereta barang, hingga KRL komuter semuanya pernah dan masih melewati kawasan tersebut. Tidak heran jika sampai hari ini Jatinegara tetap menjadi salah satu stasiun tersibuk di Jakarta.

Baca Juga  Youtuber Asal Denmark Bantu Perbaikan Jembatan di Pemukim Bajo Wakatobi

Di masa perjuangan kemerdekaan, stasiun ini juga punya peran penting. Pada periode revolusi 1945–1949, jalur kereta menjadi sarana strategis untuk pergerakan tentara dan distribusi logistik. Kawasan Jatinegara termasuk titik vital yang ikut merasakan situasi politik dan keamanan yang tidak stabil saat itu.

Stasiun Jatinegara juga tercatat dalam sejarah perkembangan transportasi modern Indonesia. Pada tahun 1925, jalur Jatinegara–Tanjung Priok menjadi bagian dari layanan Kereta Rel Listrik (KRL) pertama di Indonesia. Pada masa itu, penggunaan kereta listrik menjadi simbol kemajuan teknologi transportasi di Batavia.

Nama “Jatinegara” sendiri punya cerita yang menarik. Dahulu kawasan ini lebih dikenal dengan nama Meester Cornelis, diambil dari nama seorang tokoh Belanda pada masa kolonial. Setelah masa pendudukan Jepang, nama itu kemudian berubah menjadi Jatinegara. Banyak versi berkembang mengenai asal-usul nama tersebut. Salah satunya menyebut kata Jatinegara berasal dari istilah “Negara Sejati”, yang dianggap memiliki makna lebih dekat dengan identitas lokal masyarakat saat itu.

Meski sudah berusia lebih dari 100 tahun, Stasiun Jatinegara terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Pada periode 2018 hingga 2020, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian melakukan renovasi besar-besaran untuk meningkatkan kapasitas stasiun dan kenyamanan penumpang. Peron diperluas, akses penumpang diperbaiki, dan fasilitas modern ditambahkan. Menariknya, proses renovasi itu tetap mempertahankan bagian utama bangunan lama karena statusnya sebagai cagar budaya.

Baca Juga  Pemkot Kendari Minta Forkopimda Berantas Judi online

Hari ini, Stasiun Jatinegara tidak hanya menjadi tempat orang datang dan pergi. Ia juga menjadi bagian dari ritme kehidupan Jakarta. Setiap pagi dipenuhi pekerja yang bergegas mengejar waktu, sementara malam hari menjadi tempat orang pulang setelah aktivitas panjang di ibu kota.

Insiden gangguan KRL pada Jumat kemarin mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi dari peristiwa itu, banyak orang kembali menyadari betapa pentingnya peran Stasiun Jatinegara dalam sistem transportasi Jakarta. Stasiun tua ini bukan hanya simpul perjalanan kereta, melainkan ruang yang menyimpan sejarah panjang tentang kota, perubahan zaman, dan kehidupan jutaan orang yang terus bergerak setiap harinya.

(Dihimpun dari berbagai sumber oleh Novrizal R Topa)

Visited 15 times, 1 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow