Penulis : Redaksi


Oleh: Amrullah Andi Faisal, Ketua Tim Pelaksana SE26 BPS Sinjai

Pembangunan ekonomi tanpa data, ibarat navigasi tiada peta. Suatu daerah mungkin terus bergerak, tetapi tidak pernah benar-benar tahu ke mana arah yang dituju. Dalam konteks itulah Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) yang akan dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi sangat krusial, terutama bagi Kawasan Timur Indonesia (KTI) seperti Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Kabupaten Sinjai.


Dalam beberapa tahun terakhir, strategi pembangunan nasional mulai menunjukkan pergeseran orientasi yang nyata. Jika sebelumnya pertumbuhan ekonomi sangat terpusat di wilayah barat, kini penguatan ekonomi kawasan timur melalui masifnya infrastruktur dan integrasi logistik nasional, mulai membuahkan hasil yang terukur dalam angka statistik.

Potret Mutakhir Sulsel
Provinsi ini tetap mengukuhkan posisinya sebagai simpul utama ekonomi KTI. Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis BPS pada Februari 2026, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulsel sepanjang tahun 2025 menunjukkan performa yang resilien. Angka PDRB atas dasar harga berlaku senilai Rp753,08 triliun dengan laju pertumbuhan ekonomi yang stabil di 5,43 persen secara tahunan. Sebagai hub logistik laut dan pusat distribusi timur–barat, Sulawesi Selatan, termasuk Sinjai, menjadi magnet investasi regional yang strategis bagi Indonesia Timur.

Baca Juga  Tantangan Investasi Kelapa Sawit di Muna: Peluang Ekonomi atau Jual Beli Lahan?


Data terbaru ini menegaskan Sulsel bukan sekadar pendukung, melainkan motor penggerak utama di timur. Struktur ekonominya pun semakin modern. Meski sektor pertanian tetap dominan (23,01%), sektor penyediaan akomodasi makan dan minum, serta sektor jasa lainnya terus merangkak naik. Hal ini menunjukkan fase transisi menuju diversifikasi ekonomi yang lebih tangguh.


Namun, kekuatan regional ini tidak hanya bertumpu pada Makassar. Kabupaten penyangga seperti Sinjai memainkan peran vital dalam rantai pasok daerah. Berdasarkan data BPS Kabupaten Sinjai yang baru saja dirilis awal 2026, perekonomian Sinjai tahun 2025 mencatat angka PDRB sekitar Rp17.618,20 miliar atas harga berlaku. Pertumbuhan ekonomi mencapai 6,05 persen, yang melampaui Sulsel.


Menariknya, meskipun 45 persen ekonomi Sinjai masih ditopang sektor primer (pertanian dan perikanan), terdapat geliat signifikan pada sektor perdagangan eceran dan konstruksi. Fenomena ini mencerminkan karakter umum daerah di KTI. Basis agraris yang mulai bersentuhan dengan modernisasi pasar.

Hubungan Sulsel/Sinjai dengan Investasi Nasional
Peran strategis Sulsel dan Sinjai tidak hanya regional. Dengan konektivitas pelabuhan laut yang meningkat dan posisi logistik yang menempel pada jalur ekspor utama, kedua wilayah ini menjadi salah satu pintu masuk utama investasi nasional jangka menengah, termasuk program pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan integrasi kawasan industri timur. Infrastruktur logistik, pelabuhan dan transportasi yang semakin modern menjadikan Sulsel dan Sinjai sebagai sentra ekspor dan distribusi yang berpotensi menarik investasi sektor industri, perdagangan, dan jasa berskala nasional.

Baca Juga  Sampah Plastik di Pesta Demokrasi: Jejak Buruk di Balik Gemerlap Kampanye

Urgensi SE2026: Memotret “Ekonomi Hantu”
Masalahnya, meski angka makro terlihat impresif, potret ekonomi mikro seringkali masih berkabut. Di tingkat daerah, banyak aktivitas ekonomi masyarakat (mulai dari UMKM rumahan, perdagangan informal, hingga bisnis berbasis platform digital) belum tercatat sepenuhnya dalam basis data formal. Inilah yang sering disebut sebagai ekonomi bayangan atau potensi ekonomi yang belum terpetakan.


Tanpa data detail hasil SE2026 nanti, kebijakan pemerintah daerah berisiko tidak tepat sasaran. Program penguatan UMKM atau strategi investasi hanya akan menjadi tebakan jika kita tidak tahu pasti berapa jumlah unit usaha yang sebenarnya dan bagaimana pola penyerapan tenaga kerjanya.


Bagi dunia usaha, ketersediaan data hasil sensus adalah kompas investasi. Investor membutuhkan kepastian mengenai potensi pasar dan dinamika sektor usaha di daerah. Daerah yang memiliki transparansi data statistik yang komprehensif, seperti yang diharapkan dari hasil SE2026, tentu akan memiliki daya saing jauh lebih tinggi untuk menarik modal.

Penutup
Keberhasilan Sensus Ekonomi 2026 bukan hanya tanggung jawab BPS, melainkan taruhan kolektif. Keterbukaan pelaku usaha dalam memberikan informasi kepada petugas adalah kunci kualitas data.
Bagi Sulsel dan Kabupaten Sinjai, hasil sensus ini nantinya akan menjadi fondasi untuk memperkuat posisi dalam peta ekonomi nasional. Di era ekonomi modern, daerah yang memegang data paling akurat adalah daerah yang memiliki peluang paling besar untuk tumbuh lebih cepat dan tepat.

Baca Juga  Calon Pemimpin dan Pemimpi: Menakar Kualitas dalam Pilihan Politik yang Bijak

Referensi
Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan, Berita Resmi Statistik Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan 2025, Februari 2026.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Sinjai, Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Sinjai 2025, rilis Februari 2026.

Kementerian Koperasi dan UKM RI, Statistik UMKM Nasional.

Visited 1 times, 1 visit(s) today
WhatsApp Follow WhatsApp Channel MITRANUSANTARA.ID untuk update berita terbaru setiap hari Follow