Penulis : Redaksi

KENDARI, MITRANUSANTARA.id – Istilah jambore begitu lekat dengan dunia Pramuka. Setiap kali mendengar kata itu, yang terbayang adalah keceriaan, semangat kebersamaan, dan hiruk pikuk tenda-tenda perkemahan yang penuh kegiatan. Namun, tahukah Anda bahwa kata “jambore” memiliki sejarah panjang dan makna mendalam yang mencerminkan semangat persaudaraan global?

Secara etimologis, kata jambore berasal dari bahasa Inggris jamboree, yang berarti “perayaan besar” atau “pesta besar”. Istilah ini dipopulerkan oleh Lord Robert Baden-Powell, pendiri Gerakan Kepanduan Dunia, pada tahun 1920. Ia menggunakan kata tersebut untuk menamai pertemuan besar pertama para Pramuka dari berbagai negara, sebuah momentum bersejarah yang menandai dimulainya tradisi Jambore Dunia.

Ketika ditanya alasan memilih istilah itu, Baden-Powell hanya menjawab singkat namun bermakna: “Apa lagi yang akan Anda sebut?”, sebuah pernyataan yang menunjukkan bahwa “jambore” memang diciptakan untuk menggambarkan kegembiraan, persahabatan, dan semangat kebersamaan tanpa batas.

Menariknya, ada teori lain tentang asal kata jambore. Salah satunya menyebut bahwa kata ini berasal dari bahasa Swahili, yaitu “jambo” yang berarti “halo” atau “salam perkenalan”. Ada pula pendapat yang menautkannya pada kata “corroboree”, istilah dari suku Aborigin Australia untuk menggambarkan perkumpulan besar yang meriah dan penuh musik di malam hari.

Baca Juga  Dihadapan Ribuan Masyarakat Kolaka, ASR-HUGUA Minta Doa Restu

Dalam konteks Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan jambore sebagai pertemuan besar para Pramuka. Definisi ini juga sejalan dengan panduan resmi Gerakan Pramuka, yang menyebut jambore sebagai ajang pertemuan bagi Pramuka Penggalang dalam bentuk perkemahan besar yang diselenggarakan oleh kwartir, mulai dari tingkat ranting, cabang, daerah, nasional, hingga dunia.

Secara umum, jambore bukan sekadar kegiatan perkemahan. Ia adalah wadah pembinaan karakter, tempat tumbuhnya semangat gotong royong, kemandirian, dan kepemimpinan muda. Setiap pelaksanaannya menjadi simbol kebersamaan, tempat di mana ribuan peserta datang membawa perbedaan namun pulang dengan satu rasa: “Satu Dunia, Satu Pramuka.”

Makna Tema Jamda Sultra ke-X Tahun 2025: “Gembira, Berdaya, Berbudaya”

Semangat inilah yang kembali dihidupkan dalam Jambore Daerah (Jamda) Pramuka Sulawesi Tenggara ke-X Tahun 2025, yang mengusung tema “Gembira, Berdaya, Berbudaya.”
Tema ini menjadi simbol semangat baru Gerakan Pramuka Sultra dalam membentuk generasi muda yang ceria, mandiri, dan berkarakter.

Menurut Wakil Ketua Bidang Pembinaan Anggota Pramuka Muda, Abdul Qadir, menyebut tema tersebut dirancang dengan makna yang dalam dan selaras dengan nilai-nilai kepramukaan.

Baca Juga  Gerakan Pangan Murah Serentak di 8 Daerah Sultra, Kendari Catat Inflasi Terendah

“Gembira menggambarkan semangat ceria dan kebersamaan dalam setiap kegiatan. Berdaya berarti peserta memiliki kemampuan, keterampilan, dan kemandirian untuk berkarya. Sedangkan Berbudaya menegaskan bahwa Pramuka Sultra harus menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, sopan santun, dan kearifan lokal daerahnya,” jelas Abdul Qadir.

Ketua panitia dalam ajang lima tahunan ini, menambahkan, Jamda Sultra ke-X tahun 2025 bukan hanya ajang perkemahan besar, tetapi juga ruang pembelajaran sosial, budaya, dan kepemimpinan.

“Kami ingin Jamda ini menjadi wadah tumbuhnya semangat Pramuka yang kreatif, inovatif, namun tetap berakar pada budaya daerah. Dengan semangat ‘Gembira, Berdaya, Berbudaya’, kita harapkan lahir generasi muda yang siap menghadapi tantangan zaman dengan karakter kuat dan beretika,” tambahnya.

Jambore Sebagai Cerminan Pramuka Modern

Lebih dari sekadar perkemahan, Jamda Sultra ke-X Tahun 2025 juga menjadi bukti bahwa Gerakan Pramuka terus beradaptasi di era digital.
Melalui inovasi seperti aplikasi Ayo Pramuka dan KTA Nasional berbasis digital, kegiatan ini menampilkan wajah baru Pramuka yang modern, transparan, dan profesional, tanpa meninggalkan nilai-nilai kepramukaan yang luhur.

Baca Juga  Majukan Sektor Pariwisata, ASR-HUGUA Paparkan Program 'Satria Kepulauan' di Mawasangka

“Transformasi digital dalam kegiatan kepramukaan adalah langkah maju. Ini menandakan bahwa Pramuka tetap relevan dan mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri,” ujar Abdul Qadir menegaskan.

Mantan peserta Jambore Nasional tahun 1991 ini berharap, Jamda Sultra 2025 menjadi perayaan besar kebersamaan dan pengabdian, sebagaimana makna awal jambore yang diperkenalkan oleh Baden-Powell lebih dari seabad lalu.

“Sebuah pertemuan yang mempersatukan, membangun persaudaraan, dan menyalakan semangat muda dalam satu api perjuangan Pramuka Indonesia,” pungkas Purna Ketua DKD Sultra ini.

Laporan: Novrizal R Topa

Visited 90 times, 1 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow