Oleh: Molesara
(Pendiri Garuda ASR)
KENDARI, MITRANUSANTARA.ID – Dinamika politik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan sebuah pemerintahan. Perbedaan pandangan, kritik, bahkan ketegangan komunikasi antartokoh politik adalah sesuatu yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Namun, yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap pemimpin menyikapi perbedaan tersebut agar tidak berkembang menjadi persoalan yang merugikan kepentingan masyarakat.
Belakangan ini, masyarakat Sulawesi Tenggara mengikuti dinamika komunikasi politik antara Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka (ASR), dan Ridwan Bae (RB). Persoalan bermula dari pernyataan Ridwan Bae yang mengkritik ASR agar tidak hanya berada di belakang meja, tetapi lebih aktif turun langsung melihat dan mendengarkan persoalan masyarakat.
Pernyataan tersebut kemudian mendapat respons dan berkembang menjadi polemik, terutama setelah munculnya respons dari pihak-pihak di sekitar kedua tokoh. Situasi ini sempat memunculkan berbagai tanggapan di tengah masyarakat.
Sebagai bagian dari masyarakat yang mengikuti perkembangan politik Sulawesi Tenggara, saya memandang bahwa perbedaan komunikasi seperti ini tidak semestinya dibiarkan berlarut-larut. Apalagi, kedua tokoh memiliki posisi dan pengaruh penting dalam dinamika pemerintahan serta politik daerah.
Kita perlu memahami bahwa ASR merupakan Gubernur Sulawesi Tenggara yang memegang tanggung jawab menjalankan pemerintahan dan pembangunan daerah. Sementara itu, Ridwan Bae merupakan tokoh politik nasional yang memiliki pengaruh dan jaringan politik, termasuk melalui Partai Golkar yang memiliki keterwakilan di DPRD Sulawesi Tenggara.
Hubungan yang baik antara pemerintah daerah dan kekuatan politik di legislatif menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga kesinambungan pembangunan. DPRD memiliki fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan. Karena itu, komunikasi yang sehat antara eksekutif dan legislatif perlu terus dipelihara.
Jangan sampai perbedaan komunikasi antartokoh justru berkembang menjadi ketegangan politik yang berpotensi mengganggu kerja sama kelembagaan. Sebab, yang paling dirugikan jika stabilitas hubungan pemerintahan terganggu bukanlah para elite politik, melainkan masyarakat yang menantikan hasil pembangunan.
Pelukan yang Mengandung Pesan Kedewasaan
Ada satu momen yang patut mendapat perhatian dalam perkembangan dinamika tersebut. Kehadiran ASR dalam kegiatan Partai Golkar di Kolaka, kemudian momen ketika ASR dan Ridwan Bae saling merangkul dan berpelukan, menjadi pemandangan yang menarik bagi masyarakat Sulawesi Tenggara.
Saya memandang momen tersebut sebagai gestur positif yang dapat dimaknai sebagai ruang untuk meredakan ketegangan dan membuka kembali komunikasi di antara kedua tokoh.
Di tengah situasi ketika perbedaan pendapat sering kali diperbesar oleh berbagai kepentingan dan komentar di ruang publik, sikap untuk tetap hadir, bersalaman, dan merangkul satu sama lain merupakan pesan sosial yang patut diapresiasi.
Kehadiran ASR dalam acara tersebut juga memperlihatkan bahwa perbedaan komunikasi tidak harus menjadi penghalang untuk menjaga hubungan baik. Sikap seperti ini mengingatkan kita bahwa seorang pemimpin tidak hanya dituntut memiliki keberanian mengambil keputusan, tetapi juga kemampuan mengendalikan ego dan membangun jembatan komunikasi.
Tentu, sebuah pelukan tidak serta-merta menyelesaikan seluruh perbedaan. Namun, setidaknya gestur tersebut dapat menjadi awal yang baik untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka dan konstruktif.
Tiga Sikap ASR yang Patut Diapresiasi
Saya secara pribadi mengapresiasi sikap santun yang ditunjukkan ASR dalam menyikapi dinamika komunikasi politik dengan Ridwan Bae. Setidaknya ada tiga hal yang menjadi perhatian saya.
Pertama, ASR tidak terpancing membalas kritik dengan polemik serupa.
Meskipun kritik Ridwan Bae telah beredar luas di media sosial dan menjadi perbincangan publik, ASR tidak memilih memperpanjang persoalan melalui balasan pantun atau perdebatan terbuka yang berpotensi memperkeruh suasana.
Bagi saya, sikap ini memperlihatkan bahwa seorang pemimpin tidak harus merespons setiap kritik dengan perdebatan. Ada kalanya ketenangan dan kemampuan menahan diri justru menjadi bagian penting dari kedewasaan dalam memimpin.
Kedua, ASR tetap bersedia menghadiri pelantikan pengurus Partai Golkar secara serentak di Kolaka.
Kehadiran ASR dalam kegiatan tersebut menjadi perhatian tersendiri. Di sana, ASR bertemu langsung dengan Ridwan Bae dan keduanya terlihat saling berangkulan.
Bagi saya, ini merupakan gestur positif. ASR memperlihatkan bahwa perbedaan pandangan politik tidak harus menjadi alasan untuk menghindari pertemuan atau memutus hubungan silaturahmi.
Sikap seperti ini penting dalam kehidupan sosial dan politik kita. Sebab, persaudaraan harus tetap dijaga meskipun terdapat perbedaan pandangan, pilihan, maupun kepentingan.
Ketiga, ASR tetap fokus membangun Sulawesi Tenggara dengan gaya kepemimpinannya sendiri.
Sebagai gubernur, ASR memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan roda pemerintahan berjalan dan program pembangunan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Saya melihat bahwa energi seorang pemimpin seharusnya lebih banyak diarahkan untuk bekerja, menyelesaikan persoalan daerah, dan mewujudkan program pembangunan daripada terseret dalam polemik yang tidak produktif.
Setiap pemimpin tentu memiliki karakter dan gaya kepemimpinan masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana kepemimpinan tersebut diterjemahkan menjadi kerja nyata dan hasil yang dapat dirasakan masyarakat.
Bagi saya, inilah sikap yang patut diapresiasi. Pemimpin tidak harus membalas setiap kritik dengan perdebatan. Ada kalanya sikap tenang, menjaga silaturahmi, dan tetap bekerja justru menyampaikan pesan yang jauh lebih kuat.
Kritik Bukan Permusuhan, Perbedaan Bukan Perpecahan
Dalam kehidupan demokrasi, kritik merupakan sesuatu yang dibutuhkan. Seorang gubernur membutuhkan masukan, pengawasan, dan kritik agar kebijakan pemerintahannya tetap berada pada jalur kepentingan rakyat.
Karena itu, kritik Ridwan Bae terhadap aktivitas dan kinerja gubernur seharusnya dapat ditempatkan dalam ruang demokrasi yang sehat. Sebaliknya, setiap kritik juga perlu disampaikan dengan memperhatikan etika komunikasi dan proporsionalitas.
Demikian pula, pihak yang menerima kritik perlu melihatnya sebagai bagian dari dinamika kepemimpinan, bukan semata-mata sebagai serangan pribadi.
Sulawesi Tenggara masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Pembangunan infrastruktur, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pemerataan ekonomi, pendidikan, kesehatan, serta penguatan potensi daerah membutuhkan kerja bersama.
Persoalan-persoalan tersebut jauh lebih besar daripada perbedaan komunikasi antartokoh politik.
Oleh sebab itu, kita berharap ASR dan Ridwan Bae dapat terus membangun komunikasi yang baik, saling menghormati posisi masing-masing, serta mengedepankan kepentingan masyarakat Sulawesi Tenggara.
Keteladanan Pemimpin untuk Masyarakat
Sebagai Pendiri Garuda ASR, saya melihat sikap ASR yang tetap membuka ruang silaturahmi dan hadir dalam kegiatan Partai Golkar sebagai sebuah sikap yang memiliki pesan keteladanan.
Kerendahan hati bukan berarti kehilangan wibawa. Menghormati pihak yang berbeda pandangan bukan berarti mengurangi kehormatan diri. Justru, kemampuan menjaga hubungan baik di tengah perbedaan merupakan salah satu nilai penting dalam kepemimpinan.
Masyarakat Sulawesi Tenggara membutuhkan pemimpin yang tidak hanya mampu membangun daerah secara fisik, tetapi juga mampu memberikan contoh bagaimana perbedaan disikapi secara dewasa.
Keteladanan seperti ini juga penting diwariskan kepada generasi muda. Jangan sampai masyarakat belajar bahwa perbedaan pandangan harus selalu berakhir dengan permusuhan. Sebaliknya, kita harus menunjukkan bahwa perbedaan dapat diselesaikan melalui dialog, saling menghargai, dan semangat persaudaraan.
Pada akhirnya, ASR dan Ridwan Bae memiliki tanggung jawab serta ruang pengabdian masing-masing. Keduanya mungkin berbeda dalam pandangan, pendekatan, maupun kepentingan politik. Namun, ada satu kepentingan yang semestinya tetap sama, yakni kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tenggara.
Saya berharap momen kebersamaan tersebut tidak berhenti sebagai simbol atau dokumentasi sebuah acara. Lebih dari itu, hendaknya menjadi awal penguatan komunikasi, kerja sama, dan komitmen bersama untuk membangun Sulawesi Tenggara.
Sebab, masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang selalu terlihat sepakat dalam segala hal. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan persaudaraan, mampu mengkritik tanpa merendahkan, serta mampu bekerja sama tanpa harus mengorbankan prinsip.
Sulawesi Tenggara terlalu berharga untuk dipertaruhkan hanya karena ego dan perbedaan komunikasi politik.









