KENDARI, MITRANUSANTARA.ID– Peringatan Hari Jantung Sedunia di Sulawesi Tenggara tidak hanya menjadi momentum kampanye kesehatan, tetapi juga mengajak masyarakat menjadikan pola hidup sehat sebagai kebiasaan sehari-hari. Puncak peringatan Hari Jantung Sedunia berlangsung di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Otak (RSJPDO) Oputa Yi Koo, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan diawali dengan jalan sehat, dilanjutkan senam jantung sehat dan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat, serta talk show dokter spesialis jantung.
Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara Muhammad Fadlansyah mengatakan, keberadaan RSJPD Oputa Yi Koo menjadi salah satu hal yang patut dibanggakan karena tidak semua provinsi memiliki rumah sakit khusus jantung dan pembuluh darah.
Menurutnya, perkembangan RSJPD Oputa Yi Koo juga semakin menunjukkan hasil positif setelah melewati berbagai tantangan pada masa awal operasional.
“Di awal-awal operasionalnya banyak tantangan dan hambatan, tapi seiring berjalannya waktu, seiring pergantian-pergantian manajemen, pimpinan, Alhamdulillah kita melihat bersama bahwa rumah sakit ini semakin bisa mandiri dan memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Sulawesi Tenggara,” kata Fadlansyah.
Ia menilai penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian serius. Salah satu tantangannya adalah masih banyak masyarakat yang belum memahami gejala maupun faktor risiko penyakit tersebut.
Karena itu, Fadlansyah mendorong organisasi profesi kedokteran dan kesehatan untuk terus memperkuat edukasi kepada masyarakat, terutama mengenai upaya pencegahan.
“Harapannya semakin banyak fasilitas yang tersedia di Provinsi Sulawesi Tenggara untuk penanganan penyakit mematikan ini,” ujarnya.
Menurutnya, penyediaan fasilitas kesehatan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat. Upaya pencegahan dinilai penting untuk meminimalkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Sulawesi Tenggara, Jamaluddin mengatakan, penanganan penyakit kardiovaskular membutuhkan keterlibatan pemerintah, tenaga kesehatan dan masyarakat.
Ia menyebut penyakit kardiovaskular, termasuk jantung dan stroke, masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Mengacu pada data WHO yang disampaikannya, sekitar 17 hingga 20 juta orang meninggal setiap tahun akibat penyakit tersebut.
“PERKI, termasuk PERKI Sultra, senantiasa melakukan promotif dan preventif untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit kardiovaskular ini,” kata Jamaluddin.
Dalam rangkaian peringatan Hari Jantung Sedunia tahun ini, PERKI Sultra telah menggelar sejumlah kegiatan. Di antaranya berpartisipasi dalam Kendari Marathon pada Agustus lalu, memberikan edukasi melalui RRI dan TVRI, serta menggelar pelatihan bantuan hidup dasar bagi pelajar.
Pelatihan tersebut menyasar siswa SMA Negeri 4 Kendari, SMA Negeri 1 Kendari dan santri Pesantren Ummusshabri.
Jamaluddin menjelaskan, kemampuan memberikan bantuan hidup dasar penting dimiliki masyarakat karena kejadian henti jantung dapat terjadi kapan saja dan di mana saja.
“Bantuan hidup dasar itu wajib sebenarnya diketahui oleh seluruh masyarakat. Kejadian henti jantung itu bisa terjadi di mana pun, di rumah, di pasar, di pantai, dan di mana pun,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan Hari Jantung Sedunia tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Jalan sehat, senam dan berbagai kampanye kesehatan diharapkan menjadi pemicu agar olahraga dan perilaku hidup sehat berkembang menjadi budaya masyarakat.
“Kegiatan ini hanya sebagai kampanye hidup sehat, sehingga kita dapat hidup dengan jantung yang sehat,” katanya.
Penulis: Sumarlin





