KENDARI, MITRANUSANTARA.ID – Kendari mencatat pertumbuhan ekonomi 7,78 persen pada Triwulan I 2026. Angka tersebut menempatkan Kota Kendari di posisi ketiga pertumbuhan ekonomi tertinggi tingkat kota secara nasional, setelah Palopo dan Pekanbaru, berdasarkan rilis Kementerian Dalam Negeri.
Capaian tersebut disampaikan Wali Kota Kendari Siska Karina Imran saat meluncurkan Sentra IKM Olahan Pangan, Kamis (10/9/2026).
Wali Kota menilai pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus dijaga agar dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi meningkat menjadi 7,78 persen. Tentu kita bertanya apa saja yang bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” kata Siska.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak berdiri sendiri. Sejumlah indikator ikut memengaruhinya, mulai dari peningkatan produksi barang dan jasa, pendapatan per kapita masyarakat, konsumsi, hingga penurunan angka pengangguran.
Stabilitas harga juga dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga momentum tersebut. Karena itu, pemerintah daerah terus memperkuat pengendalian pangan agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
Pada Agustus 2026, inflasi Kota Kendari secara tahunan tercatat 3,66 persen, sementara inflasi bulanan berada pada angka minus 0,37 persen. Kondisi ini tetap menjadi perhatian pemerintah karena gangguan pasokan maupun distribusi dapat berdampak langsung terhadap harga dan daya beli masyarakat.
Siska juga meminta agar tingginya kebutuhan pangan di Kota Kendari menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal. Salah satunya kebutuhan telur yang mencapai lebih dari 100 ribu butir per hari, termasuk untuk memenuhi kebutuhan 39 Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG. Kebutuhan ayam potong juga mencapai ratusan ekor setiap hari.
Menurutnya, besarnya pasar tersebut seharusnya mampu menciptakan efek pengganda atau multiplier effect bagi ekonomi lokal, bukan justru dinikmati pelaku usaha dari luar daerah.
“Semua kegiatan dan kebutuhan pangan di Kota Kendari harus memberikan dampak ekonomi bagi warga Kendari sendiri,” ujarnya.
Potensi ekonomi lokal juga terlihat dari keberadaan sekitar 600 industri kecil dan menengah (IKM) khusus olahan pangan di Kota Kendari. Sektor tersebut disebut mampu menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja.
Siska menilai fasilitas yang tersedia bagi pelaku IKM harus dimanfaatkan secara optimal agar tidak menjadi aset yang mubazir. Selain aktivitas produksi dan pemasaran produk, lokasi tersebut dapat dikembangkan untuk kegiatan lain seperti pertunjukan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Pemerintah juga menyiapkan akses permodalan bagi pelaku usaha. Modal sedikitnya Rp5 juta dapat diberikan tanpa bunga dan agunan, dengan mekanisme pembayaran yang dapat dicicil sesuai tenggat waktu. Fasilitasi tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Koperasi Amanah, Bank Sultra dan sejumlah perbankan lainnya.
Sementara untuk peningkatan kualitas produk dan kemasan, pelaku usaha dapat memperoleh pendampingan dari Dinas Perdagangan Kota Kendari.
Di sisi ketenagakerjaan, jumlah pengangguran di Kota Kendari saat ini masih berada di kisaran 10 ribu orang. Pemerintah terus berupaya menurunkannya melalui berbagai program, termasuk job fair dan penguatan sektor usaha lokal.
Siska berharap pertumbuhan ekonomi 7,78 persen tidak berhenti sebagai angka statistik. Dengan pengendalian harga, penguatan UMKM dan IKM, penciptaan lapangan kerja serta peningkatan konsumsi produk lokal, pertumbuhan ekonomi diharapkan semakin berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Harapan saya pertumbuhan ekonomi di Kota Kendari dan juga kesejahteraan masyarakat bisa terus meningkat,” pungkasnya.
Penulis: Sumarlin



