Penulis : Redaksi

KENDARI, MITRANUSANTARA.id – Jumlah Industri Kecil Menengah (IKM) di Provinsi Sulawesi Tenggara 5 tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Hingga tahun 2023 Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sultra mencatat jumlah IKM sebanyak 15.364 unit.

Menurut Kepala Bidang IKM Disperindag Sulawesi Tenggara Muh Yasser Tuwu, jumlah IKM tahun 2023 bertambah sebanyak 453 unit usaha atau naik 3,03 persen dibandingkan tahun 2022 dengan jumlah IKM sebanyak 14.911 unit usaha.

“Tahun 2019 jumlah IKM di Sultra sebanyak 13.211 meningkat menjadi 13.698 tahun 2020, saat itu terjadi pandemi tapi IKM kita tetap tumbuh, kemudian tahun 2021 menjadi 14.405 unit,” jelasnya, Rabu (20/3/2024).

Dari 17 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara, Kabupaten Konawe Selatan yang memiliki jumlah IKM terbanyak yakni sebanyak 2.948 IKM, disusul Kota Kendari sebanyak 1.575 IKM, Kota Baubau sebanyak 1.490 IKM dan Konawe sebanyak 1.360 IKM.

Pertumbuhan jumlah IKM ini, lanjut Muh Yasser berkorelasi dengan peningkatan jumlah tenaga kerja. Tahun 2023 tercatat sebanyak 51.174 tenaga kerja yang diserap IKM, jumlah ini meningkat 1.458 dibandingkan tahun 2022 sebanyak 49.716 dan 47.466 tahun 2021. Walaupun sempat  terjadi penurunan jumlah tenaga kerja tahun 2020 karena pandemi Covid-19.

Baca Juga  Pj Wali Kota Kendari Kunjungi Kecamatan Nambo, Dengarkan Keluhan Warga

Pertumbuhan IKM tidak hanya penting untuk perekonomian secara keseluruhan, tetapi juga memiliki dampak yang signifikan dalam menciptakan lapangan kerja dan mengurangi tingkat pengangguran dalam suatu daerah, sebab IKM cenderung mempekerjakan lebih banyak tenaga kerja langsung daripada perusahaan besar. Karena skala produksinya yang lebih kecil, mereka membutuhkan jumlah karyawan yang relatif lebih banyak untuk menjalankan operasinya. Kemudian IKM sering kali memiliki berbagai bidang pekerjaan, mulai dari produksi, pemasaran, administrasi, hingga distribusi. Hal ini menciptakan peluang bagi berbagai jenis keterampilan dan latar belakang pendidikan, sehingga memberikan kesempatan bagi beragam orang untuk bekerja.

IKM dapat lebih fleksibel dalam menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja dengan perubahan dalam permintaan pasar atau kondisi ekonomi. Mereka dapat dengan cepat menyesuaikan skala produksi atau produk mereka, yang sering membutuhkan penambahan tenaga kerja.

Pertumbuhan IKM tidak hanya menciptakan lapangan kerja langsung, tetapi juga berdampak pada sektor lain dalam ekonomi. Misalnya, peningkatan permintaan akan bahan baku atau layanan pendukung dari IKM dapat menciptakan peluang kerja di sektor-sektor tersebut.

IKM yang berkembang cenderung membelanjakan sebagian besar pendapatannya di dalam komunitas lokal mereka. Hal ini menciptakan efek stimulus ekonomi di daerah tersebut, yang pada gilirannya dapat membuka peluang kerja tambahan dalam sektor lain seperti perdagangan, jasa, dan transportasi.

Baca Juga  Kelompok Relawan Progresif Sultra Ajak GenZ Nobar Cawapres 2024

“Dengan menciptakan lapangan kerja, IKM memberikan sumber pendapatan kepada individu dan rumah tangga, yang pada gilirannya meningkatkan daya beli masyarakat. Ini dapat mendorong pertumbuhan konsumsi dan aktivitas ekonomi lainnya, menciptakan lingkaran yang positif dalam menciptakan lebih banyak lapangan kerja,” tambahnya.

Peningkatan tak hanya terjadi pada jumlah IKM dan tenaga kerja, namun dari sisi investasi dan nilai produksi juga ikut meningkat. Data Disperindag Sultra menyebutkan, dalam 5 tahun terakhir investasi dari sektor IKM terus meningkat. Tahun 2023 investasi tumbuh sebesar Rp 65 miliar menjadi Rp 2,34 triliun atau meningkat sebesar 2,85 persen dibandingkan tahun 2022 sebesar Rp 2,27 triliun.

“Nilai produksi IKM Sultra sempat turun tahun 2020, saat Covid-19, tapi setelah itu kembali meningkat,” lanjut Yasser.

Pertumbuhan IKM memiliki potensi untuk tidak hanya memperkuat ekonomi lokal, tetapi juga membangun fondasi yang lebih kuat untuk pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif dalam jangka panjang, sebab IKM cenderung menggunakan sumber daya lokal dalam proses produksinya, seperti bahan baku lokal dan tenaga kerja dari komunitas setempat. Hal ini menciptakan sirkulasi ekonomi di dalam daerah tersebut, karena uang yang dihasilkan dari aktivitas IKM akan tetap berputar di komunitas lokal, meningkatkan pendapatan dan kekayaan lokal secara keseluruhan.

Baca Juga  Ikuti Program Mudik Gratis Kemenhub, Simak Syarat dan Cara Daftarnya 

Pertumbuhan IKM menciptakan permintaan untuk berbagai barang dan layanan di tingkat lokal, seperti transportasi, penyediaan bahan baku, dan jasa pendukung lainnya. Hal ini memberikan kesempatan bagi pelaku usaha lokal lainnya untuk berkembang dan menghasilkan pendapatan tambahan. IKM juga sering menjadi tempat bagi pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi tenaga kerja lokal. Ini memungkinkan masyarakat setempat untuk meningkatkan kapasitas mereka dan menjadi lebih terampil dalam berbagai bidang pekerjaan, yang pada gilirannya dapat membantu dalam pengembangan ekonomi secara keseluruhan.

Peningkatan yang terjadi ini berkat berbagai upaya yang dilakukan yakni, pembinaan dan pendampingan IKM di daerah, penumbuh wirausaha baru serta pengembangan dan diversifikasi produk, fasilitasi promosi dan pemasaran produk IKM, fasilitasi legalitas usaha dan bantuan peralatan bagi pelaku IKM di daerah. (Adv)

Visited 203 times, 1 visit(s) today