Penulis : Redaksi

PEKALONGAN, MITRANUSANTARA.ID – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin memengaruhi cara mahasiswa belajar dan melakukan penelitian. Teknologi tersebut dapat membantu mempercepat sejumlah pekerjaan akademik, namun penggunaannya tanpa verifikasi dan kendali manusia berisiko menimbulkan persoalan terhadap integritas riset.

Persoalan tersebut menjadi salah satu bahasan dalam Seri Literasi ke-8 yang digelar Perpustakaan Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gusdur) Pekalongan, Rabu (7/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di lantai 3 Perpustakaan UIN Gusdur itu menghadirkan praktisi teknologi informasi, digital, dan literasi, Yoga Rifai Hamzah, M.Ikom, sebagai pembicara. Sekitar 50 peserta mengikuti kegiatan yang berlangsung selama dua jam, mulai pukul 09.30 hingga 11.30 WIB.

Diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah peserta menyampaikan pertanyaan dan pandangan mengenai pemanfaatan AI untuk kebutuhan akademik, terutama berkaitan dengan proses penelitian, penggunaan referensi, verifikasi informasi, hingga batas etis penggunaan teknologi tersebut.

Koordinator Pengembangan SDM Perpustakaan sekaligus Penanggung Jawab Seri Literasi, Khusnu Asirah, S.I.Pust, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program literasi yang secara rutin diselenggarakan Perpustakaan UIN Gusdur.

Menurutnya, Seri Literasi menjadi ruang bagi perpustakaan untuk menghadirkan tema yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa. Pada seri ke-8, tema AI dan integritas riset dipilih untuk mendorong mahasiswa memahami kemampuan sekaligus batas penggunaan AI dalam kegiatan akademik.

Ia mengatakan mahasiswa tidak hanya perlu mengenal kemampuan AI, tetapi juga memahami batas dan etika penggunaannya dalam kegiatan akademik.

Baca Juga  Surat Warga Puday Jadi Suara Harapan: Tuntut Pemimpin yang Adil, Santun, dan Transparan

Khusnu juga menyampaikan bahwa Perpustakaan UIN Gusdur masih akan menggelar seri literasi berikutnya pada Oktober.

Sementara itu, Kepala Perpustakaan UIN Gusdur, Hj. Junaeti, S.Sos., MM., menekankan pentingnya peran perpustakaan dalam mendukung kebutuhan akademik mahasiswa di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung cepat.

Menurutnya, perpustakaan tidak cukup hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan mencari sumber informasi. Perpustakaan juga perlu menjadi ruang belajar yang membantu mahasiswa meningkatkan kemampuan literasi informasi serta memilah informasi secara kritis.

Dalam paparannya, Yoga Rifai Hamzah mengajak mahasiswa menempatkan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses berpikir manusia.

Ia menjelaskan sejumlah fungsi AI yang dapat dimanfaatkan dalam penelitian, antara lain sebagai brainstorming partner, research assistant, Socratic tutor, dan devil’s advocate.

Yoga bilang, AI dapat membantu memetakan gagasan, menemukan perspektif, merangkum dan mengelompokkan informasi, hingga menguji kelemahan sebuah argumen. Namun, mahasiswa tetap harus memahami dan mengendalikan proses intelektual dalam penelitian.

Ia mengingatkan risiko cognitive offloading, yakni kondisi ketika sebagian beban berpikir secara perlahan dialihkan kepada mesin.

“AI seharusnya memperpendek pekerjaan mekanis, tetapi memperdalam pekerjaan intelektual,” kata Yoga.

Ia kemudian mengajak peserta melakukan uji sederhana. Apabila AI dimatikan, apakah mahasiswa masih memahami penelitian yang sedang dikerjakannya?

Pertanyaan tersebut, menurut Yoga, dapat menjadi salah satu cara untuk melihat apakah AI masih digunakan sebagai alat bantu belajar atau justru telah menggantikan proses berpikir peneliti.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti simulasi verifikasi referensi.

Baca Juga  Jangan Nekat Nyalon Sebelum Membaca Buku Ini! Mengupas 'Politik Tanpa Ilusi' yang Mengubah Data Menjadi Kemenangan Politik"

Peserta diajak meminta AI menghasilkan sejumlah referensi jurnal lengkap dengan DOI (Digital Object Identifier). Referensi tersebut kemudian diperiksa kembali melalui sumber akademik seperti Google Scholar dan GARUDA untuk memastikan judul, penulis, jurnal, serta informasi bibliografis yang diberikan benar-benar tersedia.

Praktik tersebut menunjukkan bahwa informasi yang diberikan AI tidak dapat langsung dianggap sebagai fakta hanya karena disampaikan dengan bahasa yang meyakinkan.

“AI boleh menawarkan kemungkinan. Peneliti yang menentukan mana yang benar,” ujar Yoga.

Ia juga memperkenalkan alur kerja penelitian Ask – Explore – Verify – Think – Challenge – Write – Check. Dalam alur tersebut, peneliti menentukan pertanyaan riset, menggunakan AI untuk eksplorasi, menelusuri sumber asli, membaca dan mensintesis informasi, menguji argumen, kemudian menulis dan melakukan pemeriksaan akhir.

Menurut Yoga, persoalan utama bukan terletak pada boleh atau tidaknya mahasiswa menggunakan AI, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan dan siapa yang tetap memegang kendali atas proses intelektual penelitian.

Dalam pembahasan mengenai sumber akademik, peserta juga diajak memahami perbedaan antara AI generatif dan database akademik.

AI dapat membantu menemukan kata kunci, arah pencarian, perspektif, maupun kemungkinan argumen. Namun, sumber akademik tetap harus ditelusuri melalui artikel asli, data empiris, serta sumber yang dapat diverifikasi.

Sejumlah sumber untuk penelusuran literatur akademik juga diperkenalkan kepada peserta, antara lain Google Scholar, GARUDA, SINTA, DOAJ, Scopus, dan Web of Science.

Yoga menyarankan mahasiswa melakukan sedikitnya lima langkah ketika memeriksa keluaran AI, yakni menelusuri sumber yang disebutkan, melakukan cek silang, mengaudit metode yang digunakan, memeriksa tahun terbit, serta memastikan keberadaan jurnal dan penulis yang dicantumkan.

Baca Juga  Wujudkan Hunian Murah, Kendari Dinobatkan Sebagai Kota Terbaik dalam Pembebasan PBG

Pembahasan juga mencakup persoalan keterbukaan atau disclosure mengenai penggunaan AI dalam penelitian.

Penggunaan AI untuk curah gagasan, penyuntingan bahasa, penerjemahan, peringkasan literatur, hingga analisis memiliki konsekuensi etis yang berbeda. Karena itu, penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebijakan institusi pendidikan, jurnal, maupun penerbit.

Yoga juga mengingatkan mahasiswa agar berhati-hati ketika memasukkan data penelitian ke dalam layanan AI publik.

Data responden, transkrip wawancara, data pribadi, naskah yang belum diterbitkan, serta data yang memiliki batasan lisensi tidak boleh dimasukkan secara sembarangan karena berkaitan dengan privasi, keamanan, dan hak penggunaan data.

Kegiatan yang dipandu M. Nashrullah dari bagian IT Perpustakaan UIN Gusdur tersebut berlangsung dalam suasana diskusi. Sedikitnya tiga peserta menyampaikan pertanyaan dan pandangan kritis mengenai penggunaan AI dalam kegiatan akademik.

Di akhir kegiatan, Yoga mengingatkan mahasiswa agar tidak melihat AI sebagai teknologi yang harus ditakuti, tetapi juga tidak menggunakannya tanpa kendali.

“Jadilah sutradara. Bukan operator,” katanya.

Ia menekankan bahwa karya ilmiah tetap harus mencerminkan proses berpikir peneliti. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan tertentu, tetapi tanggung jawab terhadap kebenaran, argumentasi, sumber, dan hasil penelitian tetap berada pada peneliti.

“Pikir dulu. Prompt kemudian. Verifikasi selalu,” tutupnya.

Laporan: Novrizal R Topa

Visited 2 times, 2 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow