Penulis : Redaksi

Oleh: Molesara

Terpilihnya La Ode Darwin secara aklamasi sebagai Ketua Lembaga Budaya Muna (LBM) Sulawesi Tenggara bukan sekadar pergantian kepemimpinan organisasi. Lebih dari itu, momentum ini menjadi simbol harapan baru bagi masyarakat Muna untuk kembali merawat persatuan, memperkuat identitas budaya, dan membangun solidaritas sosial di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Dalam sambutannya pada Musyawarah Lembaga Budaya Muna, La Ode Darwin menegaskan bahwa forum budaya ini bukanlah agenda politik praktis ataupun ruang membangun kepentingan menuju kontestasi kekuasaan. Musyawarah tersebut, menurutnya, merupakan wadah konsolidasi budaya, pemikiran, dan pengabdian bagi masyarakat Muna.

Pernyataan ini penting untuk dipahami publik. Sebab belakangan ini, hampir semua ruang sosial sering dicurigai sebagai kendaraan politik. Akibatnya, semangat kebersamaan perlahan memudar karena masyarakat lebih sibuk melihat perbedaan kepentingan dibanding tujuan bersama.

Padahal budaya sejatinya hadir untuk menyatukan, bukan memecah. Budaya adalah identitas, akar sejarah, sekaligus perekat sosial masyarakat Muna sejak dahulu.

La Ode Darwin juga menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini adalah mengabdi dan menyelesaikan persoalan mendasar di Kabupaten Muna Barat. Baginya, pembangunan daerah tidak cukup hanya dengan pidato dan simbol, tetapi harus dimulai dari penguatan pelayanan masyarakat, pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, ekonomi, dan pengelolaan potensi daerah agar manfaatnya benar-benar dirasakan rakyat.

Baca Juga  Mudik Lebaran dan Perjalanan yang Mengembalikan Rasa

Pandangan ini menunjukkan bahwa membangun daerah harus dimulai dari pondasi yang kuat. Sebab kemajuan tidak akan lahir jika masyarakat masih tercerai-berai dan sibuk saling menjatuhkan.

Di tengah realitas sosial hari ini, masyarakat sering kali terjebak dalam sekat-sekat kepentingan, perbedaan pilihan, bahkan konflik kecil yang diwariskan menjadi permusuhan panjang. Padahal leluhur Muna telah meletakkan dasar kehidupan yang luhur: persaudaraan, gotong royong, dan penghormatan terhadap martabat sesama.

Karena itu, pesan La Ode Darwin bahwa “LBM harus menjadi rumah besar bagi seluruh masyarakat Muna” patut diapresiasi. Organisasi budaya tidak boleh hanya hadir sebagai simbol adat semata, tetapi juga menjadi ruang pemersatu tempat masyarakat kembali menemukan jati dirinya sebagai orang Muna yang saling menopang.

Budaya Muna sejak dahulu sesungguhnya telah mengajarkan nilai-nilai perdamaian. Dalam falsafah lokal disebutkan:

Dapoangka-angkatau, koe dopokata-katau
(Mari saling mengasihi, jangan saling menyakiti atau mencelakai)

Daporema-rematai, koe dopofema-fematai
(Mari bersama-sama mengambil peran, jangan saling menjatuhkan)

Dapotubho-tubho, koe dopotobho-tobo
(Mari saling menopang dan mendukung, jangan saling menikam)

Petuah ini bukan sekadar rangkaian kata tradisional. Ia adalah fondasi moral masyarakat Muna. Sayangnya, nilai-nilai tersebut perlahan mulai terkikis oleh ego kelompok, persaingan politik, hingga budaya saling menjatuhkan yang justru melemahkan persatuan.

Baca Juga  Pancasila Sakti, Korupsi Harus Mati

Keprihatinan La Ode Darwin terhadap mulai pudarnya identitas budaya generasi muda juga patut menjadi perhatian bersama. Hari ini, semakin banyak anak-anak Muna yang tidak lagi fasih menggunakan bahasa daerahnya sendiri. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kita sedang menghadapi ancaman hilangnya identitas budaya secara perlahan.

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah memori sejarah, cara berpikir, dan wajah peradaban suatu masyarakat. Ketika generasi muda kehilangan bahasa dan budayanya, maka sesungguhnya mereka sedang kehilangan akar dirinya.

Karena itu, upaya menjaga budaya harus menjadi gerakan bersama. Bukan hanya tugas tokoh adat atau pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh masyarakat Muna, terutama para orang tua dan generasi muda.

Dalam sambutannya, La Ode Darwin juga menyampaikan rencana menghimpun pemikiran para akademisi dan profesor asal Muna dari berbagai disiplin ilmu untuk membicarakan arah pembangunan Muna dan Muna Barat ke depan. Gagasan ini menunjukkan bahwa pembangunan daerah membutuhkan kolaborasi antara budaya, ilmu pengetahuan, dan pengalaman sosial masyarakat.

Muna Raya tidak boleh hanya dikenal karena sejarahnya, tetapi juga harus mampu tumbuh sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, pendidikan, sosial, kebudayaan, dan kekuatan sumber daya manusia di Sulawesi Tenggara.

Baca Juga  Bupati Muna Barat Serahkan SK 1.406 Pegawai PPPK, Dorong Semangat Baru Abdi Negara

Di sisi lain, dukungan para tokoh senior dan lintas generasi dalam musyawarah ini menjadi pertanda bahwa semangat persatuan masyarakat Muna masih hidup. Tinggal bagaimana energi besar tersebut diarahkan untuk kepentingan bersama, bukan untuk memperbesar sekat dan perbedaan.

Terpilihnya La Ode Darwin hendaknya menjadi titik awal kebangkitan persatuan masyarakat Muna. Bukan persatuan yang dibangun karena kepentingan sesaat, tetapi persatuan yang tumbuh dari kesadaran bahwa kita berasal dari akar budaya yang sama dan memiliki tanggung jawab bersama menjaga kehormatan Muna di mana pun berada.

Sebab pada akhirnya, budaya bukan hanya warisan masa lalu. Budaya adalah jalan untuk menjaga masa depan.

Mari kita hentikan kebiasaan saling menjatuhkan, saling mencurigai, dan saling melemahkan. Sudah saatnya masyarakat Muna berdiri dalam satu barisan persaudaraan, bergandengan tangan membangun generasi yang berbudaya, bermartabat, dan berdaya saing.

Mari kembali menghidupkan bahasa Muna di rumah-rumah kita, menjaga adat di tengah modernitas, serta memperkuat solidaritas demi masa depan Muna Raya yang lebih maju dan terhormat. Karena Muna yang besar tidak lahir dari perpecahan, tetapi tumbuh dari persatuan, kasih sayang, dan semangat saling menopang satu sama lain.

Visited 124 times, 29 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow