Penulis : Redaksi

MUNA, MITRANUSANTARA.ID – Pemerintah Kabupaten Muna di bawah kepemimpinan Bupati Bachrun Labuta dan Wakil Bupati La Ode Asrafil Ndoasa terus menunjukkan komitmennya dalam membangun daerah berbasis potensi lokal. Salah satu langkah yang mendapat apresiasi adalah pencanangan Gerakan Makan Jagung sebagai bagian dari implementasi visi JATI (Jagung, Hortikultura, Ternak, dan Ikan).

Tokoh masyarakat Muna, La Ode H. Ringa Jhon, menilai program tersebut bukan sekadar agenda seremonial dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-67 Kabupaten Muna dan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi merupakan gerakan strategis untuk mengembalikan jati diri masyarakat Muna yang sejak dahulu dikenal memiliki budaya pangan berbasis jagung.

“Gerakan Makan Jagung adalah langkah yang patut diapresiasi. Ini bukan hanya soal mengajak masyarakat mengonsumsi jagung, tetapi bagaimana pemerintah berupaya mengembalikan kebanggaan kita terhadap warisan budaya dan potensi yang dimiliki Kabupaten Muna,” ujar La Ode H. Ringa Jhon kepada mitranusantara.id di Jakarta. Senin (27/7/2026).

Menurutnya, masyarakat Muna memiliki sejarah panjang dengan jagung putih lokal atau kahitela yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai sumber pangan utama masyarakat. Budaya tersebut bahkan telah melahirkan beragam kuliner khas yang hingga kini masih lestari di tengah masyarakat.

Baca Juga  H-2 Lebaran: Penjual Kulit Ketupat Sepi, Pedagang Ayam Diserbu Warga

“Kita punya kambose yang menjadi makanan khas masyarakat Muna, katumbu gola yang selalu hadir saat musim panen, hingga kambewe yang memiliki cita rasa tersendiri. Semua itu menunjukkan bahwa jagung bukan hanya tanaman pangan, tetapi bagian dari identitas dan peradaban masyarakat Muna,” katanya.

Ringa Jhon menjelaskan, di tengah berbagai tantangan ketahanan pangan global, langkah Pemerintah Kabupaten Muna mengangkat kembali pangan lokal merupakan kebijakan yang visioner. Ia menilai, pembangunan daerah seharusnya memang berangkat dari potensi dan karakteristik yang dimiliki masyarakatnya.

“Daerah yang maju bukanlah daerah yang melupakan budayanya. Justru daerah yang besar adalah daerah yang mampu menjadikan warisan leluhurnya sebagai fondasi pembangunan masa depan. Apa yang dilakukan Bachrun dan La Ode Asrafil hari ini adalah upaya membangun Muna dari kekuatan yang kita miliki sendiri,” ungkapnya.

Ia juga menilai visi JATI memiliki keterkaitan yang kuat dalam membangun ekosistem ekonomi masyarakat. Jagung dapat menjadi sumber pangan dan pakan ternak, hortikultura mampu meningkatkan produktivitas pertanian, sementara sektor peternakan dan perikanan dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

Baca Juga  KSOP dan Pelindo Ubah Rute Penumpang di Pelabuhan Nusantara Kendari

“Visi JATI sangat relevan dengan kondisi geografis dan potensi Kabupaten Muna. Jika dijalankan secara konsisten dan terintegrasi, saya optimistis program ini akan berdampak besar terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ringa Jhon berharap Gerakan Makan Jagung juga mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap pangan lokal. Menurutnya, sudah saatnya masyarakat Muna kembali bangga mengonsumsi hasil bumi daerahnya sendiri.

“Jangan sampai kita merasa minder dengan budaya makan jagung. Di banyak negara, pangan lokal justru menjadi kebanggaan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Jagung adalah identitas kita. Jagung adalah simbol kemandirian pangan masyarakat Muna sejak dahulu,” katanya.

Ia menambahkan, penyediaan 566 dulang dalam Gerakan Makan Jagung yang akan digelar pada 2 Agustus 2026 di kawasan Sarana Olahraga (SOR) La Ode Pandu memiliki makna filosofis yang mendalam. Dulang merupakan simbol kebersamaan dan gotong royong yang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Muna.

Ringa Jhon bilang, Gerakan Makan Jagung menjadi salah satu wujud nyata bahwa pembangunan daerah tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang baru. Terkadang, masa depan justru dibangun dengan menghargai dan menghidupkan kembali kearifan lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur. Di Kabupaten Muna, warisan itu bernama jagung.

Baca Juga  Mantum HIPMI Sultra Hadiri Deklarasi untuk Triawan, Kandidat Ketum BPD HIPMI Sultra

“Gerakan ini bukan hanya tentang makan bersama, tetapi tentang bagaimana kita merawat sejarah, budaya, dan semangat membangun daerah secara bersama-sama. Ketika kita menanam jagung, sesungguhnya kita sedang menanam kesejahteraan bagi masyarakat Kabupaten Muna,” tutupnya.

Laporan: Agus Berdy

Visited 1 times, 1 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow