MUNA, MITRANUSANTARA.ID – Peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 atau yang lebih dikenal dengan Kudatuli bukan sekadar catatan sejarah politik nasional. Bagi keluarga besar Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), peristiwa tersebut merupakan simbol perjuangan demokrasi yang lahir dari pengorbanan, keberanian, dan kesetiaan terhadap nilai-nilai perjuangan partai. Peristiwa Kudatuli menjadi salah satu momentum penting yang turut menguatkan gerakan demokratisasi di Indonesia menjelang Reformasi 1998.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Muna, La Ode Frebi Rifai Pedansa, mengatakan bahwa semangat perjuangan yang lahir dari peristiwa Kudatuli harus terus diwariskan kepada generasi muda, khususnya kader-kader partai.
Menurutnya, sejarah tidak boleh dipahami hanya sebagai rangkaian peristiwa masa lalu, tetapi juga sebagai pelajaran penting tentang bagaimana demokrasi diperjuangkan dengan penuh risiko dan pengorbanan.
“Kudatuli mengajarkan kepada kita bahwa demokrasi tidak hadir begitu saja. Ada air mata, pengorbanan, bahkan nyawa yang menjadi taruhan dalam perjuangan mempertahankan hak-hak politik rakyat. Semangat itulah yang harus terus kami jaga dan wariskan,” ujar Frebi.
Frebi menuturkan bahwa dirinya memiliki ikatan emosional yang kuat dengan sejarah perjuangan partai. Ayahnya, La Ode Rifai Pedansa, merupakan salah satu saksi sejarah sekaligus tokoh yang ikut membangun dan membesarkan PDI Perjuangan sejak masa-masa awal perjuangannya.
Frebi bilang, sebagai pelaku sejarah, ayahanda La Ode Rifai Pedansa menyaksikan secara langsung dinamika politik yang melahirkan semangat perjuangan partai di tengah berbagai tekanan yang dihadapi saat itu.
“Bagi keluarga kami, perjuangan PDI Perjuangan bukan sekadar cerita yang dibaca dalam buku sejarah. Kami mendengarnya langsung dari pelaku sejarah yang turut merasakan bagaimana sulitnya mempertahankan nilai-nilai demokrasi pada masa itu,” ungkapnya kepada mitranusantara.id, Senin (27/7/2026).
Ia menilai, generasi muda saat ini perlu memahami bahwa kebebasan berpendapat dan kehidupan demokrasi yang dinikmati hari ini merupakan hasil dari perjuangan panjang banyak pihak yang berani bersuara di tengah situasi politik yang tidak mudah.
“Anak-anak muda perlu mengetahui bahwa demokrasi yang kita nikmati hari ini tidak lahir dalam ruang yang kosong. Banyak tokoh bangsa dan kader partai yang berdiri tegak mempertahankan prinsip perjuangan di tengah berbagai tantangan,” katanya.
Frebi juga menegaskan bahwa peringatan Kudatuli bukanlah momentum untuk membuka kembali luka masa lalu, melainkan menjadi pengingat agar bangsa Indonesia tidak pernah mundur dalam menjaga demokrasi dan menjunjung tinggi konstitusi.
“Kudatuli adalah pengingat bahwa kekuasaan harus selalu berjalan di atas rel demokrasi. Perbedaan pandangan politik adalah hal yang biasa, tetapi demokrasi harus tetap dijaga dengan menghormati hak-hak politik setiap warga negara,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh kader PDI Perjuangan di Kabupaten Muna untuk terus menghidupkan semangat gotong royong dan perjuangan yang diwariskan para pendiri partai.
“Kami memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga api perjuangan yang telah dinyalakan oleh para pendahulu. Sejarah telah mengajarkan bahwa perjuangan yang berpihak kepada rakyat akan selalu menemukan jalannya,” tutup Frebi.
Peristiwa Kudatuli yang terjadi pada 27 Juli 1996 tercatat sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah demokrasi Indonesia. Hasil investigasi menunjukkan adanya korban jiwa, korban luka, serta berbagai indikasi pelanggaran hak asasi manusia. Tragedi tersebut kemudian menjadi salah satu katalis yang memperkuat gelombang reformasi dan demokratisasi di Indonesia.



