Penulis : Redaksi

Dirangkai Oleh: Novrizal R Topa

Fenomena kasus 271 Triliun masih viral mengisi Linimasa beberapa media sosial. Beragam status dan komentar diposting oleh penggiat media sosial terkait hal tersebut. Bahkan tidak sedikit yang mengkonversi dana fantastis tersebut dengan berbagai hal, misalnya jika dana sebanyak itu dibelikan kelor di pasar, kira-kira berapa banyak jadinya atau di investasikan ke hal lain yang bisa mensejahterakan masyarakat Indonesia.

Tatkala mengulik beberapa informasi yang berhubungan dengan dana dan investasi. Salah satunya berita yang beredar tentang sebuah pabrikan mobil listrik asal Cina, Build Your Dreams (BYD) yang akan menggelontorkan dana sekitar 1,3 miliar US dolar atau 20,3 triliun untuk membangun pabriknya di Indonesia pada tahun ini. Hal itu disampaikan oleh general manager BYD Asia pasific yaitu Liu Xueliang pada 18 Januari 2024 yang lalu.

Dikutip dari berbagai sumber, saat ini pihak BYD telah melakukan studi untuk pembangunan pabrik di tanah air yang direncanakan berkapasitas 150.000 unit per tahun. Jika melihat nilai tersebut, Indonesia memiliki peluang dan potensi yang sangat besar untuk menjadi kekuatan utama dalam industri mobil listrik di tingkat regional maupun Global.

Pabrikan mobil listrik asal China tersebut di gadang-gadang bakal melakukan peletakan batu pertama atau ground breaking untuk produksi lokal produknya pada April 2024.

Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia mengatakan salah satu agenda yang sudah direncanakan oleh pemerintah untuk April 2024 adalah peresmian groundbreaking pabrik mobil listrik dari BYD.

Merek pesaing Tesla tersebut memang telah berkomitmen untuk memproduksi unit mobil listriknya secara lokal. Sejauh ini BYD masih memasarkan produknya dengan menikmati insentif bebas bea masuk dan PPnBM sebagaimana tertuang dalam Perpres 79/2023.

Angin segar ini seakan mengobati gagalnya rencana pabrikan mobil listrik Tesla yang pernah di kabarkan akan berinvestasi di Indonesia namun hingga kini masih sebatas ilusi.

Janji Elon Musk untuk datang ke Indonesia pada November 2022 silam menguap tanpa jejak. Kunjungan Luhut Binsar Panjaitan dan Jokowi ke markas spacex di Amerika Serikat pada 22 Mei 2022 bagaikan mimpi indah yang kini berubah menjadi pil pahit.

Kekecewaan semakin mendalam saat mendengar keputusan pabrikan yang berdiri di San Carlo, California, Amerika Serikat ini memilih berinvestasi di Malaysia daripada Indonesia. Hal ini tentu meninggalkan luka yang mendalam bagi Indonesia.

Dampak Investasinya di Malaysia, membuat harga mobil Tesla di negeri Twin Tower dan Upin Ipin kini jauh lebih murah, memicu perkembangan pesat industri otomotif berbasis listrik di sana.

Di Indonesia sendiri, sebenarnya sudah ada beberapa pabrikan mobil listrik yang telah berinvestasi membangun pabrik mobil listrik maupun Hybrid di Indonesia, misalnya Hyundai Wuling, DSFK, Toyota, Suzuki, Daihatsu, ORA, Cherry, MG, Great Wall, Neta dan lain lain. Namun semuanya itu tidaklah cukup karena cita-cita Indonesia adalah menjadi basis produksi mobil listrik di Asia Tenggara dan di Australia karena meskipun sudah banyak merek mobil listrik yang punya pabrik di Indonesia namun tak ada satu pun merek mobil yang berinvestasi di Indonesia masuk dalam jajaran 10 mobil listrik terlaris di dunia.

Ditengah kekecewaan itu ada secerca harapan yang muncul pada 12 Januari 2024 lalu. menteri koordinator bidang kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan menegaskan bahwa raksasa mobil listrik dunia akan masuk pasar Indonesia pada pekan berikutnya atau tepatnya pada 18 Januari 2024 dan benar saja dalam acara Indonesia International Motor Show atau IMS 2024, BYD membawa tiga varian untuk pasar Indonesia yaitu Dolpin, Auto 3 dan Seal BYD.

Untuk Dolpin sendiri telah menjadi salah satu mobil listrik terlaris di dunia pada tahun 2023 dengan penjualannya yang mencapai 367.000 unit.

Nah kenapa Indonesia senang BYD masuk ke pasar dalam negeri padahal sebelumnya belum ada keterangan resmi akan membuka pabrik di Indonesia dari pihak BYD sendiri, itu karena Indonesia telah mengeluarkan PP nomor 79 tahun 2023 tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Aturan ini memberikan berbagai insentif termasuk pajak masuk 0% bagi pabrikan mobil listrik yang berniat membuka pabrik di Indonesia. Dalam hal ini menjelaskan setiap pabrikan mobil listrik yang memasuki pasar Indonesia harus siap untuk membangun pabrik di Indonesia sebelum tahun 2025.

Infoawibisa dalam Chanel youtubenya mengatakan, jika boleh jujur aturan tersebut juga menjadi bencana bagi Tesla dan pabrikan mobil lain yang tidak membangun pabrik di Indonesia khususnya untuk pasar dalam negeri Asia Tenggara dan Australia.

Dia mengambil contoh pasar dalam negeri, terlebih dahulu mobil listrik yang diproduksi di Indonesia yang mempunyai tingkat komponen dalam negeri sebesar 20 hingga 40% hanya akan terkena tarif pajak pertambahan nilai atau PPN sebesar 6%. Sedangkan untuk tingkat komponen di atas 40% hanya terkena tarif PPN sebesar 1% saja Lalu bagaimana dengan tarif pajak mobil listrik yang tidak mempunyai pabrik di Indonesia semisal seperti Tesla.

Jika mengacu pada aturan pajak maka Tesla akan masuk dalam kategori barang mewah, dimana kategori barang mewah adalah barang yang bukan merupakan barang kebutuhan pokok, barang yang hanya dikonsumsi oleh masyarakat tertentu dan barang yang hanya dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi.

Jika itu benar maka Tesla akan terkena tarif impor sebesar 5 hingga 7% dan tarif pajak penjualan atas barang mewah sebesar 50%.

Satu lagi, tarif mobil listrik dengan harga penjualan di atas Rp500 juta pajaknya sebesar 30%. Maka jangan heran jika di Malaysia harga tesla sebesar RM199.000 atau sekitar RM56 juta sedangkan di Indonesia dikutip dari situs resmi prk motor Cars harga Tesla sekitar 1,8 M. angka itu lebih dari 60% jika dibandingkan harga yang ada di Malaysia. Tentu untuk bersaing di pasar dalam negeri itu mustahil.

Yang kedua, persaingan di tingkat Asia Tenggara dan Australia akan semakin kompetitif meski Tesla dikabarkan hanya akan membangun kantor di Malaysia namun menteri perindustrian Malaysia mengatakan mereka juga berkeinginan Tesla membangun pabrik di negaranya.

Katakanlah itu terjadi persaingan dalam hal harga mungkin tidak akan berpengaruh signifikan dalam pasar yang ada di Malaysia karena bisa saja Malaysia akan melakukan proteksi seperti apa yang dilakukan oleh Indonesia, namun tidak untuk pasar ASEAN secara keseluruhan.

Dalam data ASEAN otomotive Federation yang dimulai oleh goods 2023, Filipina juga memiliki angka penjualan yang cukup besar dengan penjualan sebanyak 276.000 unit, kemudian Vietnam dengan angka penjualan mobil listrik sebesar180.000 unit. Tentu sebagai negara berkembang seperti kedua negara tersebut harga adalah faktor penentu dalam perkembangan mobil listrik di negara masing-masing. Jika itu benar maka pabrikan mobil listrik yang diproduksi di Indonesia mempunyai keunggulan dalam hal harga, karena biaya produksi di Indonesia lebih murah tenaga kerja, lebih murah bahan baku, serta tersedianya bahan baku.

Jika Indonesia menerapkan ekonomi flooding market seperti sekarang dengan memproduksi nikel sulfat secara besar-besaran dan menjualnya dengan harga yang rendah bagi produsen baterai mobil di dalam negeri untuk bersaing dengan baterai LFP, tentu bukan hal yang mustahil. Apalagi jika suatu hari nanti baterai NMC akan setara dengan baterai LFP, maka mobil yang diproduksi di Indonesia akan semakin di atas angin, karena dengan harga yang sama namun sudah menggunakan baterai NMC yang mempunyai jarak jelajah yang lebih jauh.

Visited 16 times, 1 visit(s) today