Penulis : Redaksi

RAHA, MITRANUSANTARA.ID – Penelitian kolaboratif Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung dan Universitas Halu Oleo (UHO) berhasil mengidentifikasi 72 lokasi lukisan prasejarah di Kawasan Cagar Budaya Gua Liangkabori, Kabupaten Muna.

Temuan tersebut merupakan hasil penelitian selama tiga tahun yang dimulai sejak akhir 2023 melalui program “BRIN Ekspedisi”. Hasil penelitian itu dipaparkan dalam kegiatan ekspose di Hotel Ness Inn, Kota Raha, Rabu (14/10/2026).

Penelitian ini tidak hanya mengungkap persebaran lukisan prasejarah, tetapi juga berupaya menelusuri jejak kehidupan dan ekspresi artistik simbolik masyarakat Muna pada masa lampau.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Dr. Lutfi Yondri, M.Hum., mengatakan ketertarikannya meneliti lukisan prasejarah di Muna bermula dari rasa penasaran terhadap gambar layang-layang yang ditemukan di gua.

Menurutnya, pertambahan jumlah lokasi yang teridentifikasi menunjukkan bahwa persebaran lukisan prasejarah di Muna cukup luas. Bahkan, penelitian yang telah dilakukan belum mencakup seluruh wilayah Pulau Muna.

“Dulu saat senior saya, Pak Kosasi, datang baru sembilan lokasi. Sekarang 72 lokasi di Liangkabori, ini belum di seluruh Pulau Muna,” ungkap Lutfi.

Temuan tersebut membuka peluang penelitian lanjutan untuk mengungkap lebih banyak situs serta memperdalam pemahaman tentang perkembangan kehidupan dan kebudayaan masyarakat Muna pada masa prasejarah.

Baca Juga  Temukan 923 Kasus TBC, Pemkot Kendari Perluas Tracing dan Cek Kesehatan Gratis

Guru Besar Sejarah Tari sekaligus mantan Rektor ISBI Bandung, Prof. Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum., menjelaskan bahwa penelitian awalnya berangkat dari 43 lokasi yang dihimpun berdasarkan berbagai referensi.

Pada 2024, tim melakukan penelitian lapangan selama sebulan dengan mendatangi lokasi-lokasi tersebut. Dari penelusuran itu, tim menemukan lima lokasi baru sehingga jumlahnya meningkat menjadi 48 lokasi.

Penelitian berlanjut pada 2025. Selama 18 hari berada di lapangan, tim kembali menemukan sejumlah lokasi hingga jumlahnya mencapai 66 titik. Pada 2026, jumlah tersebut bertambah menjadi 72 lokasi di kawasan Liangkabori.

“Bahkan saat mau pulang, ada warga yang memberi informasi tentang lokasi baru. Di situ kami menemukan gambar yang sangat tebal,” ungkap Prof. Een.

Menurutnya, salah satu aspek menarik dari lukisan prasejarah di Muna adalah adanya motif manusia dengan posisi tubuh menyerupai gerakan tari.

Sebagai peneliti sejarah tari, ia melihat sejumlah figur memiliki kemiripan dengan sikap gerak dalam tarian tradisional yang masih dikenal masyarakat saat ini, termasuk Ewa Wuna.

Ia menduga gambar-gambar tersebut memiliki keterkaitan dengan aktivitas ritual masyarakat masa lampau. Sebab, dalam sejarah perkembangan seni tari, gerakan tari kerap tumbuh dari tradisi upacara dan praktik ritual.

“Gambar-gambar ini memiliki sikap gerak yang mirip dengan tarian sekarang yang masih hidup. Ini warisan nenek moyang yang ingin bercerita tentang kehidupan mereka pada masa itu,” jelasnya.

Prof. Een menilai, keberadaan lukisan tersebut perlu dipahami lebih jauh melalui penguatan literasi budaya. Masyarakat, menurutnya, tidak cukup hanya mengetahui keberadaan situs, tetapi juga perlu memahami makna dan pesan yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga  SMSI Sulawesi Tenggara Gelar Donor Darah

Ia berharap hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi lahirnya kebijakan yang berpihak pada perlindungan kawasan cagar budaya tersebut.
Dengan ribuan gambar yang tersebar di kawasan gua dan tebing, Liangkabori dinilai memiliki keunikan sebagai galeri seni prasejarah berskala besar yang menyimpan informasi mengenai kehidupan manusia pada masa lampau.

Arkeolog Sulawesi, Amaluddin Sape, M.A., mengungkapkan bahwa berdasarkan pengamatan selama 2024 hingga 2026, kerusakan ditemukan di sejumlah lokasi penelitian.

Selain 72 lokasi di kawasan Liangkabori, tim juga melakukan pengamatan pada dua lokasi lainnya, yakni di Tanjung Laiworu dan Bone Kacintala.

Amaluddin menjelaskan, sebagian lukisan mengalami pengelupasan. Material pembentuk gambar juga mulai terlepas dari permukaan dinding gua dan tebing.

Aktivitas pembakaran untuk membuka lahan turut menjadi ancaman karena asap menghasilkan partikel karbon yang menempel pada permukaan batu, sehingga menutupi lukisan.

“Kondisinya sangat memprihatinkan. Selain banyak yang terkelupas, unsur-unsur bahan untuk membuat gambar mulai terlepas dari medianya. Asap pembakaran menghasilkan karbon yang menempel di dinding gua dan tebing, menutupi lukisan yang ada,” jelasnya.

Kondisi itu menunjukkan pentingnya upaya perlindungan yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait agar lukisan prasejarah tidak semakin rusak atau kehilangan detail aslinya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Muna, LM Masrul, menyatakan pemerintah daerah mendukung upaya pemanfaatan hasil penelitian BRIN agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi daerah.

Baca Juga  Temui Menteri PU, Bupati Muna Ajukan Proposal Pembangunan Senilai Rp226 Miliar

Ia mengatakan, sesuai arahan Bupati Muna, hasil penelitian diharapkan dapat diimplementasikan melalui kegiatan ekonomi kreatif sekaligus meningkatkan nilai budaya dan memperkuat identitas Kabupaten Muna.

“Atas arahan Pak Bupati, bagaimana hasil-hasil penelitian itu kita implementasikan di kegiatan ekonomi kreatif. Yang terpenting adalah bagaimana hasil penelitian bisa mengangkat harkat, martabat dan nilai Kabupaten Muna,” kata Masrul.

Sebagai tindak lanjut, Pemkab Muna merencanakan kegiatan diseminasi hasil penelitian BRIN mengenai Kawasan Cagar Budaya Gua Liangkabori.

Pemerintah daerah juga merencanakan digitalisasi motif-motif lukisan yang telah ditemukan di 72 lokasi. Dokumentasi digital tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya pelestarian sekaligus mendukung pengajuan perlindungan melalui Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), sesuai ketentuan yang berlaku.

“Nanti kami akan digitalisasi semua motif-motif yang ada di 72 gua yang sudah ditemukan. Harapannya akan di-HAKI-kan semua motif demi tujuan kemajuan dan pendapatan asli daerah,” ujarnya.

Melalui langkah tersebut, Pemkab Muna berharap kekayaan seni prasejarah Liangkabori dapat terlindungi, dikenal lebih luas, dan dikembangkan sebagai potensi kebudayaan serta ekonomi kreatif tanpa mengabaikan nilai sejarah dan kelestarian situsnya.

Reporter : Baharuddin

Visited 1 times, 1 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow