Penulis : Redaksi

Mengapa Pekerja Migran dan Pelajar Indonesia di Luar Negeri Membutuhkan Bekal Kebangsaan

Oleh: Dr. Ariston
(Fasilitator Bela Negara)

JAKARTA, MITRANUSANTARA.ID – Dunia semakin terbuka. Batas antarnegara semakin tipis. Teknologi telah membuat seseorang dapat belajar di London, bekerja di Tokyo, menjalankan bisnis dari Dubai, atau berkomunikasi dengan keluarganya di Indonesia dalam waktu yang hampir bersamaan.

Mobilitas manusia menjadi bagian dari kehidupan modern.

Setiap tahun, semakin banyak anak bangsa meninggalkan tanah air untuk menempuh pendidikan, membangun karier, mencari pengalaman, maupun meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Mereka pergi membawa koper, ijazah, keterampilan, kontrak kerja dan harapan.

Tetapi ada satu hal yang tidak boleh tertinggal:

identitas sebagai bangsa Indonesia.

Di sinilah Bela Negara memperoleh makna yang jauh lebih luas.

Bela Negara tidak semestinya dipahami hanya sebagai baris-berbaris, latihan fisik, atau aktivitas yang bernuansa militer. Bela Negara pada hakikatnya adalah kesadaran setiap warga negara untuk menjaga kehormatan, keselamatan, persatuan dan kepentingan bangsa sesuai dengan kapasitas dan profesinya.

Karena itu, seorang mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri juga dapat melakukan Bela Negara.

Seorang perawat Indonesia yang bekerja di rumah sakit luar negeri juga dapat melakukan Bela Negara.

Seorang teknisi, pelaut, pekerja konstruksi, profesional, peneliti, pengusaha, maupun pekerja migran Indonesia yang bekerja dengan penuh integritas di luar negeri juga sedang menjalankan bentuk Bela Negara.

Mereka adalah wajah Indonesia di dunia.

Bela Negara Bukan Berarti Menutup Diri dari Dunia

Ada anggapan bahwa pendidikan Bela Negara hanya diperlukan bagi mereka yang akan menjadi aparat atau bekerja di lingkungan pertahanan dan keamanan.

Pandangan tersebut terlalu sempit.

Justru ketika seorang warga negara Indonesia berada di luar negeri, kebutuhan terhadap kesadaran kebangsaan menjadi semakin penting.

Berada di lingkungan masyarakat dengan budaya, nilai, sistem hukum, bahasa dan kebiasaan yang berbeda membutuhkan kemampuan beradaptasi.

Kita harus mampu menghormati budaya negara lain tanpa kehilangan jati diri.

Kita harus mampu menjadi bagian dari masyarakat global tanpa tercerabut dari akar kebangsaan.

Baca Juga  APBD Rp1,28 Triliun, Mengapa Muna Belum Melompat?

Global dalam pergaulan, Indonesia dalam jati diri.

Itulah semangat Bela Negara yang relevan dengan zaman.

Pekerja Indonesia Harus Berangkat dengan Kesiapan, Bukan Sekadar Keberanian

Banyak orang memandang keberangkatan pekerja ke luar negeri terutama dari sisi ekonomi.

Padahal terdapat dimensi lain yang tidak kalah penting: keselamatan dan ketahanan diri.

Seseorang yang akan bekerja di luar negeri harus memahami kontrak kerja, hukum negara tujuan, hak-haknya sebagai pekerja, mekanisme perlindungan, budaya kerja, potensi eksploitasi, penipuan, perdagangan orang, hingga prosedur ketika menghadapi keadaan darurat.

Mereka harus memiliki kemampuan mengatakan tidak terhadap sesuatu yang membahayakan dirinya.

Mereka harus mampu mengenali modus penipuan.

Mereka harus mengetahui ke mana harus meminta pertolongan.

Dan yang tidak kalah penting, mereka harus memahami bahwa ketika menghadapi persoalan di luar negeri, mereka tetap memiliki hubungan perlindungan dengan negara Indonesia melalui mekanisme dan perwakilan Republik Indonesia.

Karena itu, pembekalan sebelum keberangkatan seharusnya tidak berhenti pada keterampilan kerja.

Skill without awareness can create vulnerability.

Keterampilan harus berjalan bersama kesadaran.

Pelajar Indonesia: Membawa Nama Bangsa ke Kampus Dunia

Hal yang sama berlaku bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia.

Mereka mungkin berangkat untuk mendapatkan gelar akademik.

Tetapi sesungguhnya mereka juga sedang membawa sebuah identitas:

Indonesia.

Di ruang kelas, laboratorium, organisasi mahasiswa, forum akademik, maupun lingkungan sosial, mereka berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai negara.

Cara mereka berbicara.

Cara mereka bekerja.

Cara mereka menghormati orang lain.

Cara mereka menyelesaikan konflik.

Cara mereka menggunakan media sosial.

Semuanya dapat membentuk persepsi orang lain terhadap Indonesia.

Karena itu, prestasi akademik saja tidak cukup.

Pelajar Indonesia membutuhkan karakter.

Integritas, disiplin, toleransi, tanggung jawab, kemampuan berkomunikasi lintas budaya dan kecintaan terhadap Indonesia harus menjadi bagian dari bekal mereka.

Seorang mahasiswa Indonesia yang berprestasi dan berintegritas di universitas dunia pada hakikatnya sedang membangun reputasi bangsa.

Ancaman Zaman Modern Tidak Selalu Datang dengan Seragam

Kita juga harus memahami bahwa ancaman terhadap warga negara di luar negeri telah berubah.

Baca Juga  Jalan Sunyi Investasi di Muna

Ancaman tidak selalu berbentuk konflik bersenjata.

Ada penipuan digital.

Ada perdagangan manusia.

Ada eksploitasi tenaga kerja.

Ada kejahatan siber.

Ada manipulasi informasi.

Ada propaganda.

Ada radikalisasi melalui ruang digital.

Ada tekanan sosial dan psikologis.

Ada pula berbagai bentuk kejahatan transnasional yang memanfaatkan kerentanan orang yang sedang berada jauh dari keluarga dan lingkungan asalnya.

Karena itu, Bela Negara bagi generasi yang akan pergi ke luar negeri harus memasukkan literasi digital, kesadaran keamanan, ketahanan mental dan kemampuan membaca risiko.

Kita tidak sedang mengajarkan mereka untuk mencurigai semua orang.

Kita sedang mengajarkan mereka untuk tidak mudah menjadi korban.

Menjadi Orang Indonesia yang Profesional

Ada satu bentuk Bela Negara yang sangat sederhana tetapi sering dilupakan:

bekerja dengan baik.

Ketika seorang pekerja Indonesia datang tepat waktu, bekerja profesional, jujur, bertanggung jawab dan menghormati hukum negara tempatnya bekerja, ia sedang menunjukkan karakter bangsa.

Ketika seorang mahasiswa Indonesia menolak plagiarisme, menghormati dosen, menjaga integritas akademik dan berprestasi secara jujur, ia sedang menunjukkan kualitas Indonesia.

Ketika seorang tenaga profesional Indonesia dipercaya oleh perusahaan asing karena kompetensi dan integritasnya, sesungguhnya ia sedang membangun soft power Indonesia.

Bela Negara tidak selalu membutuhkan panggung besar.

Kadang-kadang ia hadir dalam tindakan yang sangat sederhana:

datang tepat waktu, bekerja jujur, menghormati hukum, membantu sesama dan menjaga nama baik bangsa.

Dari Bela Negara Menuju Indonesia Incorporated

Kita membutuhkan cara pandang baru.

Warga negara Indonesia yang berada di luar negeri jangan hanya dipandang sebagai pekerja atau pelajar.

Mereka juga merupakan bagian dari modal manusia Indonesia.

Mereka memperoleh pengalaman.

Mereka memperoleh pengetahuan.

Mereka membangun jaringan internasional.

Mereka memahami teknologi.

Mereka mengenal sistem ekonomi negara lain.

Mereka mengenal budaya dan masyarakat global.

Semua itu dapat menjadi modal besar bagi Indonesia apabila suatu saat mereka kembali ke tanah air atau tetap memberikan kontribusi dari luar negeri.

Karena itu, semangat Bela Negara harus diarahkan pada sebuah gagasan yang lebih besar:

bagaimana pengalaman global digunakan untuk memperkuat Indonesia.

Baca Juga  Mudik Lebaran dan Perjalanan yang Mengembalikan Rasa

Inilah yang saya sebut sebagai Bela Negara Global.

Bukan nasionalisme yang membuat kita menutup diri.

Tetapi nasionalisme yang membuat kita percaya diri memasuki dunia.

Sebelum Berangkat, Bekali dengan Tiga Hal

Menurut saya, setiap calon pekerja dan pelajar Indonesia yang akan pergi ke luar negeri setidaknya harus memiliki tiga bekal.

Pertama: Kompetensi

Miliki keahlian yang membuat kita dihargai karena kemampuan.

Kedua: Karakter

Miliki integritas sehingga kita dipercaya.

Ketiga: Kesadaran Kebangsaan

Miliki identitas sehingga kita tidak kehilangan arah.

Ketiganya harus berjalan bersama.

Kompetensi membuat kita mampu.
Karakter membuat kita dipercaya.
Kesadaran kebangsaan membuat kita tahu untuk siapa kemampuan itu diabdikan.

Jangan Hanya Mengirim Tenaga Kerja, Kirimkan Manusia Indonesia yang Berdaya

Indonesia tidak boleh hanya bangga dengan jumlah warga negaranya yang bekerja di luar negeri.

Kita harus bangga ketika mereka menjadi tenaga profesional yang dihormati.

Kita harus bangga ketika mereka mampu melindungi dirinya.

Kita harus bangga ketika mereka memperoleh ilmu dan pengalaman.

Dan kita harus lebih bangga lagi ketika pengalaman tersebut suatu hari kembali menjadi energi pembangunan Indonesia.

Karena itu, pembekalan Bela Negara sebelum keberangkatan bukan sekadar formalitas.

Ia adalah investasi.

Investasi terhadap keselamatan warga negara.

Investasi terhadap kualitas sumber daya manusia.

Investasi terhadap reputasi Indonesia.

Dan pada akhirnya, investasi terhadap masa depan bangsa.

Kita boleh mengirim anak-anak bangsa menjelajah dunia.

Tetapi jangan pernah membiarkan mereka berangkat tanpa bekal untuk memahami siapa dirinya, dari mana ia berasal, apa tanggung jawabnya sebagai warga negara, dan bagaimana ia dapat kembali memberi arti bagi tanah air.

Sebab pada akhirnya, di mana pun kaki anak bangsa berpijak,

Indonesia tetap menjadi rumahnya.

Dan di mana pun mereka berada—

nama Indonesia ikut mereka bawa.

Bela Negara bukan tentang seberapa jauh kita dari Indonesia.
Bela Negara adalah tentang seberapa kuat kita tetap membawa Indonesia dalam diri kita, di mana pun kita berada.

Visited 61 times, 61 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow