JAKARTA, MITRANUSANTARA.ID– Perubahan sebuah lingkungan ternyata tidak selalu harus dimulai dari program besar. Dari tingkat RT, kreativitas warga, teknologi dan gotong royong bisa disatukan untuk menghadirkan kawasan yang lebih aman, bersih dan tertata.
Hal itu menjadi salah satu pembelajaran Wali Kota Kendari dr. Hj. Siska Karina Imran saat melakukan kunjungan studi pengelolaan lingkungan RT dan RW terpadu di RT 11/RW 07, Kelurahan Gandaria Utara, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (8/10/2026).
Didampingi sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), Siska melihat langsung berbagai inovasi yang dikembangkan warga. Lingkungan tersebut dikenal sebagai “RT Viral” atau “RT Rasa Smart City” karena mampu menggabungkan teknologi dengan partisipasi masyarakat dalam mengelola berbagai persoalan lingkungan.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah e-Gate 11. Sistem gerbang digital berbasis kartu RFID tersebut digunakan untuk mengatur akses keluar-masuk warga, terutama pada malam hari sebagai bagian dari upaya memperkuat keamanan lingkungan.
Keamanan kawasan juga didukung 12 kamera CCTV yang ditempatkan di sejumlah titik strategis. Pantauan CCTV dapat diakses secara real-time melalui telepon pintar, sehingga warga ikut terlibat dalam pengawasan lingkungan.
Sistem tersebut diperkuat dengan GPS untuk kendaraan warga, panic button dan sirene darurat. Ada pula “Si Jaga Warga”, berupa pengeras suara lingkungan yang digunakan untuk menyampaikan informasi dan imbauan keamanan, termasuk pengingat jam malam.
Sementara kegiatan ronda warga telah didukung sistem digital melalui Patrolink. Petugas siskamling melakukan absensi menggunakan pemindaian QR Code.
Menurut Siska, penggunaan teknologi di tingkat lingkungan menjadi menarik karena tidak menghilangkan peran masyarakat. Sebaliknya, teknologi digunakan untuk memperkuat keterlibatan warga.
“Teknologi digunakan bukan untuk menggantikan peran masyarakat, tetapi justru memperkuat gotong royong dan kepedulian warga terhadap lingkungannya,” kata Siska.
Tak hanya soal keamanan, Wali Kota Kendari juga mempelajari pengelolaan sampah yang dilakukan warga melalui program Bang Jali atau Bareng Jaga Lingkungan.
Sampah dikelola sejak dari sumbernya. Sampah organik rumah tangga dikumpulkan melalui KomLing atau Kompos Keliling untuk kemudian diolah menjadi kompos.
Sementara botol plastik dan kaleng bekas dipadatkan menggunakan Smart Geprek sehingga lebih mudah dikumpulkan dan didaur ulang.
Hasil pengolahan sampah organik kemudian dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan melalui program KOMA atau Kompos Mandiri. Area komunal digunakan warga untuk menanam berbagai jenis sayuran dengan memanfaatkan pupuk dari sampah organik yang telah diolah.
Siska menilai pola tersebut dapat menjadi referensi bagi Kota Kendari, meski penerapannya tidak harus dilakukan dengan cara yang sama.
“Banyak hal yang bisa kita pelajari di sini. Tentunya tidak semuanya harus kita salin, tetapi kita bisa mengambil konsepnya dan menyesuaikannya dengan kebutuhan serta karakteristik masyarakat Kota Kendari,” ujarnya.
Menurut Siska, pengelolaan lingkungan berbasis RT dan RW dapat menjadi pendekatan untuk mendekatkan pelayanan pemerintah dengan masyarakat. Dengan melibatkan warga, berbagai persoalan seperti keamanan, sampah dan ketahanan pangan dapat ditangani secara bersama.
“Kalau masyarakat dilibatkan dan diberikan ruang untuk berinovasi, saya yakin banyak persoalan lingkungan yang bisa diselesaikan bersama. Pemerintah hadir memberikan dukungan, sementara masyarakat menjadi bagian penting dari prosesnya,” katanya.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Kendari mencari praktik baik yang dapat diadaptasi untuk mendukung pembangunan Kota Kendari sebagai kota layak huni yang semakin maju, berdaya saing, adil, sejahtera dan berkelanjutan.
Siska berharap pembelajaran dari Gandaria Utara dapat mendorong lahirnya inovasi serupa di Kota Kendari, terutama dalam memperkuat keamanan lingkungan, mengurangi sampah dari sumber serta meningkatkan pemberdayaan masyarakat.
“Ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Perubahan besar bisa dimulai dari lingkungan yang kecil, dari RT, dari warga, dan dari kepedulian bersama,” pungkasnya.
Penulis: Sumarlin










