Oleh: Suhendi, S.Si.
Alumni HMI Cabang Jakarta Barat
SUBANG – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Subang pada Desember 2026 semestinya tidak berhenti pada persoalan siapa yang paling dikenal, siapa yang paling banyak memasang atribut, atau siapa yang paling ramai mendapatkan dukungan.
Lebih dari itu, Pilkades adalah momentum bagi masyarakat untuk menentukan arah masa depan desanya.
Di Desa Jatiragas Hilir, Kecamatan Patokbeusi, pilihan tersebut menjadi penting karena kepala desa bukan sekadar pemegang jabatan administratif. Ia akan berhadapan langsung dengan persoalan masyarakat, mulai dari pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, pengelolaan potensi desa, hingga bagaimana memastikan pemerintahan desa berjalan terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, masyarakat patut melihat Pilkades dengan cara pandang yang lebih dewasa.
Pada rapat pleno terbuka pengundian nomor urut calon kepala desa yang berlangsung pada 7 Oktober 2026 di Kantor Desa Jatiragas Hilir, H. Iwan Setiawan memperoleh nomor urut 1.
Seperti kandidat lainnya, Iwan tentu memiliki gagasan yang ditawarkan kepada masyarakat. Pembangunan desa, kemandirian melalui pengembangan potensi lokal, integritas pelayanan serta transparansi pemerintahan menjadi bagian dari gagasan yang disampaikannya.
Gagasan tersebut tentu tidak boleh berhenti sebagai slogan. Sebab, tantangan seorang kepala desa justru dimulai setelah memperoleh mandat dari masyarakat.
Di situlah kualitas kepemimpinan akan diuji.
Desa Tidak Cukup Dipimpin dengan Rutinitas
Desa hari ini telah berubah. Masyarakat semakin kritis, akses informasi semakin terbuka dan kebutuhan warga semakin beragam.
Kepala desa tidak cukup hanya mampu menjalankan rutinitas pemerintahan. Ia dituntut mampu membaca perubahan dan mengubah potensi desa menjadi kekuatan ekonomi serta sosial masyarakat.
Jatiragas Hilir memiliki sumber daya manusia dan potensi lokal yang dapat dikembangkan. Persoalannya bukan semata-mata apakah potensi itu ada, tetapi apakah pemerintahan desa memiliki keberanian, kreativitas dan kemampuan mengelolanya.
Karena itu, kepemimpinan masa depan membutuhkan keberanian keluar dari pola lama yang hanya mengandalkan kebiasaan.
Digitalisasi pelayanan, keterbukaan informasi anggaran, penguatan ekonomi masyarakat, pemberdayaan pemuda, pengembangan UMKM, peningkatan kualitas aparatur desa dan pemanfaatan potensi lokal adalah bagian dari tantangan yang tidak bisa dihindari.
Di sinilah gagasan tentang regenerasi kepemimpinan menjadi relevan.
Generasi muda tidak harus dipahami hanya dari ukuran umur. Yang lebih penting adalah mentalitas kepemimpinannya.
Apakah berani menerima kritik? Apakah terbuka terhadap gagasan baru? Apakah mampu bekerja dengan kelompok masyarakat yang berbeda? Apakah memiliki kemampuan mengelola pemerintahan? Dan yang paling penting, apakah siap mempertanggungjawabkan setiap keputusan kepada masyarakat?
Itulah pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar usia seorang calon.
Jangan Memilih Karena Ramai
Dalam setiap kontestasi politik, popularitas memang memiliki pengaruh. Tetapi popularitas tidak selalu identik dengan kemampuan memimpin.
Seseorang bisa sangat dikenal, tetapi belum tentu mampu mengelola pemerintahan. Sebaliknya, seseorang yang tidak terlalu banyak tampil bisa saja memiliki gagasan dan kemampuan yang dibutuhkan masyarakat.
Karena itu, masyarakat Jatiragas Hilir sebaiknya tidak menyerahkan pilihan hanya berdasarkan suara mayoritas di lingkungan, ajakan kelompok, kedekatan personal ataupun popularitas calon.
Lihat rekam jejaknya. Dengarkan programnya. Uji gagasannya.
Jika seorang calon berbicara tentang pembangunan, masyarakat berhak bertanya: pembangunan seperti apa?
Jika berbicara tentang kemandirian desa, masyarakat berhak bertanya: potensi apa yang akan dikembangkan?
Jika berbicara tentang transparansi, masyarakat berhak bertanya: bagaimana mekanisme keterbukaan itu akan dijalankan?
Dan jika berbicara tentang pelayanan publik, masyarakat berhak bertanya: perubahan apa yang akan dirasakan warga?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk ketidakpercayaan. Justru itulah bagian dari demokrasi yang sehat.
Kepala Desa Bukan Milik Kelompok
Ada satu hal yang sering terlupakan dalam setiap pemilihan kepala desa: setelah terpilih, kepala desa bukan lagi milik kelompok pendukungnya.
Ia menjadi kepala desa bagi seluruh masyarakat.
Karena itu, siapa pun yang nantinya mendapatkan mandat dari masyarakat Jatiragas Hilir harus mampu meninggalkan sekat-sekat politik setelah proses pemilihan selesai.
Tidak boleh ada warga yang merasa menjadi kelompok nomor dua hanya karena berbeda pilihan.
Pemerintahan desa harus berdiri di atas kepentingan seluruh warga.
Di sinilah integritas seorang pemimpin benar-benar diperlukan. Integritas bukan hanya kata yang bagus dalam visi dan misi. Integritas diuji ketika seorang pemimpin harus mengambil keputusan yang mungkin tidak populer, tetapi benar dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat.
Saatnya Gagasan Mengalahkan Sekadar Popularitas
Pilkades seharusnya menjadi kompetisi gagasan.
Masyarakat tidak membutuhkan pertarungan yang berujung pada perpecahan. Masyarakat membutuhkan perdebatan tentang bagaimana desa dapat menjadi lebih maju, bagaimana pelayanan diperbaiki, bagaimana ekonomi warga diperkuat dan bagaimana potensi desa dikembangkan.
Karena itu, setiap kandidat seharusnya diberi ruang yang sama untuk menjelaskan gagasannya.
Termasuk H. Iwan Setiawan, dengan gagasan pembangunan, kemandirian potensi desa, integritas dan transparansi yang ditawarkannya.
Tetapi pada akhirnya, gagasan harus diuji oleh masyarakat, bukan dipercaya begitu saja.
Sebab janji politik mudah disampaikan ketika seseorang sedang mencari mandat. Tantangan sebenarnya adalah membuktikannya setelah mandat berada di tangan.
Desa Membutuhkan Pemimpin yang Mau Bekerja
Jatiragas Hilir tidak hanya membutuhkan kepala desa yang pandai berbicara.
Desa membutuhkan pemimpin yang mau turun melihat persoalan warga, membuka komunikasi, mendengar kritik dan bekerja bersama masyarakat.
Pemimpin yang mampu mengubah kantor desa dari sekadar tempat pelayanan administratif menjadi pusat pelayanan masyarakat.
Pemimpin yang memahami bahwa pembangunan bukan hanya beton dan jalan, tetapi juga manusia.
Pemimpin yang menyadari bahwa pemuda bukan sekadar massa pendukung ketika pemilihan, melainkan aset penting bagi masa depan desa.
Dan pemimpin yang memahami bahwa transparansi bukan sekadar membuka informasi ketika diminta, tetapi membangun budaya pemerintahan yang sejak awal memang terbuka.
Jika generasi muda memiliki kapasitas untuk membawa cara berpikir baru, maka tidak ada alasan untuk menutup ruang bagi mereka.
Namun generasi muda juga harus membuktikan bahwa mereka bukan sekadar membawa energi baru, melainkan juga kematangan, integritas dan kemampuan mengambil keputusan.
Pada akhirnya, masyarakat Jatiragas Hilir-lah yang memiliki hak menentukan pilihan.
Bukan penulis. Bukan kelompok tertentu. Bukan pula mereka yang paling keras menyuarakan dukungan.
Masyarakatlah yang akan memberikan mandat.
Karena itu, mari jadikan Pilkades Jatiragas Hilir sebagai kompetisi yang sehat. Berbeda pilihan tidak harus bermusuhan. Mendukung calon tertentu tidak berarti harus merendahkan calon lainnya.
Sebab setelah pemilihan selesai, semua akan kembali menjadi warga Jatiragas Hilir dengan kepentingan yang sama.
Masa depan desa terlalu penting jika hanya ditentukan oleh siapa yang paling populer.
Yang harus menentukan adalah siapa yang memiliki gagasan, kapasitas, integritas dan keberanian untuk bekerja.
Dan ketika generasi muda datang membawa gagasan perubahan, masyarakat setidaknya patut membuka ruang untuk mendengarkan, menguji dan menilai.
Karena memimpin desa bukan tentang siapa yang paling banyak berjanji. Memimpin desa adalah tentang siapa yang paling siap mempertanggungjawabkan mandat masyarakat.










