KONAWE SELATAN, MITRANUSANTARA.ID – Pondok Pesantren (Ponpes) Ashabul Jannah di Desa Lumbueya, Kecamatan Moramo Barat, Kabupaten Konawe Selatan, resmi memulai aktivitas pendidikan dengan menggelar salat Jumat perdana di masjid pesantren, Jumat (17/7/2026).
Momentum tersebut sekaligus menandai dibukanya tahun ajaran pertama bagi santri Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau SMP Islam Terpadu Ashabul Jannah.
Kegiatan itu dipimpin langsung Ketua Yayasan Tosepu Mepokoaso Indonesia, Asmawa Tosepu, yang menyebut masjid sebagai pusat aktivitas spiritual sekaligus awal pembangunan peradaban di lingkungan pesantren.
Menurut Asmawa, pembangunan masjid merupakan bagian dari rencana besar pengembangan Ponpes Ashabul Jannah sebagai pusat pendidikan yang memadukan pembinaan keagamaan, ilmu pengetahuan, serta penguasaan teknologi bagi generasi muda Sulawesi Tenggara.
“Salat Jumat pertama ini menjadi penanda dimulainya perjalanan Pondok Pesantren Ashabul Jannah dalam mencetak generasi yang beriman, berilmu, dan memiliki karakter kuat. Kami ingin pesantren ini menjadi pusat dakwah, pengembangan ilmu agama sekaligus ilmu pengetahuan dan teknologi di Konawe Selatan maupun Sulawesi Tenggara,” ujarnya.
Mantan Penjabat Wali Kota Kendari itu menjelaskan, berbagai fasilitas pendidikan di kawasan pesantren terus dibangun dan disempurnakan. Pengembangan sarana dan prasarana tersebut diharapkan mampu memberikan kenyamanan bagi para santri sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk menitipkan pendidikan putra-putrinya di Ponpes Ashabul Jannah.
Pada tahap pertama, pesantren telah menerima 20 santri putra yang baru menyelesaikan pendidikan sekolah dasar. Untuk pendidikan formal, para santri akan mengikuti proses belajar di sekolah negeri terdekat melalui kerja sama yang telah dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Konawe Selatan.
Asmawa menegaskan, sistem pendidikan di Ashabul Jannah menggabungkan pendidikan formal dengan pembinaan kepesantrenan sehingga para santri tetap memperoleh pendidikan umum tanpa mengurangi porsi pembelajaran agama.
Ia juga memperkenalkan para ustaz yang akan mendampingi santri selama tinggal di asrama. Saat ini terdapat dua ustaz pembimbing yang menetap di lingkungan pesantren, sementara proses pembinaan akan mendapat supervisi dari Pondok Pesantren Darul Ulum 2 untuk memastikan kualitas pendidikan berjalan sesuai standar.
“Terdaftar 20 orang santri yang akan mondok di Pondok Pesantren Ashabul Jannah. Dengan ustaz pembimbing yang menetap ada dua orang, kemudian kegiatan mereka akan disupervisi oleh pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum 2 agar proses pembinaan berjalan maksimal,” jelasnya.
Asmawa mengungkapkan, para ustaz yang bertugas direkrut dari Pondok Pesantren Raudhatul Al-Hasanah, Jasinga, Kabupaten Bogor. Pemilihan tersebut didasarkan pada pengalaman para pembimbing yang telah mendampingi santri selama kurang lebih sembilan tahun.
“Dengan pengalaman kami saat menjadi Penjabat Bupati Bogor, kami banyak melihat perkembangan pondok pesantren di sana. Karena itu kami memilih ustaz dari Pondok Pesantren Raudhatul Al-Hasanah di Jasinga. Mereka bukan hanya hafiz Al-Qur’an, tetapi juga memiliki pengalaman panjang dalam membina dan mendampingi santri,” katanya.
Tidak berhenti sampai di situ, Yayasan Tosepu Mepokoaso Indonesia juga tengah melakukan proses rekrutmen tambahan bagi para hafiz Al-Qur’an lulusan Timur Tengah, khususnya dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Sejumlah calon pengajar telah mengikuti tahapan wawancara dan seleksi, dan dalam waktu dekat akan ditetapkan sebagai tenaga pendidik di Ponpes Ashabul Jannah.
Menurut Asmawa, kehadiran tenaga pengajar yang kompeten menjadi salah satu prioritas untuk mewujudkan pesantren yang mampu melahirkan generasi Qurani sekaligus memiliki kemampuan akademik dan kepemimpinan yang baik.
Dengan dimulainya aktivitas pendidikan tersebut, Ponpes Ashabul Jannah diharapkan menjadi salah satu pusat pengembangan sumber daya manusia berbasis nilai-nilai Islam di Sulawesi Tenggara. Selain mencetak hafiz Al-Qur’an, pesantren ini juga ditargetkan melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebutuhan pembangunan daerah di masa depan.
Penulis: Sumarlin



