Penulis : Redaksi

KENDARI, MITRANUSANTARA.ID – SMP Negeri 16 Kendari terus memperkuat budaya kesiapsiagaan bencana dengan menerapkan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) secara berkelanjutan. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kesiapan warga sekolah dalam menghadapi berbagai potensi bencana seperti gempa bumi, longsor, banjir, angin kencang, hingga kebakaran yang berpotensi terjadi di wilayah Kecamatan Puuwatu.

Program tersebut dilaksanakan mengacu pada Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2023 tentang Satuan Pendidikan Aman Bencana. Berbagai langkah telah dilakukan sekolah, mulai dari pembaruan dokumen kajian risiko, peningkatan kesiapan sarana prasarana, hingga pelaksanaan simulasi evakuasi secara rutin.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan menjelaskan, penerapan SPAB tidak hanya berfokus pada kelengkapan administrasi, tetapi juga membangun budaya kesiapsiagaan yang menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah.

“SPAB bukan sekadar dokumen, tetapi sebuah budaya. Dokumen yang sudah tidak sesuai harus terus diperbarui agar mengikuti kondisi di lapangan. Tujuannya agar siswa, guru, dan seluruh tenaga kependidikan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi,” ujarnya, usai melakukan simulasi, Selasa (9/6/2026).

Baca Juga  Tinjau Lokasi Banjir, Wali Kota Kendari: Sedimen  Hambat Aliran Air di Kawasan Eks MTQ

Sebagai bagian dari implementasi program, sekolah telah memperbarui dokumen kajian risiko yang dilengkapi dengan peta risiko, jalur evakuasi, serta titik kumpul yang aman. Dokumen tersebut menjadi pedoman utama dalam pelaksanaan mitigasi bencana di lingkungan sekolah.

Selain itu, SMP Negeri 16 Kendari juga membentuk Tim Siaga Sekolah Bencana (TSSB) yang memiliki tugas dan tanggung jawab jelas, mulai dari koordinator lapangan, petugas keamanan, tim pertolongan pertama (P3K), hingga pengawas jalur evakuasi.

Dari sisi infrastruktur, sekolah melakukan penataan dan pengecekan berkala terhadap jalur evakuasi agar selalu dalam kondisi aman dan mudah diakses. Rambu-rambu evakuasi juga dipasang pada titik-titik strategis untuk memudahkan warga sekolah saat melakukan penyelamatan diri apabila terjadi keadaan darurat.

Tidak hanya itu, latihan evakuasi juga dilaksanakan secara berkala sebagai bagian dari peningkatan kapasitas warga sekolah dalam menghadapi bencana.

“Hari ini kami melaksanakan latihan evakuasi gempa bumi dan longsor. Hasilnya cukup baik, siswa sudah lebih tenang, tidak panik, dan langsung menuju titik kumpul sesuai jalur evakuasi yang telah ditetapkan,” jelasnya.

Baca Juga  Angin Puting Beliung Rusak Tiga Rumah di Kendari, Dinsos Salurkan Bantuan Logistik

Menurutnya, latihan yang dilakukan secara rutin sangat penting agar setiap warga sekolah memiliki refleks yang baik ketika menghadapi situasi darurat sehingga dapat meminimalkan risiko korban.

Ia menambahkan, wilayah Kecamatan Puuwatu termasuk kawasan yang memiliki potensi bencana hidrometeorologi seperti longsor dan banjir. Oleh sebab itu, pembaruan dokumen SPAB serta latihan kesiapsiagaan harus terus dilakukan secara berkelanjutan.

“Wilayah Puuwatu memiliki potensi longsor dan banjir. Karena itu, pembaruan dokumen secara berkala serta latihan yang berkesinambungan menjadi kunci agar sekolah tetap aman dan proses pembelajaran dapat berlangsung tanpa terganggu ketika menghadapi ancaman bencana,” katanya.

Melalui penerapan SPAB secara konsisten, SMP Negeri 16 Kendari berharap seluruh warga sekolah memiliki kemampuan mitigasi yang baik sekaligus mampu membangun budaya sadar bencana sejak dini. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, tangguh, dan siap menghadapi berbagai potensi bencana, sehingga keselamatan peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan tetap menjadi prioritas utama.

Penulis: Sumarlin

Visited 6 times, 6 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow