Penulis : Redaksi

KENDARI, MITRANUSANTARA.ID – Bukan hanya medan berlumpur, tanjakan terjal, dan jalur berbatu yang menguji nyali peserta Kendari Offroad Extreme Adventure Challenge (KORXA) 2026. Di balik tantangan tersebut, terselip sejumlah cerita mistis yang dialami para offroader saat menaklukkan lintasan ekstrem di kawasan hutan Kecamatan Nambo, Kota Kendari.

Sejumlah peserta mengaku mengalami kejadian di luar kebiasaan selama mengikuti petualangan yang dimulai dari Balai Kota Kendari, Sabtu (31/10/2026) hingga Minggu (1/11/2026). Beberapa kendaraan yang sebelumnya dalam kondisi prima tiba-tiba mengalami gangguan. Bahkan, ada mobil yang harus terhenti berjam-jam di medan yang menurut peserta tidak terlalu sulit dilalui.

Memang, lintasan ekstrem KORXA 2026 yang terbagi dalam sejumlah jalur, termasuk A, B, dan C, menawarkan tantangan tersendiri. Kontur tanah miring, lumpur, tanjakan, serta jalur hutan yang sulit menjadi ujian kemampuan pengemudi dan ketahanan kendaraan.

Namun, sejumlah peserta menyebut pengalaman paling janggal justru terjadi ketika malam mulai menyelimuti kawasan hutan. Beberapa kendaraan bahkan masih harus dievakuasi hingga rangkaian kegiatan memasuki penutupan.

Salah seorang offroader di kelas 4×4 Adventure, Febri, menceritakan pengalaman yang dialaminya bersama tim. Menurut dia, persoalan bermula ketika kendaraan yang dikemudikannya mengalami kerusakan tie rod secara tiba-tiba.

Saat memasuki lintasan pertama, Febri masih mengenakan kaus merah yang dibagikan panitia. Setelah menyadari pakaian tersebut, dia kemudian melepasnya dan hanya mengenakan kaus dalam berwarna putih.

Baca Juga  IDI Sultra Soroti Ketimpangan Distribusi Dokter, 500 dari 1.500 Dokter Berada di Kendari

Setelah itu, kendaraannya kembali berjalan lancar hingga berhasil menyelesaikan lintasan pertama dan melanjutkan perjalanan ke jalur berikutnya.

Karena banyak kendaraan peserta tertahan dan waktu semakin malam, Febri akhirnya memutuskan keluar dari lintasan lebih awal atas persetujuan tim. Dia memilih beristirahat dan berencana melanjutkan jalur B keesokan harinya.

Ponselnya yang sempat tidak aktif selama beristirahat baru dinyalakan kembali saat pagi. Dia kemudian mendapati sejumlah panggilan dan pesan dari rekannya yang mengabarkan bahwa mereka kembali memasuki lintasan sekitar pukul 02.00 dini hari.

Sekitar pukul 09.30 Wita, Febri kembali masuk ke jalur untuk menuntaskan lintasan B. Awalnya, dia mengira telah tertinggal jauh dari rombongan. Namun, baru sekitar satu jam perjalanan, dia justru menemukan timnya masih tertahan di lokasi yang sama sejak malam hingga siang hari.

Febri juga mengaku melihat beberapa offroader lain hanya berdiam diri di sekitar kendaraan, meski kondisi mobil mereka terlihat normal dan tidak mengalami kerusakan berarti.

Dia kemudian menegur peserta tersebut dan mengajak mereka mencari jalur alternatif. Setelah berkoordinasi dengan peserta yang kendaraannya tertahan, Febri berhasil melewati titik tersebut. Sejumlah offroader lain pun mengikuti langkahnya untuk melanjutkan perjalanan.

Baca Juga  Wakil Wali Kota Kendari Tegaskan Jangan Bayar Proyek Belum Selesai

Cerita janggal lainnya muncul saat mereka mulai memasuki jalur B. Beberapa peserta mengaku merasakan suasana hutan yang sangat ramai ketika kendaraan mereka terhenti di tengah lintasan. Ada pula yang menceritakan bagian kap mobilnya seperti terkena hantaman batu dari atas, meski jalur yang dilalui hanya berupa pasir dan tanah.

Febri juga sempat menyarankan pemilik kendaraan berwarna merah yang beberapa kali terguling agar mempertimbangkan mengganti warna mobilnya. Saran itu muncul dari kepercayaan sebagian peserta bahwa warna merah disukai makhluk tak kasat mata ketika berada di kawasan hutan.

Sejumlah peserta bahkan menghubungkan kejadian kendaraan bermasalah dengan pakaian merah yang masih mereka kenakan. Sementara peserta yang berhasil melewati lintasan disebut telah mengganti kaus panitia tersebut dengan pakaian berwarna lain.

Pengalaman lain yang turut menjadi perbincangan adalah pengakuan beberapa offroader yang mengaku melihat sosok menyerupai pocong di atas pohon bambu di jalur yang mereka lewati.

Ketua Panitia KORXA 2026, Yusran Wahyudi, mengungkapkan bahwa di dalam kawasan hutan yang menjadi lintasan peserta memang terdapat sejumlah kuburan tua yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat.

Dia juga menceritakan, saat awal mereka melakukan survei sebelum jalur dibuka, rombongan pernah memasuki kawasan hutan tempat jalur dibuat hingga menjelang magrib, beberapa rekannya mengaku melihat sosok seorang kakek berdiri di atas pohon kopi. Sehingga mereka tancap gas meningkatkan lokasi.

Baca Juga  Dukung Perayaan HUT ke-79 Republik Indonesia di IKN, Indosat Tingkatkan Kapasitas Infrastruktur Jaringan

Yusran menambahkan, Kendaraan milik mantan kepala bandara Haluoleo yang tertahan (stack) sejak sore dan harus dievakuasi semalam di puncak Nambo di titik WP 8 berada disamping pohon beringin tua.

“Setelah kami datang untuk mengevakuasi, malah bisa keluar dengan sendirinya tanpa perlu di tarik dan tanpa perbaikan, Mobil yg terguling di kelas Extreme dan 4×4 winch, keduanya berwarna Merah,” jelasnya, Senin (2/11/2026).

“Sampai subuh tadi masih ada mobil yang belum di evakuasi di jalur 4×4 winch,” lanjutnya.

Berbagai cerita itu menjadi bagian lain dari pengalaman KORXA 2026. Di tengah tantangan teknis dan medan yang menguras tenaga, para offroader membawa pulang kisah berbeda dari lintasan hutan Kendari.

Benar atau tidaknya cerita mistis tersebut tentu menjadi pengalaman subjektif masing-masing peserta. Namun, kisah-kisah itu menambah warna tersendiri dalam petualangan KORXA 2026 yang tidak hanya menguji kemampuan kendaraan dan keberanian, tetapi juga menyisakan cerita yang terus diperbincangkan setelah kegiatan berakhir.

Penulis: Sumarlin

Visited 100 times, 100 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow