KOLAKA, MITRANUSANTARA.ID– PT Vale Indonesia Tbk mencatatkan penjualan perdana bijih nikel dari Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa pada 1 Maret 2026. Capaian ini menandai transisi penting proyek dari tahap konstruksi menuju fase operasional yang mulai menghasilkan pendapatan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis.
Langkah tersebut bukan sekadar milestone produksi. Penjualan awal ini menjadi bagian dari strategi project de-risking, validasi kesiapan sistem produksi, serta penguatan fondasi pertumbuhan jangka panjang perseroan.
IGP Pomalaa merupakan proyek terintegrasi dengan nilai investasi sekitar Rp74,44 triliun. Proyek ini dirancang untuk mendukung agenda hilirisasi nasional melalui integrasi kegiatan pertambangan dan pengolahan nikel di dalam negeri, sehingga menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi ekonomi domestik.
Nikel sendiri menjadi komponen kunci dalam baterai lithium-ion, khususnya untuk katoda berkadar nikel tinggi yang digunakan pada kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi. Di tengah percepatan transisi energi global, permintaan nikel diproyeksikan terus meningkat dalam dekade mendatang. Indonesia, sebagai salah satu pemilik cadangan nikel terbesar dunia, memegang peran strategis dalam ekosistem tersebut.
Penjualan perdana IGP Pomalaa dimungkinkan melalui aktivasi area oresell di Pit PB5 dan Pit PB1. Kedua pit ini memiliki kapasitas penampungan hingga 4 juta wet metric ton (Mwmt) bijih limonit, memberikan fleksibilitas inventori sekaligus menjamin keberlanjutan suplai menuju fasilitas pengolahan di Pomalaa.
Director and Chief Project Officer PT Vale Indonesia Tbk, Muhammad Asril, menyampaikan bahwa pengoperasian area tersebut menjadi langkah penting menjaga ritme produksi.
“Peresmian area oresell di Pit PB5 dan PB1 merupakan langkah strategis untuk menjaga ritme produksi dan memastikan distribusi material berjalan optimal. Dengan dukungan infrastruktur yang terus kami percepat, kami memastikan pencapaian target IGP Pomalaa tetap sejalan dengan prinsip operational excellence dan praktik pertambangan berkelanjutan,” ujarnya.
Memasuki Maret 2026, IGP Pomalaa menargetkan produksi 300.000 ton limonit per bulan atau sekitar 9.677 ton per hari. Strategi ramp-up dilakukan secara bertahap dan disiplin guna memastikan stabilitas operasional serta optimalisasi kapasitas produksi. Dengan kapasitas stockpile mencapai 4 Mwmt, proyek ini memiliki inventory buffer yang cukup untuk menjaga konsistensi suplai dan meminimalkan risiko gangguan operasional di tengah volatilitas pasar komoditas.
Dari sisi pembangunan infrastruktur, progres konstruksi IGP Pomalaa hingga Januari 2026 telah mencapai 65,76 persen. Sementara pembangunan Main Haul Road (MHR) menuju stockpile telah mencapai 40 persen. Jalur ini menjadi tulang punggung distribusi material dari tambang ke fasilitas pengolahan dan pelabuhan, sehingga berperan penting dalam meningkatkan produktivitas hauling serta menekan potensi bottleneck logistik.
Perkembangan tersebut memperkuat profil efisiensi modal proyek dan meningkatkan visibilitas arus kas jangka menengah maupun panjang. Sejalan dengan strategi hilirisasi nasional, proyek ini diharapkan mendorong penguatan industri nikel terintegrasi dari hulu ke hilir.
Sebagai bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), PT Vale menegaskan komitmennya untuk menghadirkan industri nikel yang kompetitif, terintegrasi, dan berkelanjutan, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan.
Penulis: Sumarlin


