KENDARI, MITRANUSANTARA.ID– Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengingatkan calon jemaah haji asal Sulawesi Tenggara untuk mempersiapkan kesehatan fisik sejak dini serta mewaspadai praktik penipuan yang mengatasnamakan penyelenggaraan ibadah haji.
Pesan tersebut disampaikan Dahnil saat menghadiri Pengajian Akbar Jemaah Haji Provinsi Sulawesi Tenggara di Masjid Al-Kautsar Kendari, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan jemaah sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan haji.
Dalam pengajian tersebut, Dahnil menyampaikan bahwa jumlah jemaah asal Sulawesi Tenggara yang dijadwalkan berangkat pada musim haji 2027 mencapai lebih dari 2.000 orang. Pemberangkatan jemaah direncanakan melalui Makassar.
Menurutnya, persiapan haji tidak cukup hanya dengan menyelesaikan administrasi dan memahami tata cara ibadah. Calon jemaah juga perlu menjaga kondisi kesehatan agar mampu menjalani rangkaian ibadah yang membutuhkan kekuatan fisik.
Ia menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bagi calon jemaah yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Selain mengontrol kondisi kesehatan, jemaah diminta mulai membangun kebiasaan berolahraga dan menjaga pola makan sejak jauh hari sebelum keberangkatan.
“Makanya saya ingin didampingi istitha’ah ini penting,” ujar Dahnil dalam pengajian tersebut.
Ia menjelaskan, kemampuan fisik menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan kesiapan seseorang untuk menunaikan ibadah haji. Karena itu, calon jemaah diminta tidak memaksakan diri ketika kondisi tubuh tidak memungkinkan, terutama saat menjalani aktivitas ibadah yang menguras tenaga.
Dahnil juga mengingatkan calon jemaah agar tidak mudah mempercayai pihak yang menawarkan jasa pengurusan haji tanpa kejelasan. Menurutnya, komunikasi dengan petugas resmi di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota perlu diperkuat untuk mencegah penipuan dan manipulasi.
Kementerian Haji dan Umrah, kata dia, mendorong pelaksanaan pengajian jemaah secara rutin setiap bulan di tingkat wilayah. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana peningkatan pemahaman keagamaan, tetapi juga ruang silaturahmi dan komunikasi langsung antara jemaah dengan petugas.
Ia menegaskan, pelayanan haji harus dilakukan dengan pendekatan kekeluargaan. Melalui komunikasi yang terbuka, jemaah diharapkan lebih mudah memperoleh informasi dan mengetahui jalur pengaduan apabila menghadapi persoalan terkait penyelenggaraan ibadah haji.
Selain membahas kesehatan dan perlindungan jemaah, Dahnil menjelaskan bahwa pemerintah berupaya menjaga biaya yang harus dibayarkan calon jemaah agar tidak semakin membebani masyarakat. Ia menyebut rata-rata pelunasan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut berada di kisaran Rp23 juta, meskipun besaran setiap daerah dapat berbeda. Angka ini lebih rendah dari tahun sebelumnya karena Presiden telah memberikan subsidi.
Sementara itu, Asisten III Setda Provinsi Sulawesi Tenggara, Ronny Yakob, yang membacakan sambutan Gubernur Sultra, menekankan pentingnya kesiapan mental, pengetahuan, kesehatan, dan administrasi sebelum keberangkatan.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara berharap seluruh tahapan persiapan jemaah, mulai dari pembinaan manasik, pemeriksaan kesehatan, hingga pengurusan administrasi dan transportasi, dapat berjalan sesuai ketentuan.
“Saya berharap kepada jemaah calon haji untuk memanfaatkan kegiatan manasik haji ini dengan sebaik-baiknya guna memperoleh ilmu dan pemahaman yang mendalam terkait pelaksanaan ibadah haji sesuai dengan ketentuan syariat Islam,” ungkapnya.
Melalui pembinaan yang berkelanjutan, calon jemaah haji Sulawesi Tenggara diharapkan dapat berangkat dengan persiapan matang, menjalankan ibadah dengan aman dan khusyuk, serta kembali ke tanah air dalam keadaan sehat.
Penulis: Sumarlin









