Penulis : Redaksi

JAKARTA, MITRANUSANTARA.ID – Di sebuah sudut kampung di Indramayu, seorang anak kecil pernah memanggul karung berisi ubi merah, menyusuri jalan tanah yang belum sepenuhnya ramah bagi langkah-langkah kecilnya. Ia bukan sedang bermain, melainkan membantu keluarganya bertahan hidup. Dari kesederhanaan itulah, jalan panjang seorang ulama sekaligus pendidik ditempa, jalan yang kelak membawa nama KH Ahmad Dasuki Adnan melintasi ruang-ruang dakwah, kelas-kelas madrasah, hingga pendirian sebuah pesantren di tengah hiruk-pikuk Jakarta.

Lahir di Tulang Kacang, Indramayu, pada 8 September 1939, kehidupan awalnya tidak menawarkan kemewahan, tetapi justru menghadirkan nilai-nilai yang kelak menjadi fondasi kuat: ketekunan, kemandirian, dan kedekatan dengan agama. Dalam lanskap pedesaan yang sederhana itu, pendidikan bukan sekadar pilihan, melainkan jalan keluar dari keterbatasan. Ia menempuhnya dengan kesungguhan, dari bangku SDN Bongas hingga menyeimbangkan studi formal dengan kehidupan pesantren di Babakan Ciwaringin, Cirebon.

Perjalanan intelektualnya terus bergerak, seolah tak mengenal lelah. Dari MA di Bandung, ia melanjutkan ke IAIN Cirebon, menekuni Ushuluddin hingga meraih gelar Bachelor of Arts. Namun, pencarian ilmunya tidak berhenti di sana. Ia kembali memperdalam studi di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, mengkaji Perbandingan Agama hingga meraih gelar Doktorandus. Di Jakarta, ia menambah perspektifnya dengan belajar hukum di Universitas Jayabaya, lalu memperdalam ilmu agama di STAI Al Aqidah. Rangkaian pendidikan ini membentuknya bukan hanya sebagai ulama, tetapi sebagai pemikir yang mampu menjembatani teks keagamaan dengan realitas sosial yang terus berubah.

Baca Juga  Kwarda Aceh Matangkan Persiapan Pelaksanaan Munas XI Pramuka

Di ruang-ruang kelas, ia dikenal sebagai pengajar yang tekun. Di MAN Babakan Ciwaringin dan kemudian di MAN Grogol Jakarta, ia tidak sekadar menyampaikan pelajaran, tetapi juga menanamkan cara berpikir. Sementara di mimbar-mimbar dakwah, suaranya menjangkau berbagai kalangan, menghadirkan Islam yang tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari. Baginya, agama bukan hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk dihidupi.

https://alwashilah.ponpes.id/Namun, mungkin jejak terpenting dari KH Ahmad Dasuki Adnan tidak hanya terletak pada kata-kata yang ia sampaikan, melainkan pada lembaga yang ia bangun. Di Jakarta, ia mendirikan Pondok Pesantren Al-Washliyah, sebuah ruang pendidikan yang mencoba menjawab kegelisahan zaman. Di sana, tradisi pesantren tidak ditinggalkan, tetapi dipertemukan dengan sistem pendidikan modern. Santri tidak hanya diajak menghafal kitab, tetapi juga dipersiapkan menghadapi dunia yang lebih luas.

Pesantren itu tumbuh bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai gagasan hidup. Sebuah keyakinan bahwa ilmu agama dan ilmu umum tidak perlu dipertentangkan. Bahwa seorang santri bisa menjadi pribadi yang religius sekaligus adaptif, berakar kuat sekaligus mampu menjangkau masa depan. Di lingkungan pesantren itulah, karakter dibentuk, kepemimpinan diasah, dan keberanian berbicara dilatih, sebuah proses panjang yang melampaui sekadar kurikulum.

Baca Juga  STIKOM 22 Januari Kendari Gelar Wisuda, 81 Lulusan Siap Berkarir

Di luar itu, ia juga hadir dalam berbagai ruang keumatan. Ia dikenal sebagai sosok yang membela paham Ahlussunnah wal Jama’ah, sekaligus aktif dalam gerakan sosial seperti pencetusan Gerakan TK Al-Qur’an (GETAR) dan keterlibatannya dalam Komnas Perdamaian Umat Beragama serta Komnas Dhuafa.

Baginya, pendidikan dan dakwah tidak bisa dipisahkan dari realitas sosial. Keduanya harus berjalan beriringan, menjawab kebutuhan umat secara nyata.

Apa yang ia jalani di masa muda, seperti berdagang ubi, hidup dalam keterbatasan, tidak pernah benar-benar ia tinggalkan. Justru pengalaman itu menjadi lensa yang membuatnya selalu dekat dengan masyarakat kecil. Ia memahami bahwa pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga soal membuka jalan bagi perubahan hidup. Karena itu, ia kerap mendorong agar pesantren dan sekolah berbasis masyarakat mendapat perhatian lebih, agar tetap mampu bertahan dan berkembang.

Hari ini, gagasan yang ia tanamkan tetap menemukan relevansinya. Di tengah dunia yang bergerak cepat, kebutuhan akan pendidikan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral, semakin terasa. Pertanyaan yang dulu mungkin hanya menjadi kegelisahannya, kini menjadi pertanyaan banyak orang tua: “bagaimana menyiapkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter dan mampu memimpin?”

Baca Juga  Andi Ady Aksar Terpilih Pimpin IKA SMANSA Kendari Periode 2025–2029

Jawaban atas pertanyaan itu, setidaknya sebagian, dapat ditemukan dalam jejak yang ia tinggalkan. Model pendidikan terpadu yang ia rintis menjadi salah satu rujukan penting dalam melihat masa depan pesantren di Indonesia. Sebuah model yang tidak menolak modernitas, tetapi juga tidak kehilangan akar nilai.

Di Pondok Pesantren Al-Washliyah Jakarta, semangat itu terus hidup. Di sana, para santri belajar tidak hanya memahami Al-Qur’an, tetapi juga menyampaikannya. Mereka dilatih berbicara, memimpin, dan berinteraksi dengan masyarakat. Pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.

Dan mungkin, jika kita menelusuri kembali jejak panjang itu, dari seorang anak kecil yang menjajakan ubi di Indramayu hingga seorang ulama yang mendirikan pesantren di Jakarta, kita akan menemukan satu benang merah, yakni “keyakinan”, bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dari kesederhanaan, dari ketekunan yang tidak pernah menyerah.

Warisan itulah yang kini terus mengalir, melintasi generasi, mempertegas bahwa pendidikan bukan sekadar proses belajar, tetapi perjalanan membentuk manusia seutuhnya.

Visited 1 times, 1 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow